Kasus dugaan pencurian kripto yang menimpa pengguna hardware wallet Ledger memasuki babak baru. Investigasi on-chain menemukan adanya 41 aktivitas uji coba pada jaringan TRON dan Ethereum sebelum pengurasan aset berlangsung pada Jumat (9/10/2026).
Temuan tersebut menambah dimensi baru dalam penyelidikan kehilangan dana pengguna Ledger yang membeli perangkat melalui reseller CryptoBilis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia dan Filipina.
Berdasarkan investigasi terbaru Bitquery yang diterbitkan pada Jumat (9/10/2026), aktivitas mencurigakan tersebut berlangsung selama hampir dua pekan, sebelum sejumlah dompet pada lima jaringan blockchain mengalami perpindahan aset secara terkoordinasi.
Perusahaan analitik blockchain itu memperkirakan total aset yang terkuras mencapai US$92,9 juta dari 311 alamat dompet unik. Angka tersebut melampaui estimasi awal sekitar US$86 juta yang sebelumnya beredar di kalangan peneliti keamanan kripto.
Namun, estimasi Bitquery belum dikonfirmasi secara resmi oleh Ledger. Jumlah alamat yang teridentifikasi juga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah korban individu, karena satu pengguna dapat memiliki beberapa dompet.
Jejak 41 Uji Coba Sebelum Pengurasan Kripto Ledger
Penelusuran Bitquery menemukan bahwa infrastruktur transaksi yang dikaitkan dengan dugaan pelaku mulai terbentuk pada 24–25 September 2026.
Pada 24 September, terdapat penarikan 14.512 TRX dari Bybit menuju sebuah alamat yang kemudian mendanai alamat operasional di jaringan TRON.
Sehari kemudian, dua alamat yang dikaitkan dengan operasi pengurasan dana di Ethereum dan TRON menerima pendanaan awal dengan selisih waktu sekitar tiga menit.
Temuan ini tidak dengan sendirinya menunjukkan keterlibatan Bybit dalam insiden tersebut. Transaksi itu digunakan Bitquery untuk menelusuri asal pendanaan infrastruktur yang diduga dipakai pelaku.
Mulai 26 September hingga 7 Oktober, kedua alamat itu menunjukkan pola aktivitas yang berulang.
Pada TRON, Bitquery mengidentifikasi 21 siklus uji coba, sementara Ethereum mencatat 20 siklus serupa.
Dalam setiap pengujian, sejumlah kecil aset dikirimkan ke dompet tertentu bersama token yang diperlukan untuk membayar biaya jaringan. Dompet tersebut kemudian memberikan persetujuan transaksi sebelum aset ditarik kembali.
Pola ini menyerupai simulasi mekanisme pemindahan aset yang nantinya terlihat dalam operasi pengurasan dana berskala besar.
Salah satu temuan yang paling menarik terjadi pada 2 Oktober. Ketika itu, sebuah pengujian senilai sekitar US$3 diarahkan menuju alamat yang kemudian menerima US$36 juta pada hari pengurasan.
Hubungan tersebut memperkuat dugaan bahwa alamat tujuan dan mekanisme pemindahan aset telah dipersiapkan beberapa hari sebelum insiden utama.
Aktivitas pengujian terakhir terdeteksi pada 7 Oktober, dengan dua transaksi uji coba yang berlangsung hanya berselang 23 detik.
Dua hari kemudian, pada 9 Oktober sekitar pukul 12.07 WIB, aktivitas dalam skala jauh lebih besar mulai terlihat.
Sebanyak 25 dompet TRON tercatat memberikan persetujuan kepada alamat yang sama dalam rentang sekitar tiga detik. Hanya beberapa detik setelahnya, sekitar US$29 juta USDT telah ditarik dari dompet-dompet tersebut.
Pengurasan tidak berhenti pada satu jaringan.
Dalam rentang sekitar 47 menit sejak aktivitas awal, transaksi serupa terdeteksi di Ethereum, BNB Chain, Polygon dan Bitcoin.
Pada jaringan Bitcoin, sebanyak 111 dompet tercatat mengalami pemindahan aset dalam satu blok sekitar pukul 12.54 WIB, melibatkan kurang lebih 203 BTC.
Keseragaman waktu dan mekanisme transaksi membuat Bitquery menduga adanya satu pihak yang telah memperoleh kemampuan mengendalikan penandatanganan transaksi dari banyak dompet.
Meski demikian, data blockchain belum dapat memastikan bagaimana akses tersebut diperoleh, termasuk apakah berasal dari kebocoran recovery phrase, manipulasi perangkat, atau metode kompromi lainnya.
Dana Berpindah Lintas Blockchain, Keamanan Ledger Jadi Sorotan
Investigasi yang sama menunjukkan bahwa TRON menjadi jaringan dengan nilai kerugian terbesar, yakni sekitar US$70,5 juta, disusul Bitcoin sekitar US$16,8 juta.
Sementara itu, Ethereum, BNB Chain dan Polygon menyumbang bagian lain dari total kerugian yang diperkirakan mencapai US$92,9 juta.
Setelah aset terkuras, sebagian dana diduga segera dipindahkan melalui berbagai layanan pertukaran dan jembatan lintas blockchain.
Sekitar 20 juta USDT dilacak berpindah menuju Ethereum melalui USDT0, sedangkan sebagian dana lainnya dikonversi menjadi USDD.
Pergerakan ini memiliki implikasi penting bagi upaya pemulihan aset. Berbeda dari USDT yang dapat dibekukan oleh penerbitnya, USDD berada di luar kendali pembekuan Tether.
Bitquery mencatat bahwa Tether telah memblokir sejumlah alamat yang berkaitan dengan dugaan pencurian. Sebanyak 20 alamat di antaranya masih menyimpan total sekitar US$10 juta USDT yang dibekukan.
Namun, pembekuan tersebut belum berarti dana telah dikembalikan kepada korban.
Penelusuran juga menemukan perpindahan sekitar 1.254 ETH menuju Tornado Cash dalam tiga kelompok transaksi pada malam 9 Oktober waktu Indonesia.
Layanan tersebut memungkinkan aset diproses melalui mekanisme yang mempersulit penelusuran hubungan langsung antara alamat pengirim dan penerima.
Di tengah temuan tersebut, Ledger melalui akun dukungan resminya menyatakan tengah menyelidiki laporan kehilangan dana pengguna yang membeli perangkat dari CryptoBilis.
Perusahaan juga meminta reseller tersebut menghentikan sementara seluruh penjualan dan pengiriman perangkat Ledger selama investigasi berlangsung.
Pengguna yang membeli perangkat dalam 90 hari terakhir dan belum mengaktifkannya disarankan menunda proses pengaturan. Sementara pengguna yang telah mengaktifkan perangkat diminta mempertimbangkan pemindahan aset ke perangkat Ledger baru dengan recovery phrase yang benar-benar baru.
Kasus ini turut menyoroti batas perlindungan pada hardware wallet.
Dalam dokumentasi keamanan resmi Ledger Donjon, dijelaskan bahwa pemeriksaan Genuine Check memang dapat memverifikasi keaslian Secure Element, tetapi tidak mampu mendeteksi seluruh bentuk modifikasi fisik apabila komponen keamanan aslinya tetap utuh.
Artinya, perangkat yang lolos pemeriksaan keaslian belum tentu memiliki riwayat distribusi fisik yang sepenuhnya dapat diverifikasi.
Meski begitu, keterbatasan teknis tersebut bukan bukti bahwa perangkat yang dijual CryptoBilis telah dimodifikasi atau menjadi penyebab langsung kehilangan dana.
Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi mengenai metode pencurian maupun pihak yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, temuan 41 aktivitas uji coba selama hampir dua pekan menjadi petunjuk penting dalam rekonstruksi kejadian, tetapi penyebab hilangnya akses keamanan pengguna Ledger masih menunggu hasil investigasi lebih lanjut.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


