Kripto Itu Halu, Kata Penulis Tere Liye

Penulis novel ternama Indonesia, Tere Liye, melontarkan kritik tajam terhadap fenomena kripto melalui unggahan di media sosial pada Minggu (18/1/2026), di tengah ramainya kasus dugaan penipuan yang ditujukan kepada Timothy Ronald dan Kalimasada dari Akademi Crypto.

Dalam pernyataannya, Tere Liye menilai aset kripto lebih banyak dipenuhi oleh ilusi kekayaan instan, spekulasi dan dorongan mencari keuntungan cepat, dibandingkan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Menurut Tere Liye, banyak orang memang menjadi kaya dari kripto, sebagaimana ada pula yang kaya dari judi online, skema ponzi, dan praktik serupa.

Namun, ia mengingatkan publik agar mencatat sejumlah fakta sebelum ikut terjun ke dunia kripto. Ia menyoroti bahwa saat ini terdapat sekitar 120 juta token kripto yang beredar, dan siapa pun dapat membuat token sendiri dengan mudah.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Kripto itu cuma algoritma, bukan emas yang punya fungsi nyata,” tulis Tere Liye.

Ia menjelaskan, dari puluhan juta token tersebut, hanya sekitar 10.000 token yang masih aktif diperdagangkan. Bitcoin menguasai sekitar 59 persen pasar kripto global, disusul oleh 10 hingga 20 token besar lainnya yang menguasai sekitar 20 persen. Sisanya merupakan ribuan token kecil yang sebagian besar gagal bertahan di pasar.

BACA JUGA:  Mining Difficulty Bitcoin Turun Tajam, Terbesar Sejak Era Larangan Tiongkok 2021

Tere Liye juga menekankan bahwa kenaikan harga kripto sangat bergantung pada masuknya uang baru dari investor. Tanpa aliran modal baru, menurutnya, harga token sulit terus naik. Ia menilai mekanisme tersebut menyerupai pola skema piramida, di mana pemain lama diuntungkan oleh masuknya pemain baru.

Selain itu, ia mempertanyakan klaim bahwa kripto digunakan sebagai alat transaksi sehari-hari. Menurutnya, hanya sekitar 0,01 persen dari total nilai kripto yang benar-benar dipakai untuk transaksi riil, sementara sebagian besar hanya berfungsi sebagai instrumen spekulasi berisiko tinggi.

“Duuh, inilah halunya fans kripto,” tambahnya.

Kripto Disebut Mirip Skema Spekulatif

Kendati komentar netizen di unggahan itu tak sedikit yang setuju, pandangan Tere Liye sejalan dengan kritik sejumlah tokoh ternama terhadap industri kripto. Almarhum Charlie Munger, Wakil Ketua Berkshire Hathaway sekaligus mitra lama Warren Buffett, dikenal sebagai salah satu pengkritik paling keras terhadap kripto.

Munger pernah menyebut kripto sebagai sesuatu yang “menggelikan” dan lebih menyerupai perjudian daripada investasi serius. Ia menilai kripto tidak memberikan nilai fundamental yang nyata bagi masyarakat, selain sekadar spekulasi harga.

BACA JUGA:  Bitcoin Masuk Zona Rugi, Sinyal Pembentukan Bottom Baru?

Kritik serupa juga datang dari dunia politik. Pada Mei lalu, Gerard Rennick, Senator asal Australia, menyebut Bitcoin sebagai skema ponzi. Ia menilai kripto tidak memiliki nilai fundamental yang kuat dan lebih bergantung pada harapan investor bahwa harga akan terus naik, sebuah karakteristik yang sering dikaitkan dengan praktik spekulatif.

Di AS, aktor Ben McKenzie turut menjadi suara kritis terhadap industri kripto. McKenzie menilai pasar kripto penuh dengan hype, manipulasi dan potensi penipuan. Ia bahkan pernah bersaksi di hadapan Senat AS terkait dampak runtuhnya pasar kripto akibat kasus FTX.

Dalam bukunya Easy Money: Cryptocurrency, Casino Capitalism, and the Golden Age of Fraud, McKenzie menggambarkan kripto sebagai bentuk “kapitalisme kasino” yang sarat risiko dan praktik tidak sehat.

Dalam konteks tersebut, Tere Liye menilai kripto bukanlah aset yang bisa disamakan dengan emas. Ia menegaskan bahwa emas memiliki fungsi nyata dalam perhiasan dan industri, sementara kripto hanya berbentuk kode digital tanpa utilitas langsung di dunia fisik.

BACA JUGA:  Whale Bitcoin Mulai Borong, Titik Bottom Sudah Dekat?

Pesan Tere Liye untuk Masyarakat

Melalui pernyataannya, Tere Liye mengajak masyarakat untuk berpikir lebih dari seratus kali sebelum ikut terjun ke dunia kripto. Ia menilai aset kripto sangat rentan kehilangan nilai dalam waktu singkat, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran utama untuk keamanan finansial jangka panjang.

Tere Liye juga menyoroti bahwa fenomena kripto mencerminkan sifat rapuh kekayaan manusia. Ia mengibaratkan bahwa harta bisa lenyap dalam sekejap, sebagaimana kisah tokoh-tokoh kaya dalam sejarah yang pada akhirnya meninggal tanpa membawa apa pun.

Alih-alih mengejar keuntungan spekulatif, Tere Liye mendorong masyarakat untuk lebih fokus pada aktivitas produktif dan berkarya yang bermanfaat bagi orang lain. Menurutnya, kekayaan seharusnya dipandang sebagai bonus, bukan tujuan utama hidup.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait