Ketika Investor Crypto “Jadi Korban” Perseteruan Binance dan FTX

Investor crypto saat ini di banyak negara sejatinya jadi korban perseteruan Binance dan FTX. Pasalnya, setelah Bos Binance Changpeng Zhao beberapa hari lalu mengatakan akan menjual token FTT mereka yang jumlahnya banyak, investor native crypto FTX itu jadi panas dingin. Sebagian lagi berpendapat, apakah FTX akan senasib dengan LUNA dan perusahaan investasi kripto Three Arrows Capital yang bangkrut. Sementara itu, crypto exchange CoinEx selalu mengedepankan keamanan dan kenyamanan penggunanya. 

Pangkal perseteruan ini berpangkal dari laporan berita dari Coindesk yang menulis, bahwa terjadi konflik internal di Alameda, perusahaan Sam Bankman-Fried, Pendiri FTX.

Laporan itu juga mengungkapkan bahwa aset perusahaan itu tergolong tidak likuid sehingga berisiko kerugian yang besar, karena banyak sekali dalam bentuk token FTT.

Selang beberapa hari, pada Minggu (6/11/2022), Bos Binance Changpeng Zhao di Twitter langsung melemparkan pernyataan tegas, bahwa pihaknya akan berencana menjual semua token FTT milik mereka. FTT itu merupakan kompensasi atas penarikan diri Binance sebagai salah satu pemegang saham di FTX pada tahun 2021 lalu.

IKLAN

“Sebagai bagian dari mundurnya Binance sebagai pemilik saham FTX tahun lalu, Binance menerima dana sekitar US$2,1 milyar dalam bentuk BUSD dan FTT). Mengingat peristiwa terbaru yang terungkap ke publik belum lama ini, kami telah memutuskan akan melikuidasi sisa FTT yang kami miliki,” kata Zhao di Twitter.

Binance dan FTX Terkait Laporan Coindesk

Zhao memang tidak menyebutkan secara jelas apa yang ia maksudkan dengan “peristiwa terbaru yang terungkap ke publik belum lama ini”, sebagai penyebab dan motif rencana aksi jual FTT itu. Namun kuat diduga keputusan itu ada benang merah dengan situasi terkini FTX yang diberitakan oleh CoinDesk.

Sejak laporan itu keluar, banyak investor kripto khawatir bahwa Alameda mungkin menjadi bangkrut, seperti yang terjadi pada Three Arrows Capital dan Celsius, sehingga berdampak pada turunya harga FTT dan membahayakan aset mereka yang disimpan di FTX.

Bahkan di sejumlah media sosial hingga detik ini, pengguna FTX mengaku mengalami kesulitan ketika menjual ataupun menarik FTT mereka di FTX.

Kabar teranyar adalah, Binance menarik diri dari rencana akuisisi terhadap FTX. Bahkan laporan Bloomberg menyebutkan regulator AS sedang melakukan penyelidikan terhadap perusahaan itu.

Banyak crypto exchange menjadi bangkrut gara-gara penarikan yang tertunda dan membuat pengguna menjadi tidak nyaman. Per 10 November 2022, Wall Street Journal melaporkan, CEO FTX mengatakan kepada investor pada 9 November 2022 FTX berencana mengumpulkan dana talangan sebesar US$3 miliar hingga US$4 miliar dalam bentuk saham dan berutang untuk menutupi kekurangan. Itu dilakukan sebagai dana darurat untuk memenuhi membanjirnya permintaan penarikan.

Insiden yang mirip seperti itu terjadi di Poolin belum lama ini. Untuk mengatasi itu, pengelola Poolin menerbitkan token IOU (I-Owe-You) sebagai tanda berutang kepada pengguna dengan tanggal jatuh tempo pengembalian yang tak pasti.

Selain itu ada Hoo yang menangguhkan penarikan denga alasan masalah arus kas. Masalahnya kian runyam, karena belakangan diketahui mereka sudah menggunakan dana nasabah untuk menutupi kerugian perusahaan setelah berinvestasi di Terra LUNA yang runtuh.

CoinEx Utamakan Keamanan dan Kenyamanan Pengguna

Kasus Binance dan FTX mengingatkan publik, bahwa industri kripto ini masih baru dan perlu ruang kenyamanan bagi pengguna yang lebih baik daripada sebelumnya. Praktik-praktik jahat harus diberantas, khususnya di platform perdagangan aset kripto. Salah satu crypto exchange terama yang mengedepankan keamanan dan kenyamanan pengguna CoinEx yan merupakan bagian dari perusahaan ternama, ViaBTC Capital. [ps]

spot_img
spot_img

Terkini

Warta Korporat

Terkait