Di tengah banyaknya proyek kripto yang berlomba menawarkan narasi AI dan blockchain, sebuah proyek bernama SQD Network justru membangun bisnis dari sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni menyediakan data yang dibutuhkan aplikasi Web3 untuk beroperasi.
Proyek yang sebelumnya dikenal sebagai Subsquid ini mungkin belum sepopular sejumlah altcoin berkapitalisasi besar. Namun, teknologi SQD sudah digunakan untuk mendukung aplikasi DeFi, aktivitas AI agent, hingga infrastruktur analitik blockchain.
Yang paling menarik, SQD mengumumkan kerja sama dengan Google Cloud pada Agustus 2026 untuk mendukung layanan analitik blockchain di BigQuery.
Di sisi lain, berdasarkan data CoinGecko, pada saat artikel ini disusun, kapitalisasi pasar kripto SQD masih berada di kisaran US$23 juta, dengan harga sekitar US$0,018.
Kombinasi antara penggunaan teknologi yang nyata dan kapitalisasi pasar yang relatif kecil inilah yang membuat SQD menarik untuk diperiksa sebagai salah satu kandidat hidden gem kripto.
Namun, apakah proyek ini memang memiliki potensi yang belum sepenuhnya dihargai pasar?
Apa yang Membuat SQD Network Menarik?
Untuk memahami potensi SQD, penting mengetahui masalah yang coba diselesaikan proyek ini.
Setiap transaksi blockchain menghasilkan data. Mulai dari perpindahan aset antar-dompet, aktivitas perdagangan di bursa terdesentralisasi (DEX), hingga interaksi smart contract, semuanya tercatat di jaringan.
Masalahnya, mengakses dan mengolah data tersebut dalam jumlah besar bukan pekerjaan sederhana.
Pengembang yang ingin menampilkan riwayat transaksi, memantau posisi pengguna atau membangun layanan analitik sering membutuhkan infrastruktur khusus untuk mengambil, menyimpan dan mengindeks data blockchain.
SQD Network hadir untuk menyederhanakan proses tersebut melalui jaringan penyedia data terdesentralisasi.
Berdasarkan dokumentasi resminya, SQD menyediakan akses ke data historis dan real-time dari lebih dari 110 jaringan blockchain melalui satu antarmuka pemrograman aplikasi atau API.
Jaringannya memanfaatkan worker node untuk mengambil, memvalidasi dan menyimpan data, sehingga pengembang tidak selalu perlu membangun keseluruhan infrastruktur tersebut sendiri.
SQD juga menerapkan enam pemeriksaan kriptografis pada data blockchain, termasuk verifikasi akar transaksi dan state root, untuk membantu memastikan integritas data sebelum digunakan.
Model bisnis ini membuat SQD berada di sektor yang cukup menarik, yakni infrastruktur data blockchain.
Ketika aktivitas DeFi, tokenisasi aset dunia nyata (RWA) dan aplikasi AI berbasis blockchain berkembang, kebutuhan terhadap data yang cepat dan dapat diverifikasi berpotensi ikut meningkat.
Dengan kata lain, SQD tidak harus menjadi aplikasi yang digunakan langsung oleh jutaan investor ritel. Proyek ini berupaya menyediakan infrastruktur bagi aplikasi-aplikasi yang digunakan para investor tersebut.
Kerja Sama Google Cloud dan Bukti Penggunaan di Sektor AI
Salah satu perkembangan paling penting bagi SQD terjadi pada 24 Agustus 2026.
Melalui pengumuman resminya, SQD menyatakan telah menjalin kerja sama dengan Google Cloud untuk memperluas layanan Web3 Blockchain Analytics.
Dalam kerja sama tersebut, divisi enterprise SQD yang bernama SQD 360 berkontribusi pada proses pengindeksan dan penyediaan data blockchain untuk layanan analitik di BigQuery.
BigQuery sendiri merupakan platform analitik data milik Google Cloud yang memungkinkan pengguna mengolah kumpulan data berskala besar menggunakan SQL.
Dengan dukungan tersebut, analis dan pengembang dapat memanfaatkan data blockchain tanpa harus menangani seluruh pekerjaan pengelolaan node dan pengindeksan sendiri.
Perlu dicatat bahwa rincian nilai kontrak, pendapatan yang diterima SQD, serta dampak komersial langsung kerja sama ini terhadap kripto SQD belum diungkapkan secara terbuka.
Meski demikian, keterlibatan dalam layanan data enterprise menjadi perkembangan yang relevan untuk menilai kematangan teknologinya.
Bukti penggunaan lain datang dari Olas, ekosistem AI agent yang menggunakan blockchain untuk menjalankan dan mencatat aktivitas agen otonom.
Dalam studi kasus yang diterbitkan pada 25 September 2026, Olas menggunakan infrastruktur SQD untuk memperbaiki proses pengindeksan data aktivitas perdagangan di Polygon.
Sebelumnya, perubahan infrastruktur Polymarket membuat sistem lama Olas tertinggal dan kehilangan pencatatan sekitar 1.000 transaksi.
Menurut studi kasus tersebut, proses pengindeksan ulang penuh dengan sistem sebelumnya diperkirakan membutuhkan dua hingga tiga bulan.
Setelah beralih ke SQD, tim Olas berhasil memproses kembali sekitar 14 juta blok Polygon dalam tujuh hari, yakni pada 3–10 September 2026.
Perbandingan itu memang menggunakan estimasi sistem lama dari tim Olas, bukan pengujian independen terhadap seluruh penyedia layanan sejenis.
Namun, hasil tersebut tetap memberikan contoh konkret bagaimana teknologi SQD digunakan untuk menyelesaikan persoalan operasional aplikasi blockchain.
Jaringan Memproses Miliaran Kueri, tetapi Kapitalisasi Pasar Masih Kecil
Faktor lain yang mendukung potensi kripto SQD adalah aktivitas yang tercatat pada jaringannya.
Berdasarkan angka yang ditampilkan dasbor SQD Network saat penelusuran, jaringan tersebut telah memproses sekitar 4,44 miliar kueri dalam periode 90 hari.
Dalam periode 24 jam yang ditampilkan, jumlahnya mencapai sekitar 30,79 juta kueri, dengan data yang disalurkan sebesar 105,55 terabita.
Sementara itu, sebanyak 308,23 juta token SQD tercatat terkunci dalam jaringan.
Angka terakhir cukup menarik apabila dibandingkan dengan suplai maksimum SQD yang mencapai 1,337 miliar token.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa jumlah kripto SQD yang terkunci tersebut setara dengan sekitar 23 persen dari keseluruhan suplai maksimum token.
Artinya, terdapat penggunaan token dalam jumlah cukup besar untuk mendukung aktivitas jaringan, terutama melalui mekanisme staking dan delegasi.
Namun, data aktivitas ini juga perlu dibaca secara proporsional.
Sebanyak 4,44 miliar kueri dalam 90 hari berarti jaringan memproses rata-rata sekitar 49,3 juta kueri per hari.
Dengan angka 24 jam sebesar 30,79 juta kueri, aktivitas harian yang ditampilkan dasbor justru sekitar 38 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata periode tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa tingginya aktivitas kumulatif belum tentu mencerminkan pertumbuhan penggunaan yang berlangsung secara konsisten.
Selain itu, jumlah kueri tidak otomatis sama dengan jumlah permintaan berbayar.
Di sinilah letak pertanyaan utama mengenai status kripto SQD sebagai hidden gem.
Kapitalisasi pasar SQD berada di kisaran US$23 juta, sedangkan valuasi terdilusi penuhnya atau fully diluted valuation (FDV) sekitar US$23,5 juta.
Dengan ukuran pasar tersebut, SQD masih tergolong proyek berkapitalisasi relatif kecil, meskipun teknologinya sudah mempunyai sejumlah contoh penggunaan nyata.
Tetapi kapitalisasi pasar kecil saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa SQD diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Pendapatan, keuntungan ekonomi bagi pemegang token, dan kemampuan mempertahankan pelanggan tetap harus diperhitungkan.
Kripto SQD Mulai Dihubungkan dengan Pendapatan Nyata
Salah satu persoalan banyak proyek infrastruktur kripto adalah hubungan antara keberhasilan produk dan nilai tokennya.
Sebuah layanan blockchain bisa digunakan secara luas tanpa otomatis menciptakan permintaan yang sebanding terhadap token yang diterbitkannya.
SQD berusaha menjawab persoalan tersebut melalui mekanisme Revenue Pools.
Menurut penjelasan resmi SQD, mekanisme ini memungkinkan pemegang token mengunci SQD untuk mendukung kapasitas layanan data yang digunakan pelanggan.
Pelanggan dapat membayar layanan melalui mata uang fiat atau stablecoin. Sebagian pendapatan dari Portal kemudian dapat dialokasikan sebagai imbalan stablecoin kepada peserta yang mengunci SQD, sesuai ketentuan masing-masing pool.
Model tersebut dirancang untuk mengurangi ketergantungan jaringan pada penerbitan token baru sebagai sumber imbalan.
SQD bahkan meluncurkan Revenue Pool publik pertamanya pada April 2026, dengan Lambda sebagai penyedia layanan data yang didukung pool tersebut.
Selain mekanisme pembagian pendapatan, SQD memiliki sistem pembelian kembali dan burn token melalui FeeRouter.
Berdasarkan dokumentasi teknis pada April 2026, sebagian dana yang masuk ke Revenue Pool dapat dikonversi menjadi SQD melalui DEX, kemudian dialokasikan untuk imbalan operator jaringan dan pembakaran token.
Sebagai ilustrasi, dokumentasi tersebut menggunakan skenario pembagian dana 50:45:5.
Dalam skenario itu, 50 persen dana dialokasikan kepada penyedia pool likuiditas, 45 persen dikonversi menjadi SQD untuk imbalan worker, dan 5 persen digunakan untuk pembelian serta burn kripto SQD.
Rasio tersebut hanya merupakan contoh konfigurasi, bukan jaminan bahwa seluruh Revenue Pool menggunakan pembagian yang sama.
Secara teori, apabila penggunaan layanan berbayar terus meningkat, mekanisme ini dapat menciptakan hubungan yang lebih langsung antara permintaan data blockchain dan utilitas token SQD.
Namun, dampak riilnya tetap bergantung pada pendapatan yang berhasil dihasilkan, jumlah token yang dibeli atau dibakar, serta besarnya emisi token untuk operasional jaringan.
Potensi Kripto SQD Masih Dibarengi Sejumlah Risiko
Walaupun mempunyai fondasi teknologi yang menarik, SQD tidak terlepas dari risiko.
Pertama, adopsi teknologi belum tentu menghasilkan peningkatan harga token.
Kerja sama enterprise, aktivitas kueri dan penggunaan oleh aplikasi AI merupakan indikator operasional. Namun, belum tersedia pengungkapan pendapatan yang cukup rinci untuk menghitung nilai ekonomi seluruh aktivitas tersebut bagi pemegang kripto SQD.
Kedua, model monetisasi SQD masih berkembang.
Menariknya, halaman harga resmi SQD menyatakan bahwa sistem penagihan untuk paket Portal publik belum aktif, meskipun layanan enterprise dan mekanisme Revenue Pools telah diperkenalkan sebelumnya.
Hal tersebut tidak berarti seluruh layanan SQD belum menghasilkan pendapatan, tetapi menunjukkan pentingnya membedakan transaksi enterprise yang sudah berjalan dengan monetisasi Portal publik yang masih dipersiapkan.
Ketiga, SQD menghadapi persaingan dari berbagai penyedia infrastruktur blockchain, termasuk proyek pengindeksan data terdesentralisasi maupun perusahaan API dan layanan cloud terpusat.
Keunggulan teknologi harus terus dipertahankan agar pelanggan tidak berpindah ke layanan lain.
Risiko pasar juga tidak boleh diabaikan.
Data CoinMarketCap menunjukkan bahwa SQD telah kehilangan sekitar 94 persen nilainya dari rekor harga tertinggi pada Juni 2025. Token tersebut bahkan mencatat level terendah baru pada awal November 2026.
Penurunan sedalam itu bisa membuat valuasi tampak menarik bagi investor yang mencari aset berkapitalisasi kecil. Namun, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan tekanan jual yang besar dan belum terbentuknya pemulihan harga yang berkelanjutan.
Perbedaan data suplai beredar antara CoinGecko dan CoinMarketCap juga perlu diperhatikan saat menilai kapitalisasi pasar dan potensi dilusi token.
Dengan demikian, status SQD sebagai kandidat hidden gem lebih tepat dipandang sebagai tesis investasi yang masih membutuhkan pembuktian lanjutan.
Akankah SQD Menjadi Hidden Gem Kripto Berikutnya?
SQD Network mempunyai beberapa karakteristik yang menarik untuk diperhatikan.
Proyeknya jelas, infrastruktur sudah beroperasi, teknologi memiliki contoh penggunaan nyata, dan langkah komersialisasi mulai diarahkan ke pelanggan enterprise.
Kerja sama Google Cloud yang diumumkan pada Agustus 2026, penggunaan oleh Olas, miliaran kueri jaringan, serta pengembangan Revenue Pools menjadi faktor yang mendukung potensi jangka panjangnya.
Sementara itu, kapitalisasi pasar sekitar US$23 juta menunjukkan bahwa kripto SQD masih berada di kelompok aset kripto dengan valuasi relatif kecil.
Kombinasi tersebut membuat SQD layak masuk radar pencarian hidden gem kripto, khususnya bagi investor yang memperhatikan sektor infrastruktur blockchain.
Meski begitu, ukuran keberhasilan berikutnya bukan lagi sekadar jumlah jaringan yang didukung atau banyaknya data yang diproses.
Hal terpenting adalah apakah SQD mampu mengubah penggunaan infrastrukturnya menjadi pendapatan yang terus bertumbuh, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang terukur bagi tokennya.
Jika hal tersebut dapat dibuktikan, SQD berpotensi memiliki alasan fundamental yang lebih kuat untuk memperoleh perhatian pasar. Sebaliknya, tanpa pertumbuhan pendapatan dan permintaan token yang nyata, kapitalisasi pasar kecil saja tidak menjamin bahwa proyek ini benar-benar undervalued.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


