Kasus Timothy Ronald Dikupas di Podcast Denny Sumargo, Korban Buka Suara

Kasus Timothy Ronald kembali menjadi sorotan publik setelah dua mantan anggota Akademi Crypto, Younger dan Said, membeberkan pengalaman mereka dalam podcast YouTube bersama Denny Sumargo.

Dalam tayangan tersebut, keduanya mengaku mengalami kerugian finansial besar serta tidak menerima layanan sesuai dengan yang dijanjikan saat mendaftar kelas kripto besutan Timothy Ronald dan Kalimasada.

Younger mengklaim total kerugiannya mencapai sekitar Rp3 miliar, sementara Said menyebut mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Mereka menyatakan bahwa janji layanan, termasuk akses konsultasi langsung, coaching dan bimbingan intensif, tidak sepenuhnya terealisasi.

Selain itu, mereka juga mengungkap adanya tekanan sosial dan intimidasi terhadap anggota yang mempertanyakan hasil rekomendasi atau meminta kejelasan kredensial pengajar.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Dalam podcast tersebut, Denny Sumargo menghadirkan pula Pendiri dan CEO PT Astronacci International, Gema Goeyardi, untuk memberikan perspektif dari sisi edukasi finansial, etika dan tanggung jawab penyedia jasa.

Sebelumnya, redaksi melaporkan bahwa Younger, yang telah menjalani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dalam kasus ini, mengaku tertarik bergabung ke Akademi Crypto karena terpengaruh citra kemewahan yang ditampilkan Timothy Ronald di media sosial.

“Nah saya melihat dia dari Instagram. Dari cara dia flexing segala macam, kaya dari kripto cepat, terus bisa beli mobil mewah dalam usia muda. Nah itu saya tergiur,” ujar Younger di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (13/01/2026).

Dorongan tersebut menjadi titik awal Younger mendaftar ke Akademi Crypto yang dikaitkan dengan Timothy Ronald dan Kalimasada.

Korban Akademi Crypto Mengaku Rugi Miliaran Rupiah

Dalam podcast tersebut, Younger menjelaskan bahwa ia bergabung pada 2024 dan membayar sekitar Rp19 juta untuk paket akses satu tahun. Ia kemudian meng-upgrade ke paket “seumur hidup” dengan tambahan sekitar Rp29 juta.

BACA JUGA:  Kongsi Skyholic Goyah? Adam Deni Putar Haluan di Kasus Timothy

Total dana yang ia keluarkan mendekati Rp50 juta, dengan ekspektasi mendapatkan akses konsultasi langsung dan pendampingan intensif.

Namun, menurut Younger, akses yang dijanjikan tidak berjalan sesuai harapan. Ia menyebut interaksi hanya berlangsung melalui Discord dan materi online, sementara konsultasi langsung yang dijanjikan tidak pernah benar-benar terwujud.

“Harusnya bisa curhat, bisa tanya solusi kalau lagi rugi. Tapi itu enggak bisa,” ungkap Younger dalam podcast.

Ia juga menyebut sempat terjadi penutupan kanal diskusi umum setelah banyak anggota mengeluhkan kerugian. Akibatnya, para member tidak bisa lagi menyampaikan pertanyaan atau keluhan secara terbuka.

Younger mengaku kerugian terbesarnya berasal dari investasi di altcoin MANTA. Ia menyebut nilai kerugiannya mencapai sekitar Rp3 miliar, hanya dari satu aset kripto tersebut.

Said, yang juga hadir dalam podcast, mengungkapkan pengalaman serupa. Ia mengaku membayar biaya keanggotaan dengan nominal yang hampir sama dan berharap mendapat bimbingan langsung. Namun, ia menilai layanan yang diterima tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Dokumen Proyeksi dan Klaim Keuntungan Tinggi

Younger juga mengungkap bahwa setelah bergabung, ia menerima dokumen PDF yang berisi proyeksi keuntungan tinggi. Dokumen tersebut, menurutnya, menjadi pembenaran bahwa keputusan berinvestasi di altcoin tertentu sudah berada di jalur yang benar.

“Beli koin apa pun bisa untung. Dan saya kena-nya tuh di ‘Koin Manta’ ini. Dan ada indikasi. Dia kasih dokumen PDF itu, menjanjikan profit 300 sampai 500 persen,” ujar Younger dalam kesempatan berbeda.

Namun, redaksi sebelumnya menyoroti fakta bahwa Timothy Ronald melalui postingan Discord justru merekomendasikan alokasi altcoin MANTA hanya di kisaran 1 persen hingga maksimal 2,5 persen dari total portofolio.

BACA JUGA:  Korban Akademi Crypto Datangi OJK, Desak Usut Timothy Ronald

Kesaksian Younger menunjukkan bahwa ia menempatkan porsi dana jauh lebih besar pada MANTA, sehingga kerugian yang dialami menjadi signifikan. Hal ini memunculkan dugaan bahwa faktor Fear of Missing Out (FOMO) turut berperan dalam keputusan investasi para korban dalam kasus Timothy Ronald.

Dalam podcast tersebut, Younger mengakui bahwa ia mengikuti arahan mentor tanpa menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

“Saya ikut arahan guru saja, disuruh beli, disuruh hold,” ujarnya.

Gema Goeyardi menilai, dari sisi layanan jasa, persoalan yang lebih mudah dibuktikan adalah soal deliverables yang tidak terpenuhi, bukan semata kerugian investasi.

“Kalau sudah bayar, tapi haknya tidak didapat, itu problem. Terlepas dari untung rugi,” ujar Gema.

Dugaan Intimidasi dan Tekanan Sosial

Selain kerugian finansial, Younger dan Said juga mengungkap adanya tekanan terhadap member Akademi Crypto yang menyuarakan keluhan. Younger mengaku awalnya takut melapor karena mendengar ancaman dalam siaran langsung yang menyasar pihak-pihak yang mengkritik.

“Karena banyak pengancaman, Bang,” ungkap Younger.

Ia menyebut ancaman itu tidak selalu ditujukan secara personal, tetapi cukup membuat para anggota enggan bersuara. Sementara itu, Said mengaku menerima pesan bernada menyalahkan korban dari buzzer di media sosial.

Gema Goeyardi mengingatkan bahwa membawa kasus Timothy Ronald ke ranah pidana tidak menjamin pengembalian dana. Ia menyebut, dalam banyak kasus, proses hukum justru panjang dan melelahkan bagi korban.

“Kalau sudah pidana, hampir mustahil uang kembali,” ujarnya.

Namun, ia menilai penyelesaian secara restoratif, seperti permintaan maaf dan pengembalian sebagian dana, bisa meredakan konflik sosial dan mencegah korban baru.

Tanggapan Keluarga dan Faktor FOMO

Kerugian finansial yang dialami Younger juga berdampak pada kehidupan pribadinya. Ia mengaku menyembunyikan aktivitas investasinya dari keluarga hingga akhirnya masalah ini terungkap.

BACA JUGA:  HYPE Meledak di Tengah Konflik Iran, Hyperliquid Tersokong Aksi Ini

“Istri saya marah dan enggak percaya lagi sama saya sampai sekarang,” ujarnya.

Di sisi lain, anak Purbaya Yudo Sadewa turut menanggapi kasus menyeret Timothy Ronald. Kamis (15/1/2026), melalui akun sosial medianya, Yudo menilai FOMO menjadi faktor utama yang membuat banyak mantan anggota Akademi Crypto rungkad.

“Muridnya FOMO. Mungkin tanpa Timothy pun mereka akan tetap rugi. Kenapa? Karena mereka tidak mau belajar, maunya hanya mencari call saja. Padahal produk utama Akademi Crypto adalah video edukasi,” ungkap Yudo.

Ia menyebut sebagian peserta diduga salah memahami konsep kelas edukasi yang sebenarnya dirancang sebagai sarana belajar, bukan sebagai layanan pemberi sinyal investasi instan.

Dalam konteks ini, Gema Goeyardi pun menegaskan bahwa sertifikasi dan etika dalam edukasi finansial tetap penting, bukan sebagai jaminan keuntungan, tetapi sebagai standar untuk mencegah penyalahgunaan kepercayaan publik.

Kasus Timothy Ronald kini masih menjadi perhatian publik, terutama terkait dugaan ketidaksesuaian layanan, klaim keuntungan tinggi, serta dampak sosial terhadap para peserta. Para korban berharap ada kejelasan, pertanggungjawaban dan tidak muncul korban baru di masa depan.

“Penginnya dia gentleman lah. Minta maaf,” ujar Younger.

Ia juga mengajak korban lain untuk berani melapor dan tidak takut diintimidasi. Dengan terus bergulirnya kasus Timothy Ronald, publik menunggu langkah hukum selanjutnya serta respons resmi dari pihak-pihak terkait.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait