Bitcoin (BTC) terus menarik perhatian sebagai aset alternatif yang semakin diadopsi dalam ekosistem keuangan global. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Simply Bitcoin, analis keuangan James Lavish membahas bagaimana perubahan struktural dalam sistem moneter bisa mendorong valuasi Bitcoin hingga US$40 triliun di masa depan.
Jika prediksi ini terjadi, BTC bukan hanya sekadar aset investasi tetapi juga entitas utama dalam lanskap keuangan global.
Adopsi Bitcoin: Dari US$2 Triliun ke US$40 Triliun?
Menurut Lavish, saat ini terdapat lebih dari US$600 triliun nilai aset di seluruh dunia. Jika hanya sebagian kecil dari total nilai tersebut dialokasikan ke BTC, nilainya bisa melonjak secara signifikan.
“Jika Anda tidak terus memperluas pasokan uang, Bitcoin kemungkinan akan terus diadopsi seperti ini,” ujar Lavish.
Ia menambahkan bahwa ketika semakin banyak investor dan institusi mulai mengalokasikan dana ke Bitcoin, harga aset ini bisa berlipat ganda dalam waktu singkat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perubahan struktural dalam sistem keuangan saat ini tidak dapat dihindari. Inflasi yang terus meningkat dan kebijakan ekspansi moneter dapat mendorong lebih banyak orang untuk mencari alternatif yang lebih stabil seperti BTC.
“Ketika model-model lama tidak lagi relevan, adopsi Bitcoin akan semakin kuat,” tambahnya.
Strategi Michael Saylor: Studi Kasus Keberhasilan
Nama Michael Saylor, sang Pendiri Strategy (sebelumnya MicroStrategy), menjadi sorotan dalam diskusi ini. Saylor dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling agresif dalam mengakuisisi Bitcoin sebagai bagian dari strategi perusahaannya.
Sejak 2020, MicroStrategy mulai membeli Bitcoin dalam jumlah besar dan memanfaatkan strategi capital market arbitrage, yakni menggunakan leverage dan obligasi konversi dengan bunga rendah untuk terus menambah kepemilikan Bitcoin mereka.
“Dia memulai dengan US$500 juta di neraca keuangan perusahaannya dan mulai membeli Bitcoin,” ujar Lavish.
Dengan strategi ini, Strategy kini memiliki lebih dari 3 persen dari seluruh BTC yang beredar. Bahkan, valuasi perusahaannya melonjak dari US$1 miliar menjadi lebih dari US$100 miliar dalam beberapa tahun.
Banyak yang mempertanyakan bagaimana MicroStrategy bisa mengungguli perusahaan raksasa teknologi seperti NVIDIA dalam hal pertumbuhan. Menurut Lavish, jawabannya terletak pada cara Saylor menggunakan strategi pasar modal yang memungkinkan perusahaannya mendapatkan BTC dengan risiko yang terkendali.
Bitcoin dan Masa Depan Sistem Keuangan
Jika tren ini terus berlanjut, Lavish memprediksi bahwa Bitcoin bisa menjadi aset dominan dalam sistem keuangan global, bahkan berpotensi menyaingi institusi besar seperti JPMorgan.
“Ketika Anda memiliki banyak cadangan emas, Anda bisa menentukan aturan. Hal yang sama berlaku untuk Bitcoin,” ungkapnya.
Dengan kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar, MicroStrategy bisa bertransformasi menjadi pusat layanan keuangan yang berpengaruh.
Lebih jauh, Lavish juga menyoroti bagaimana perusahaan-perusahaan lain mulai mengikuti langkah Saylor. Sebuah perusahaan di Jepang yang awalnya tidak terkait dengan industri teknologi berhasil mencetak kenaikan harga saham hingga 408 persen hanya dalam waktu satu tahun setelah mengadopsi strategi serupa.
Dengan semakin banyaknya institusi yang mengalokasikan dana ke BTC, tidak menutup kemungkinan bahwa aset ini akan terus berkembang hingga mencapai valuasi US$40 triliun.
Meski perjalanan menuju angka tersebut masih panjang, tren yang ada saat ini menunjukkan bahwa Bitcoin semakin mendapatkan tempat dalam sistem keuangan global.
Satu hal yang pasti, adopsi Bitcoin bukan lagi sekadar spekulasi, tetapi telah menjadi bagian dari strategi keuangan berbagai perusahaan besar di dunia. [st]