Kocak! Pencuri Kripto Malah Diincar Bot Penipu Saat Pindahkan Dana

Kasus pencurian kripto kembali menghadirkan kejadian tak terduga. Kali ini, wallet yang diduga digunakan pencuri kripto untuk memindahkan dana hasil kejahatan justru menjadi sasaran bot penipu yang mencoba lancarkan serangan address poisoning.

Temuan menarik tersebut diungkapkan oleh investigator blockchain PublicAML dalam penelusuran transaksi pada Sabtu (10/10/2026).

Ketika pihak yang dikaitkan dengan pencurian aset pengguna Ledger memindahkan Ethereum (ETH) ke sejumlah wallet baru, bot penipu mulai mengirimkan transaksi bernilai nol dari alamat-alamat yang dibuat menyerupai alamat tujuan sebenarnya.

Situasi ini menghadirkan ironi tersendiri. Pihak yang diduga sedang berupaya menyamarkan jejak dana curian ternyata juga harus menghadapi modus penipuan yang biasanya menyasar pengguna kripto biasa.

Meski demikian, belum ditemukan bukti bahwa serangan bot tersebut berhasil mengelabui pencuri kripto atau menyebabkan hilangnya dana tambahan. Aktivitas yang teridentifikasi sejauh ini merupakan upaya penipuan melalui manipulasi riwayat transaksi wallet.

Saat Pencuri Kripto Malah Jadi Target Penipu Lain

Berdasarkan penelusuran PublicAML, aktivitas tersebut muncul di tengah gelombang kedua pemindahan aset yang berkaitan dengan insiden Ledger dan reseller CryptoBilis di Asia Tenggara.

Pada Sabtu (10/10/2026) pukul 09.42 UTC atau 16.42 WIB, sebuah alamat yang dikaitkan dengan pencurian mengirimkan 468,9 ETH ke wallet baru berawalan 0xDC651D.

Hanya berselang dua menit, alamat lain yang juga dikaitkan dengan pelaku memindahkan 441,5 ETH ke wallet baru berawalan 0x48AbBC.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Dalam waktu sekitar setengah jam, dana dari kedua wallet tersebut kembali dipecah ke sejumlah alamat baru. Sebagian besar aset kemudian diarahkan menuju Tornado Cash, protokol privasi yang dapat mempersulit penelusuran hubungan antara alamat pengirim dan penerima.

BACA JUGA:  Netflix Angkat Skandal FTX dan SBF Jadi Serial, Tayang November 2026

PublicAML mencatat delapan wallet perantara memasukkan total 900 ETH ke Tornado Cash melalui beberapa transaksi antara pukul 10.07 hingga 10.21 UTC.

Namun, ketika rangkaian perpindahan aset berlangsung, muncul aktivitas lain yang justru menjadi bagian paling menarik dari investigasi tersebut.

Hanya beberapa menit setelah dana berpindah, bot address poisoning mulai mengirimkan transaksi bernilai nol menuju wallet baru yang dikaitkan dengan pencuri kripto.

Transaksi itu berasal dari alamat-alamat tiruan yang memiliki kemiripan dengan alamat wallet sebenarnya. Tujuannya adalah membuat alamat palsu muncul dalam riwayat transaksi, sehingga berpotensi terkecoh ketika pemilik wallet melakukan transfer berikutnya.

“Pencuri itu justru menjadi sasaran modus penipuan yang sama seperti yang mengincar orang lain,” ungkap PublicAML dalam laporan investigasinya.

Dengan kata lain, pihak yang diduga mencuri aset kripto dalam jumlah besar ternyata tidak kebal terhadap upaya penipuan yang juga mengincar pengguna lainnya.

Penelusuran itu turut menemukan aktivitas serupa pada jaringan Bitcoin. Dua alamat Bitcoin yang dikaitkan dengan pencurian menerima kiriman aset berjumlah sangat kecil atau dust dari alamat-alamat yang menyerupai wallet lain.

Sementara itu, pemindahan dana hasil pencurian masih berlanjut. PublicAML mengidentifikasi gelombang berikutnya pada hari yang sama, ketika tambahan 440 ETH masuk ke Tornado Cash.

Dengan demikian, dua gelombang transaksi yang dipetakan investigator tersebut melibatkan total 1.340 ETH yang masuk ke Tornado Cash pada 10 Oktober 2026.

BACA JUGA:  100 Lebih Deal Morgan Stanley Bocor, Ada Jejak Kripto di Dalamnya?

Sebagai latar belakang, investigasi Bitquery yang diperbarui pada Minggu (11/10/2026) memperkirakan pencurian terkait kasus Ledger dan CryptoBilis mencapai US$93,2 juta dari 315 wallet di enam jaringan blockchain.

Angka tersebut merupakan hasil penelusuran independen Bitquery dan belum menjadi nilai kerugian resmi yang dikonfirmasi Ledger.

Sebelumnya, Ledger mengonfirmasi penyelidikan atas laporan kehilangan dana dari pengguna di Asia Tenggara yang membeli perangkat melalui CryptoBilis. Perusahaan juga meminta reseller tersebut menghentikan sementara penjualan dan pengiriman perangkat selama penyelidikan berlangsung.

Bot Penipu Tak Pilih-pilih Target, Begini Modusnya

Fenomena yang menimpa wallet pencuri kripto tersebut memperlihatkan bagaimana sifat transparan jaringan blockchain dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan lainnya.

Dalam serangan address poisoning, penipu terlebih dahulu memantau aktivitas transaksi blockchain untuk menemukan wallet aktif beserta alamat tujuan yang pernah digunakan.

Pelaku kemudian membuat alamat tiruan yang sekilas menyerupai alamat asli, terutama pada beberapa karakter pertama dan terakhir.

Setelah alamat tiruan tersedia, bot menjalankan transaksi bernilai nol atau aktivitas token palsu agar alamat tersebut muncul dalam riwayat transaksi wallet sasaran.

Menurut penjelasan teknis tim keamanan Coinbase, metode ini mengeksploitasi kebiasaan pengguna yang hanya memeriksa sebagian karakter alamat wallet sebelum melakukan transfer.

Penipu berharap korban menyalin alamat palsu dari riwayat transaksi tanpa menyadari bahwa bagian tengah alamat tersebut berbeda dari tujuan aslinya.

Apabila korban kemudian mengirimkan aset sungguhan ke alamat tiruan, dana dapat berpindah ke wallet yang dikendalikan penipu.

BACA JUGA:  Stablecoin AS Makin Mirip Bank, The Fed Siapkan Regulasi Baru

Menariknya, aktivitas pengiriman transaksi bernilai nol tidak selalu membutuhkan akses ke kunci pribadi wallet sasaran. Karena itulah, bot dapat menyebarkan upaya penipuan secara otomatis kepada berbagai alamat yang terlihat aktif di blockchain.

Dalam kasus terbaru ini, mekanisme tersebut diduga dimanfaatkan untuk membidik wallet yang sedang menerima atau memindahkan dana hasil pencurian Ledger.

Namun, perlu dibedakan antara serangan yang tercatat dan keberhasilan pencurian. Transaksi bernilai nol yang ditemukan PublicAML tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pelaku address poisoning memperoleh aset dari wallet sasaran.

Identitas operator bot juga belum diketahui, termasuk apakah beberapa aktivitas yang teramati berasal dari satu kelompok penipu atau sejumlah pihak berbeda.

Terlepas dari belum adanya bukti kerugian tambahan, kasus ini menunjukkan bahwa wallet yang dikaitkan dengan aktivitas kriminal sekalipun tetap dapat menjadi target penipuan otomatis.

Bagi pengguna kripto, kejadian tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa riwayat transaksi bukanlah daftar alamat terpercaya. Memeriksa alamat tujuan secara menyeluruh sebelum mengirim aset tetap penting untuk menghindari jebakan address poisoning.

Ironisnya, dalam upaya memindahkan dana yang diduga hasil kejahatan, pencuri kripto pada kasus ini justru harus berhadapan dengan penipu lain yang berharap mendapatkan bagian dari aset tersebut.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait