Ketegangan di Selat Hormuz masih jauh dari kata reda. Di tengah tarik ulur geopolitik dan tekanan sanksi, muncul narasi baru yang semakin menarik perhatian: Iran mulai memanfaatkan kripto sebagai alat pembayaran bagi kapal tanker yang melintas.
Namun, di balik fleksibilitasnya, penggunaan kripto ini menyimpan risiko besar. Analis memperingatkan bahwa ini bukan sekadar solusi alternatif, tetapi juga potensi masalah baru bagi industri pelayaran.
Kripto Jadi Alternatif, Tapi Bisa Berujung Sanksi
Dikutip dari Cointelegraph pada Sabtu (11/04/2026), perusahaan pelayaran yang menggunakan kripto untuk membayar biaya transit ke Iran berpotensi menghadapi sanksi. Hal ini disampaikan oleh Kaitlin Martin, analis intelijen senior dari Chainalysis.
Menurutnya, dalam kerangka sanksi saat ini, setiap pembayaran kepada rezim Iran, termasuk yang berkaitan dengan jalur strategis seperti Selat Hormuz, dapat dikategorikan sebagai “dukungan material.”
Artinya, perusahaan yang terlibat dalam skema pembayaran kripto di Selat Hormuz berisiko dianggap melanggar aturan serta sanksi internasional yang berlaku.
“Hal tersebut dapat menimbulkan risiko pelanggaran sanksi yang signifikan, mengingat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dikenai sanksi oleh berbagai yurisdiksi,” ujarnya.
Isu ini mencuat setelah muncul laporan bahwa Iran mempertimbangkan penggunaan kripto untuk memungut biaya transit. Wacana ini langsung memicu kekhawatiran, bahkan Donald Trump disebut menolak rencana tersebut.
Di sisi lain, Iran diketahui telah memperluas penggunaan aset digital, terutama stablecoin, untuk mendukung perdagangan minyak, senjata, dan komoditas. Hal ini memperkuat indikasi bahwa kripto mulai dimanfaatkan sebagai alat strategis di tengah tekanan sanksi.
Transparansi Blockchain Jadi Pedang Bermata Dua
Namun, penggunaan kripto bukan tanpa celah. Justru sebaliknya, transparansi teknologi blockchain dapat menjadi titik lemah karena setiap transaksi tercatat permanen dan bisa dilacak oleh otoritas.
“Dalam banyak hal, kripto justru lebih mudah dilacak dibanding metode penghindaran sanksi tradisional,” jelas Kaitlin Martin.
Artinya, alih-alih menjadi jalan aman, penggunaan kripto membuka jejak yang memudahkan investigasi. Aliran dana pembayaran Selat Hormuz dapat ditelusuri hingga titik pencairan, di mana aset berpotensi dibekukan atau disita.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Iran. Negara seperti Rusia juga dilaporkan memanfaatkan kripto untuk menopang perdagangan lintas batas untuk menghindari sanksi. Namun, polanya sama. Semakin transparan, semakin mudah pula diawasi.
Negosiasi Iran-AS Memanas, Militer Bergerak
Sementara itu, dinamika geopolitik di Timur Tengah terus berkembang. Mengutip laporan Al Jazeera pada Minggu (12/04/2026), negosiasi antara Iran dan AS masih berlangsung dan bahkan diperpanjang setelah lebih dari 14 jam.
Meski penuh tarik ulur, suasana perundingan disebut “positif”, dengan kedua pihak mulai bertukar draf teknis untuk mencapai kesepakatan. Namun, isu besar seperti nuklir, aset yang dibekukan, hingga kontrol atas Selat Hormuz masih menjadi ganjalan utama.
Analis menilai Iran tengah memainkan “kartu terakhirnya” dengan memanfaatkan posisi strategis Hormuz. Jalur ini krusial, bukan hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi perdagangan global.
Di lapangan, situasi juga tak kalah panas. Militer Amerika Serikat melalui unggahan resmi CENTCOM di X pada Sabtu (11/04/2026) mengonfirmasi dimulainya operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
“USS Frank E. Peterson (DDG 121) dan USS Michael Murphy (DDG 112) melintasi Selat Hormuz dan beroperasi di Teluk Arab sebagai bagian dari misi yang lebih luas. Operasi ini bertujuan memastikan jalur tersebut sepenuhnya bersih dari ranjau laut,” tulis mereka.

Langkah ini menegaskan satu hal. Selat Hormuz bukan sekadar jalur perdagangan, tetapi juga titik tekan geopolitik yang semakin kompleks, di mana kripto kini ikut masuk dalam permainan.
Pada akhirnya, penggunaan kripto di Hormuz mencerminkan perubahan lanskap geopolitik yang semakin kompleks. Di satu sisi, kripto menawarkan fleksibilitas di tengah tekanan sanksi. Namun, di sisi lain, transparansi blockchain justru membuka risiko baru.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



