Niat pamer kinerja berujung petaka. Itulah yang terjadi pada otoritas pajak Korea Selatan setelah membuka celah fatal, sehingga aset kripto sitaan senilai US$4,8 juta atau sekitar Rp80 miliar lenyap dalam hitungan jam.
Mnemonic Dompet Kripto Sitaan Terekspos ke Publik
Dikutip dari laporan Maeil pada Jumat (27/02/2026), insiden ini bermula dari rilis resmi yang justru membocorkan kunci utama dompet kripto yang disita negara.
Kasus tersebut mencuat ketika National Tax Service (NTS) Korea Selatan mengumumkan hasil penggeledahan terhadap 124 penunggak pajak. Dalam rilis itu, mereka memamerkan aset hasil sitaan senilai 8,1 miliar won.
Salah satu yang disorot adalah “Case 3”, ketika petugas menemukan empat USB penyimpanan dompet kripto di laci rumah wajib pajak berinisial C. Perangkat tersebut diketahui merupakan hardware wallet merek Ledger.

Masalah muncul saat foto yang dibagikan ke publik memperlihatkan kertas berisi “mnemonic” atau recovery phrase tanpa sensor. Padahal, seed phrase adalah kombinasi kata yang menjadi kunci utama untuk memulihkan sekaligus mengakses dompet kripto.
Di dunia kripto, mnemonic setara dengan gabungan PIN, kata sandi, dan kartu keamanan bank sekaligus. Siapa pun yang mengetahuinya dapat mengakses serta memindahkan dana dari mana saja di dunia, bahkan tanpa memegang perangkat fisiknya.
4 Juta Token PRTG Raib dalam Sekejap
Celah itu rupanya langsung dimanfaatkan. Direktur Hansung University Blockchain Research Institute, Cho Jae-woo, mengungkapkan bahwa tak lama setelah mnemonic tersebar, 4 juta token PRTG di crypto wallet tersebut berpindah ke alamat tak dikenal.
Nilai kerugiannya diperkirakan mencapai 6,4 miliar won atau sekitar US$4,8 juta. Data on-chain di Etherscan menunjukkan pelaku lebih dulu mengirim sejumlah Ethereum untuk membayar biaya transaksi, kemudian memindahkan 4 juta PRTG dalam tiga tahap.

Aksi ini mencerminkan perencanaan yang rapi sekaligus eksekusi yang cepat. Begitu kunci tersedia di ruang publik, dompet itu praktis berubah menjadi “brankas terbuka”.
Insiden ini pun menjadi sorotan karena memperlihatkan minimnya pemahaman dasar soal pengelolaan aset kripto di lembaga negara.
“Jika mereka menyita aset virtual, lalu mengungkap mnemonic terpenting dalam siaran pers yang bisa dilihat seluruh negeri, itu seperti mengiklankan untuk membuka dompet dan mengambil uang,” ujarnya.
Kritik senada disampaikan oleh Profesor Hwang Seok-jin dari Dongguk University. Dalam wawancara telepon, ia menegaskan bahwa mnemonic phrase bersifat sangat sensitif, sehingga memotretnya atau menyimpannya di cloud merupakan kesalahan fatal.
“Seperti dulu memotret kartu keamanan bank dan menyimpannya di komputer, memotret mnemonic lalu mempostingnya di web pada dasarnya sama dengan berkata, ‘Ambil semuanya’,” tuturnya.
Insiden ini menjadi tamparan keras bagi otoritas Korea Selatan. Di tengah upaya menunjukkan kinerja, kelalaian sederhana justru berujung pada kerugian besar. Di dunia kripto, satu kesalahan kecil saja bisa membuka pintu lebar bagi tindak kejahatan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



