Kontrak Bitcoin dan ETH jumbo segera kedaluwarsa pada Jum’at ini, 25 September 2026 waktu setempat, dengan nilai gabungan mencapai sekitar Rp320 triliun (setara US$18,1 miliar), dan momen ini berpotensi memicu gejolak harga jangka pendek di pasar kripto. Berikut ini adalah analisis dampak lengkapnya!
BACA JUGA: 5 Crypto Exchange Tempat Trading Futures di Indonesia
Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Kontrak Kedaluwarsa Ini?
Melansir laman TheCoinrise, Coinbase melaporkan bahwa kontrak opsi (options) Bitcoin dan Ether senilai gabungan US$18,1 miliar akan mencapai tanggal settlement pada hari Jumat. Angka ini mencerminkan nilai nosional dari kontrak-kontrak yang diperdagangkan lewat platform derivatif milik Coinbase.
Sederhananya, opsi adalah kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, kepada pemegangnya untuk membeli atau menjual aset di harga tertentu sebelum tanggal jatuh tempo. Saat tanggal itu tiba, trader harus memutuskan apakah mau mengeksekusi kontraknya, memperpanjang (roll), atau membiarkannya lewat begitu saja.
Menariknya, ada laporan terpisah yang menyebut porsi Bitcoin saja sudah mencapai sekitar US$16 miliar, angka yang berbeda dari total gabungan versi Coinbase. Perbedaan ini kemungkinan muncul karena metodologi perhitungan, waktu pengambilan data, atau cakupan kontrak yang berbeda. Sampai saat ini, belum ada rekonsiliasi resmi antara kedua angka tersebut, jadi anggap saja keduanya sebagai estimasi, bukan angka pasti.
Kenapa Kontrak Bitcoin dan ETH Jumbo Segera Kedaluwarsa Ini Penting Diperhatikan?
Kontrak Bitcoin dan ETH jumbo segera kedaluwarsa bukan sekadar angka di atas kertas. Saat tanggal settlement mendekat, market maker biasanya menyesuaikan posisi lindung nilai (hedging) mereka. Aktivitas ini berkaitan dengan konsep seperti gamma exposure dan max pain level, yang bisa menciptakan tekanan harga di sekitar waktu kedaluwarsa, meskipun tidak ada perubahan besar dalam sentimen pasar secara keseluruhan.
Update terbaru per 24 September 2026 menambah konteks menarik. Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$86.300, naik lebih dari 6% dalam sepekan, sementara Ether berada di sekitar US$2.751 dan XRP di US$1,576. Level US$85.000 disebut sebagai support penting untuk Bitcoin.
Di sisi lain, data dari bursa Deribit mencatat opsi Bitcoin senilai US$15,6 miliar dengan rasio put-to-call sekitar 0,71 (artinya call option lebih banyak dari put option), strike price US$70.000 memiliki open interest terbesar, dan titik max pain berada di US$75.000.
$18,140,000,000 in $BTC and $ETH options will expire this Friday.
Max pain for Bitcoin: $75,000
Max pain for Ethereum: $2,250 pic.twitter.com/FtthIAquoW
— Ted (@TedPillows) September 22, 2026
Yang membuat momen ini makin kompleks, kedaluwarsa opsi ini juga bertepatan dengan rilis data ekonomi AS dan penyelesaian kontrak futures Bitcoin di CME. Kombinasi beberapa katalis besar dalam waktu bersamaan inilah yang membuat trader dan analis mengawasi pekan ini lebih ketat dari biasanya.
BACA JUGA: Whale Bitcoin Panen Cuan, US$356 Juta Cair dalam Sehari
Prediksi Dampaknya ke Pasar Kripto
Sejarah menunjukkan bahwa kedaluwarsa opsi berskala besar dapat memicu volatilitas jangka pendek, terutama di jam-jam menjelang dan sesaat setelah settlement. Baik total nosionalnya mendekati US$18,1 miliar atau US$16 miliar, skalanya cukup besar untuk berpotensi memengaruhi pergerakan harga.
Namun, penting untuk kamu pahami bahwa posisi derivatif semacam ini jarang menentukan arah tren jangka panjang dengan sendirinya. Yang lebih mungkin terjadi, kedaluwarsa ini bisa memperkuat (amplify) pergerakan harga yang sudah didorong oleh faktor lain, seperti rilis data makroekonomi atau perubahan permintaan di pasar spot.
Reli harga Bitcoin dan Ether yang sedang berlangsung pun disebut menghadapi sejumlah “ujian” tambahan di luar momen kedaluwarsa ini, jadi kombinasi tekanan dari berbagai arah patut kamu waspadai.
Bitcoin dan Ether sendiri merupakan dua aset paling likuid di pasar opsi kripto, sehingga kedaluwarsa keduanya selalu menjadi sorotan utama trader dan analis. Biasanya, volume perdagangan cenderung meningkat pada hari-hari menjelang settlement, seiring trader menutup atau menyesuaikan posisi mereka.
Jadi, Haruskah Kamu Khawatir dengan Kedaluwarsa Ini?
Singkatnya, kedaluwarsa kontrak Bitcoin dan ETH senilai puluhan triliun rupiah ini memang berpotensi menciptakan gejolak harga jangka pendek, tapi bukan berarti tren jangka panjang pasar kripto akan langsung berubah arah. Volatilitas semacam ini adalah bagian normal dari dinamika pasar derivatif, apalagi ketika bertepatan dengan katalis lain seperti data ekonomi dan settlement futures.
Daripada khawatir berlebihan, gunakan momen ini untuk terus menambah pemahamanmu soal cara kerja pasar kripto. Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


