Kisah 100 BTC yang “Terjebak” dan Mengubah Cara Bitcoin Bekerja

Enam belas tahun lalu, ketika Bitcoin masih berupa eksperimen kecil di internet, satu pengguna forum mendapati dompetnya bermasalah setelah berkali-kali mengirim transaksi yang tidak pernah mendapatkan konfirmasi.

Keluhan sederhana itu membuka persoalan dalam cara wallet memperlakukan transaksi Bitcoin. Sehari kemudian, Satoshi Nakamoto turun tangan dan perubahan kode yang lahir masih relevan untuk memahami Bitcoin sekarang.

100 BTC “Terjebak” Gara-gara Transaksi Kecil

Cerita bermula pada 29 September 2010, ketika seorang pengguna BitcoinTalk bernama kermit membuat thread berjudul “I broke my wallet, sends never confirm now”. Ia mengaku transaksi yang dikirimnya tak kunjung terkonfirmasi.

Kermit menjelaskan dirinya sebelumnya mengirim pembayaran di bawah 0,01 BTC tanpa biaya transaksi. Pembayaran itu tidak masuk blok, tetapi uang kembalian dari transaksi tersebut tetap dianggap tersedia oleh klien Bitcoin.

Pesan Soal Transaksi Nol Konfirmasi - Bitcointalk
Pesan Soal Transaksi Nol Konfirmasi – Bitcointalk

Akibatnya, wallet memakai output yang belum terkonfirmasi untuk membuat transaksi baru. Rantai transaksi yang bergantung pada dana belum terkonfirmasi pun tersendat dan membuat masalah semakin panjang.

“Saya hanya kehilangan 100 BTC, jadi saya tidak terlalu khawatir, tetapi kalau ada cara memperbaikinya tanpa terlalu banyak masalah, itu akan bagus,” tulis kermit dalam keluhannya saat itu.

Namun, angka 100 BTC itu bukan kerugian permanen yang kemudian terbukti hilang. Setelah memodifikasi kliennya, kermit menemukan selisih sekitar 0,08 BTC yang terkait transaksi bermasalah di wallet Bitcoin tersebut.

Saat Satoshi Turun Tangan Memperbaiki Masalah BTC

Diskusi itu kemudian berkembang cepat. Pengguna lain khawatir transaksi mikro tanpa biaya dapat membuat wallet menerima transaksi nol konfirmasi, lalu tanpa sengaja menggunakannya kembali dalam transaksi berikutnya.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Whale Bitcoin Masih Ogah Jual, Sinyal BTC Masih Bisa Terbang?

Kontributor sekaligus administrator BitcoinTalk, Theymos, kemudian memeriksa kode dan mengusulkan perubahan agar klien Bitcoin tidak memilih koin yang memiliki status nol konfirmasi ketika membuat transaksi baru.

“Saya sudah memeriksa kodenya. Tampaknya transaksi tersebut akan diteruskan ke jaringan karena berhasil melewati AcceptToMemoryPool. Namun, jaringan cenderung melupakan transaksi ini karena memory pool akan dikosongkan ketika Bitcoin dimatikan,” jelasnya kala itu.

Tak berhenti di sana, kontributor Bitcoin ternama lainnya, Jeff Garzik, juga menilai mekanisme serupa layak dimasukkan ke klien utama Bitcoin. Respons itu memperlihatkan bahwa masalah tersebut bukan sekadar gangguan kecil.

Pada 30 September 2010, Satoshi akhirnya ikut merespons. Ia menegaskan bahwa transaksi seharusnya tidak langsung dianggap tersedia untuk digunakan kembali sebelum memperoleh setidaknya satu konfirmasi.

“Masalah utamanya adalah kita seharusnya tidak menghitung atau membelanjakan transaksi sampai setidaknya memiliki satu konfirmasi,” tulis Satoshi dalam tanggapannya terhadap masalah tersebut.

Satoshi bahkan menyebut transaksi nol konfirmasi sebagai “warga kelas dua”. Menurutnya, transaksi semacam itu baru memberi sinyal bahwa pembayaran telah diterima, tetapi masih terlalu dini untuk dihitung sebagai saldo.

Ia kemudian mengubah tampilan dan logika wallet BTC agar dana belum terkonfirmasi tidak dihitung sebagai saldo maupun tersedia untuk dibelanjakan. “Jangan kirim pembayaran sampai memperbarui ke 0.3.13,” tegas Satoshi.

BACA JUGA:  Industri AI Mulai Retak? Arthur Hayes Lihat Peluang untuk Bitcoin

Sekitar 25 menit setelah respons tersebut, Satoshi merilis Bitcoin 0.3.13 RC1. Salah satu perubahan utamanya adalah memastikan pembayaran tidak dihitung atau dibelanjakan sebelum memperoleh setidaknya satu konfirmasi.

Kenapa Bitcoin Harus Menunggu Konfirmasi?

Lalu, apa sebenarnya transaksi nol konfirmasi? Secara sederhana, transaksi sudah dikirim ke jaringan Bitcoin dan dapat terlihat oleh node, tetapi belum dimasukkan ke dalam sebuah blok oleh penambang.

Bayangkan transfer Bitcoin seperti surat yang masuk ruang sortir, tetapi belum dimasukkan ke truk pengiriman resmi. Suratnya ada, namun proses pengiriman belum mendapatkan cap yang membuat statusnya lebih pasti.

Dalam Bitcoin, penambang memilih transaksi yang menunggu lalu memasukkannya ke blok. Ketika blok tersebut diterima jaringan, transaksi memperoleh konfirmasi pertama, sementara blok berikutnya terus menambah jumlah konfirmasi.

Konfirmasi penting karena transaksi yang disiarkan belum memiliki kepastian setara transaksi dalam jaringan blockchain. Dua transaksi juga dapat mencoba membelanjakan input sama, kondisi yang dikenal sebagai double spending.

Kenapa Bitcoin Harus Menunggu Konfirmasi
Kenapa Bitcoin Harus Menunggu Konfirmasi

Begitu salah satunya masuk ke blok, jaringan memiliki dasar konsensus mengenai transaksi yang diterima. Semakin banyak blok ditambahkan setelahnya, semakin sulit riwayat tersebut diubah dan risikonya ikut mengecil.

Itulah mengapa wallet modern menampilkan status pending, unconfirmed, satu konfirmasi, atau beberapa konfirmasi. Status tersebut bukan dekorasi antarmuka, melainkan gambaran posisi transaksi dalam proses penyelesaian jaringan.

Bitcoin Tidak Lahir dalam Bentuk Sempurna

Nilai 100 BTC juga membuat cerita lama ini terasa jauh berbeda bila dibaca sekarang. Dengan harga Bitcoin sekitar US$83.000, jumlah tersebut bernilai sekitar US$8,3 juta pada perdagangan Selasa.

BACA JUGA:  Perusahaan Prancis Ini Borong Bitcoin Lagi, Totalnya Tembus 3.538 BTC

Dalam rupiah, CoinMarketCap menempatkan 100 BTC sekitar Rp149 miliar. Angka sebesar itu tentu akan membuat kalimat santai “saya tidak terlalu khawatir” terdengar sangat berbeda bagi pembaca hari ini.

Namun, pelajaran yang lebih besar bukan soal harga. Insiden ini menunjukkan Bitcoin tidak lahir sebagai perangkat lunak yang langsung sempurna, lalu membeku tanpa perubahan sejak Satoshi pertama kali merilisnya.

Bitcoin Core sendiri menjelaskan bahwa proyek tersebut bersifat open source dan merupakan keturunan langsung klien asli Satoshi. Pengembangan kini melibatkan kontributor, pengujian, dokumentasi, riset, hingga peninjauan sejawat.

Dengan kata lain, kasus September 2010 memperlihatkan proses itu sejak masa paling awal. Pengguna menemukan masalah, komunitas membedah kode, Satoshi merespons, lalu perangkat lunak diperbaiki berdasarkan temuan nyata.

Enam belas tahun kemudian, pola dasarnya masih sama. Bitcoin berjalan melalui aturan konsensus, tetapi perangkat lunak yang digunakan untuk berinteraksi dengannya terus diuji, dikritik, dan dioptimalkan oleh komunitas.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait