Penggunaan kripto dalam jaringan perdagangan manusia meningkat tajam dan kini menempatkan Asia Tenggara sebagai pusat utama aktivitas tersebut.
Temuan ini diungkap oleh perusahaan analitik blockchain Chainalysis dalam laporan terbarunya bertajuk Cryptocurrency Flows to Suspected Human Trafficking Services Surge 85% Year-over-Year, yang menunjukkan bahwa aset digital semakin banyak digunakan untuk memfasilitasi pembayaran, perekrutan korban dan operasional jaringan kriminal lintas negara.
Menurut Chainalysis, lonjakan penggunaan kripto dalam perdagangan manusia terjadi seiring berkembangnya infrastruktur kejahatan digital di kawasan ASEAN.
“Volume transaksi cryptocurrency yang terkait dengan layanan perdagangan manusia meningkat signifikan sepanjang tahun lalu,” tulis Chainalysis.
Perusahaan tersebut menjelaskan bahwa jaringan kriminal memanfaatkan kripto karena memungkinkan transaksi cepat, lintas batas dan tidak bergantung pada sistem perbankan tradisional.
Asia Tenggara disebut sebagai episentrum utama karena wilayah ini menjadi lokasi berbagai kompleks scam, pusat perjudian ilegal, dan operasi penipuan online yang memanfaatkan tenaga kerja paksa.
Dalam banyak kasus, korban direkrut melalui tawaran pekerjaan palsu dan kemudian dipaksa bekerja di fasilitas scam tanpa kebebasan untuk keluar. Kripto digunakan sebagai alat pembayaran dalam berbagai tahap operasi, termasuk perekrutan dan distribusi dana antar jaringan.
Chainalysis juga mengidentifikasi bahwa pembayaran terkait perekrutan tenaga kerja dalam jaringan perdagangan manusia biasanya berkisar antara US$1.000 hingga US$10.000 per korban.
Dana tersebut ditransfer menggunakan aset digital untuk menghindari hambatan sistem keuangan biasa dan mempersulit pelacakan oleh otoritas.
Stablecoin Dominan, Bitcoin Tetap Digunakan
Laporan tersebut mengungkap bahwa stablecoin menjadi metode pembayaran paling dominan dalam perdagangan manusia, terutama karena nilainya yang stabil dan kemudahan penggunaannya dalam transaksi internasional.
Stablecoin memungkinkan jaringan kriminal mengurangi risiko volatilitas harga sekaligus mempercepat proses transfer dana lintas negara.
Namun, penggunaan kripto berbeda pada kategori eksploitasi pelecehan anak, yang juga termasuk dalam ekosistem perdagangan manusia.

Chainalysis menemukan bahwa Bitcoin masih menjadi aset paling dominan dalam kategori tersebut, dengan porsi sekitar 60 persen dari total nilai transaksi. Altcoin menyumbang sekitar 30 persen, sementara Ethereum dan stablecoin masing-masing hanya berkontribusi sebagian kecil, kurang dari 10 persen.
Dominasi Bitcoin dalam kategori ini mencerminkan perannya sebagai aset digital paling likuid dan paling luas diterima.
“Bitcoin tetap menjadi aset utama dalam banyak kategori aktivitas ilegal, terutama karena tingkat adopsi dan likuiditasnya yang tinggi,” tulis Chainalysis.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun stablecoin kian popular, Bitcoin masih memainkan peran penting dalam berbagai bentuk perdagangan manusia berbasis digital.
Selain itu, jaringan kriminal juga memanfaatkan berbagai blockchain alternatif dan aset privasi untuk menyembunyikan aliran dana. Hal ini memungkinkan pelaku untuk memindahkan aset dengan lebih efisien dan mempersulit identifikasi pihak yang terlibat.
Telegram dan Infrastruktur Digital Perkuat Operasi
Chainalysis juga menyoroti peran platform komunikasi digital seperti Telegram dalam mendukung perdagangan manusia berbasis kripto. Platform tersebut digunakan untuk merekrut korban, mengatur transaksi dan mengoordinasikan operasi antar jaringan kriminal di berbagai negara.
Banyak korban direkrut melalui iklan pekerjaan palsu yang menjanjikan gaji tinggi. Setelah tiba di lokasi tertentu, korban sering kali dipaksa bekerja dalam operasi scam atau aktivitas ilegal lainnya.
Kripto kemudian digunakan untuk membayar biaya perekrutan, memindahkan dana antar operator dan mendukung operasional jaringan.
Menurut Chainalysis, sebagian besar jaringan perdagangan manusia yang menggunakan kripto memiliki koneksi global, dengan aliran dana berasal dari berbagai negara termasuk AS, Eropa, dan wilayah Asia lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa aset kripto telah menjadi infrastruktur keuangan penting dalam operasi perdagangan manusia modern.
Meski demikian, Chainalysis menegaskan bahwa transparansi blockchain juga memberikan peluang bagi investigator untuk melacak aktivitas ilegal.
“Transaksi blockchain bersifat permanen dan dapat dianalisis, yang memungkinkan identifikasi jaringan kriminal,” tulis laporan tersebut.
Dengan kata lain, teknologi yang sama yang digunakan untuk memfasilitasi perdagangan manusia juga dapat menjadi alat untuk mengungkapnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



