Kenalan dengan Lazarus Group, Hacker yang Diduga Retas Bitget

Peretasan Bitget yang menguras ratusan juta dolar ternyata membuka cerita yang lebih besar. Di balik dana yang hilang, satu nama lama kembali mencuat, yakni Lazarus Group, kelompok hacker asal Korea Utara yang berkali-kali dikaitkan dengan serangan besar di industri kripto.

Jejak Korea Utara Mulai Muncul dari Peretasan Bitget

Semua bermula pada Kamis (24/09/2026), ketika sistem keamanan Bitget mendeteksi transfer tidak sah dari sejumlah hot wallet dan warm wallet. Estimasi awal kerugian saat itu mencapai sekitar US$351,6 juta.

Angka ini kemudian direvisi menjadi sekitar US$387,5 juta setelah pelacakan memasukkan aset di jaringan Zcash dan TRON. Bitget menegaskan kenaikan itu bukan berasal dari serangan tambahan setelah insiden berhasil dikendalikan.

Babak Baru Peretasan Bitget: Kerugian Naik ke US$387,5 Juta, Dana Curian Mulai Berpindah

Penyelidikan kemudian bergerak ke arah yang sensitif. CEO Bitget, Gracy Chen, mengatakan pola serangan yang ditemukan memiliki kemiripan dengan operasi kelompok peretas yang sebelumnya dikaitkan dengan pemerintah Korea Utara.

“Berdasarkan perilaku IP dan jejak on-chain, serangan ini konsisten dengan teknik kelompok peretas yang terhubung dengan Korea Utara. Kami telah memberi tahu otoritas terkait dan bekerja sama sepenuhnya dengan mereka,” tuturnya di X, Jumat (25/09/2026).

BACA JUGA:  Babak Baru Peretasan Bitget: Kerugian Naik ke US$387,5 Juta, Dana Curian Mulai Berpindah

Siapa Sebenarnya Lazarus Group?

Nama Lazarus Group sebenarnya sudah muncul jauh sebelum industri kripto menjadi sasaran empuk para peretas. Departemen Keuangan AS menyebut kelompok ini dibentuk pemerintah Korea Utara setidaknya sejak 2007.

Lazarus disebut beroperasi di bawah 110th Research Center, 3rd Bureau dari Reconnaissance General Bureau atau RGB. Lembaga tersebut merupakan badan intelijen utama Korea Utara yang juga membawahi operasi siber negara itu.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Jejaknya kemudian membuat pemerintah AS mengambil tindakan. Pada September 2019, Washington menjatuhkan sanksi terhadap Lazarus Group bersama Bluenoroff dan Andariel yang dinilai memiliki hubungan dengan pemerintah Korea Utara.

Menariknya, kripto bukanlah sasaran pertamanya. Jauh sebelumnya, Lazarus telah dikaitkan dengan peretasan Sony Pictures pada 2014, pencurian Bank Sentral Bangladesh pada 2016, hingga serangan ransomware WannaCry pada 2017.

Kripto Sudah Lama Jadi Ladang Buruan Lazarus

Saat industri kripto mulai tumbuh, sasaran Lazarus ikut bergeser. Ekosistem aset digital dengan likuiditas tinggi dan transaksi lintas negara menjadi medan baru yang cukup menggiurkan bagi kelompok tersebut.

BACA JUGA:  Harga XRP Punya Setup Baru, Analis Lihat Peluang Reli 160 Persen

Salah satu kasus paling besar muncul pada 2022. FBI mengonfirmasi Lazarus Group dan APT38 bertanggung jawab atas pencurian sekitar US$620 juta dari Ronin Bridge milik ekosistem Axie Infinity.

Aksi mereka belum berhenti. Lazarus kemudian dikaitkan dengan pencurian US$100 juta dari Harmony Horizon Bridge, disusul kasus Stake.com pada 2023 yang menyebabkan kerugian sekitar US$41 juta.

Rentetan itu berlanjut pada Februari 2025 ketika Bybit kehilangan US$1,5 miliar. FBI kemudian mengaitkan serangan tersebut dengan aktivitas TraderTraitor yang berhubungan dengan operasi siber Korea Utara.

FBI Rilis Bukti Keterlibatan Lazarus Group dalam Peretasan Bybit

Kasus Bybit semakin mempertegas posisi Lazarus sebagai salah satu ancaman terbesar di industri kripto. Polanya juga konsisten, mulai dari pencurian dana besar hingga pemindahan aset lintas jaringan untuk menyulitkan pelacakan.

Jejak Lazarus Mulai Terlihat dalam Peretasan Bitget

Kembali ke Bitget, sejumlah petunjuk memang membuat dugaan mengarah ke Korea Utara. Namun, sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari Bitget maupun penegak hukum yang menetapkan Lazarus sebagai pelaku.

BACA JUGA:  Bank Sentral Eropa Mulai Lirik RWA, Aset Tokenisasi Jadi Target Baru

Analisis yang dirilis Elliptic pada Jumat (25/09/2026) memperkuat dugaan tersebut setelah menemukan hubungan antara dana Bitget dan infrastruktur pencucian yang pernah digunakan dalam serangan beratribusi DPRK, termasuk peretasan Bybit pada 2025.

Pola pemindahan dananya juga terasa familier. Aset curian dengan cepat ditukar menjadi aset native masing-masing jaringan, sementara sebagian lainnya dipindahkan lintas blockchain untuk memperpanjang jalur dan menyulitkan proses pelacakan.

“Infrastruktur pencucian dana yang digunakan dalam berbagai insiden merupakan pola yang berulang dalam peretasan yang dikaitkan dengan Korea Utara. Para pelaku pencucian dana cenderung mengutamakan kecepatan dibandingkan disiplin operasional,” tutur mereka.

Dengan rangkaian petunjuk tersebut, nama Lazarus kembali masuk radar. Namun, identitas pelaku di balik peretasan Bitget masih menunggu konfirmasi resmi dari perusahaan maupun pihak berwenang yang terlibat dalam investigasi.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait