Korut Dituduh Bobol Binance Rp114 Triliun, Adik Kim Jong Un Buka Suara!

Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un, membantah tuduhan Biro Investigasi Federal AS (FBI) yang mengaitkan negaranya dengan peretasan Binance senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun.

Dalam pernyataan yang diterbitkan Korean Central News Agency (KCNA) pada Selasa (3/11/2026), Kim menyebut tuduhan Washington sebagai retorika absurd sekaligus provokasi politik serius terhadap Korut.

Menurutnya, AS berusaha membentuk persepsi internasional seolah-olah setiap kejahatan siber berskala besar selalu melibatkan negaranya.

Kim juga menolak upaya FBI mencap Korut sebagai negara pelaku kejahatan siber. Ia menilai tuduhan tersebut merupakan bagian dari sikap bermusuhan Washington terhadap Pyongyang.

Bantahan itu muncul tiga hari setelah FBI secara terbuka menuding kelompok peretas yang dikenal sebagai TraderTraitor, yang disebut memiliki hubungan dengan pemerintah Korea Utara, sebagai pelaku pencurian aset kripto dari Binance pada 29 Oktober 2026.

Namun, tuduhan FBI tersebut tidak hanya berupa pernyataan. Lembaga penegak hukum AS itu turut membuka ratusan alamat blockchain yang diduga berkaitan dengan aliran dana hasil peretasan.

FBI Ungkap 628 Alamat Kripto Terkait Peretasan Binance

Melalui peringatan siber yang diterbitkan pada 31 Oktober 2026, FBI menyatakan Korut bertanggung jawab atas pencurian aset virtual senilai lebih dari US$6 miliar dari Binance.

Berdasarkan penghitungan Blockchainmedia terhadap daftar alamat yang dipublikasikan FBI, terdapat 628 entri alamat kripto yang disebut pernah menampung dana curian atau memiliki hubungan dengan operasi TraderTraitor.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  DOGE Tak Mau Cuma Jadi Meme Coin, Dogecoin Labs Siapkan Ekosistem Besar

Daftar tersebut terdiri atas 608 alamat Ethereum, 19 alamat Bitcoin dan satu alamat Solana. Jumlah itu merujuk pada entri alamat dalam publikasi FBI, bukan jumlah individu yang terlibat ataupun keseluruhan dompet yang digunakan pelaku.

FBI bersama United States Secret Service (USSS) dan divisi investigasi kriminal Internal Revenue Service (IRS-CI) juga mengungkap bahwa para pelaku telah mengonversi sebagian besar aset curian menjadi Ether (ETH).

Aset tersebut diperkirakan akan kembali dipindahkan melalui protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi) serta layanan pertukaran kripto instan untuk mempersulit pelacakan.

Karena itu, FBI meminta operator infrastruktur blockchain, platform DeFi, penyedia layanan pertukaran aset virtual dan perusahaan analitik blockchain membantu memblokir transaksi yang berkaitan dengan alamat-alamat tersebut.

Meski demikian, publikasi daftar alamat itu belum menjelaskan secara terperinci metode yang digunakan FBI untuk menghubungkan identitas operatornya dengan pemerintah Korut. Informasi transaksi blockchain dapat memperlihatkan perpindahan aset, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan identitas pihak yang mengendalikan sebuah alamat.

Dana Binance Dicuri dari 10 Blockchain dalam Hitungan Menit

Di luar tuduhan FBI, temuan perusahaan analitik blockchain TRM Labs memberikan gambaran lebih terperinci mengenai bagaimana serangan tersebut berlangsung.

Dalam hasil investigasi yang dipublikasikan pada 29 Oktober, TRM Labs mengidentifikasi perpindahan aset senilai sekitar US$6,36 miliar dari dompet Binance yang tersebar di 10 jaringan blockchain.

BACA JUGA:  Peretasan Binance vs Bybit: Begini Perbedaan Cara Hacker Menguras Kripto

Sebagian besar aset tersebut berpindah dalam waktu sekitar 20 menit, dimulai pada pukul 20.05 UTC.

TRM Labs menemukan indikasi bahwa penyerang telah mempersiapkan operasi setidaknya 36 jam sebelumnya. Pada jaringan Ethereum, pelaku memanfaatkan mekanisme delegasi EIP-7702 menggunakan 50 otorisasi transaksi yang telah ditandatangani terlebih dahulu.

Temuan itu mengarah pada dugaan kompromi terhadap infrastruktur penandatanganan transaksi milik Binance, bukan sekadar pencurian aset melalui satu alamat dompet.

TRM Labs juga mengaitkan serangan tersebut dengan TraderTraitor berdasarkan kombinasi analisis on-chain dan informasi di luar blockchain.

Sementara itu, dalam pembaruan keamanan pada 30 Oktober, Binance mengakui adanya indikasi kompromi pada sebuah laptop dalam penyelidikan awal. Investigasi berikutnya menemukan titik kompromi tambahan, tetapi perusahaan menyatakan belum menemukan bukti kebocoran private key dompet.

Binance menegaskan penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan rangkaian serangan dan penyebab utamanya.

Binance Sudah Ganti 95 Persen Aset, Bukan Berarti Dana Curian Kembali

Di tengah perselisihan tuduhan antara FBI dan Korut, Binance terus berupaya membatasi dampak finansial dari insiden tersebut.

Perusahaan sebelumnya mengumumkan bahwa sekitar US$3 miliar aset telah berhasil dibekukan secara on-chain hingga 30 Oktober, dengan bantuan penegak hukum, penerbit token dan mitra industri.

Perkembangan berikutnya datang pada 2 November. Dalam pembaruan pemulihan kelima, Binance menyatakan sekitar 95 persen nilai aset yang terdampak telah diganti menggunakan dana perusahaan sendiri.

BACA JUGA:  Indonesia Bisa Punya Lebih Banyak Bursa Kripto, Ini Syarat dari OJK

Sepuluh aset, termasuk BTC, ETH, USDT, BNB, SOL, USDC dan XRP, juga telah kembali didukung cadangan penuh dengan rasio setidaknya 1:1. Binance menyebut bukti cadangan berbasis zero-knowledge untuk snapshot 31 Oktober sudah tersedia agar dapat diperiksa secara independen oleh pengguna.

Namun, penggantian 95 persen tersebut tidak berarti Binance telah merebut kembali 95 persen dana yang dicuri. Pembekuan aset hasil peretasan dan penggantian kerugian menggunakan dana perusahaan merupakan dua proses berbeda.

Adapun sisa sekitar lima persen aset yang belum diganti terutama terdiri atas token dengan likuiditas lebih rendah sehingga memerlukan waktu tambahan untuk diperoleh.

Kini, persoalan siapa yang bertanggung jawab atas pencurian tersebut masih menjadi titik perselisihan antara Washington dan Pyongyang.

FBI telah mempublikasikan alamat-alamat yang dikaitkannya dengan TraderTraitor, sementara Kim Yo Jong secara terbuka menolak tuduhan keterlibatan Korut.

Di sisi lain, Binance masih harus menuntaskan investigasi teknis serta proses pemulihan dana, terlepas dari perdebatan mengenai siapa sebenarnya yang berada di balik peretasan bernilai ratusan triliun rupiah itu.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait