Kerontokan Harga Bitcoin Berikutnya Dibahas Analis: Demand di US$58,9 Ribu

Harga Bitcoin kembali berada dalam tekanan dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya aktivitas jual di pasar kripto global. Sejumlah analis menilai bahwa pelemahan ini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir dalam waktu dekat.

Salah satunya adalah analis teknikal BehDark, yang pada Kamis (5/2/2026) memproyeksikan potensi penurunan lanjutan menuju zona demand di kisaran US$58.900.

analisis harga BTC Behdark

Dalam analisis terbarunya, BehDark mengungkapkan bahwa pergerakan harga Bitcoin pada time frame tiga hari masih berada dalam fase bearish atau koreksi.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Ia menyebut bahwa target utama dari gelombang penurunan saat ini adalah area demand antara US$58.900-US$64.900, yang dinilai sebagai zona potensial masuknya minat beli.

Target di Zona Demand US$58.900

BehDark memfokuskan analisanya pada konsep supply dan demand dalam membaca pergerakan harga Bitcoin. Ia mengidentifikasi zona hijau di sekitar US$58.900 sebagai area demand utama yang berpotensi menahan penurunan. Menurutnya, area tersebut merupakan wilayah di mana pembeli besar sebelumnya mulai masuk ke pasar.

Dalam skenario yang petakan BehDark, harga BTC diperkirakan akan turun terlebih dahulu menuju area demand tersebut. Setelah menyentuh area ini, ia memproyeksikan adanya potensi rebound atau pantulan sementara. Namun, kenaikan tersebut dipandang sebagai technical rebound, bukan sebagai sinyal pembalikan tren jangka panjang.

BACA JUGA:  Hyperliquid Jadi Raja Likuiditas, Geser Binance

BehDark juga memperkirakan bahwa setelah terjadi pantulan, harga Bitcoin berpotensi kembali naik menuju area supply di kisaran US$95.000 hingga US$100.000. Zona ini dinilai sebagai wilayah dengan tekanan jual tinggi. Jika harga gagal menembus area tersebut, risiko penurunan lanjutan dinilai semakin besar.

Tekanan Jual Terstruktur dari Pelaku Pasar Besar

Sementara itu, dalam sebuah postingan di media sosial pada Kamis (5/2/2026), trader veteran Peter Brandt menilai bahwa penurunan harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir bukan disebabkan oleh aksi panic sell dari investor ritel.

analisis harga BTC Peter

Menurutnya, pelemahan ini lebih menyerupai pola “campaign selling” atau penjualan terstruktur yang biasanya dilakukan oleh pelaku pasar besar. Selama sekitar delapan hari, pergerakan harga Bitcoin terus membentuk pola lower high dan lower low secara konsisten.

Pola tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual berlangsung secara rapi dan terkontrol, bukan dalam bentuk penurunan yang bersifat acak atau emosional.

BACA JUGA:  Tak Setengah Hati, Morgan Stanley Kembangkan Infrastruktur Crypto Sendiri

Brandt menjelaskan bahwa metode seperti ini sering digunakan untuk melepas aset secara bertahap agar tidak memicu gejolak harga yang ekstrem. Dalam berbagai siklus pasar sebelumnya, pola serupa juga kerap muncul menjelang fase koreksi yang lebih dalam.

Meski demikian, Brandt menegaskan bahwa sangat sulit menentukan kapan fase penjualan ini akan berakhir. Selama tekanan jual masih berlangsung, harga Bitcoin dinilai masih berpotensi mengalami pelemahan lanjutan sebelum menemukan titik keseimbangan baru.

Struktur Pasar Melemah, Harga Bitcoin Masih Rentan Terkoreksi

Dalam postingan terpisah pada Jumat (6/2/2026), Peter Brandt juga menyoroti kemungkinan penurunan yang lebih dalam jika harga Bitcoin kembali memasuki fase bearish seperti siklus sebelumnya.

BTC koreksi

Ia menyebut bahwa apabila Bitcoin “terpeleset” ke area koreksi yang dalam, seperti pada siklus pasar bearish terdahulu ke area hijau, maka harga tidak seharusnya turun terlalu jauh di bawah US$42.000.

BACA JUGA:  Purbaya: UU P2SK Akan Jadikan Pasar Kripto Indonesia Lebih Tertata

Brandt menambahkan bahwa saat ini posisi harga Bitcoin hanya “selangkah lagi” dari area tersebut, sehingga risiko penurunan menuju level yang lebih rendah masih terbuka. Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa tekanan terhadap harga Bitcoin belum sepenuhnya mereda.

Struktur pasar saat ini juga menunjukkan belum adanya sinyal pembalikan tren yang kuat. Terbentuknya pola lower high, perubahan karakter tren ke arah bearish, serta lemahnya volume pembelian menjadi indikasi bahwa dominasi penjual masih berlangsung. Kondisi ini membuat harga Bitcoin tetap rentan terhadap sentimen negatif dan aksi jual lanjutan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia