Lemah Lesu Digital Asset Treasury (DAT)

Pasar kripto yang sempat melambung tinggi kini menjadi ujian berat bagi perusahaan DAT yang bertaruh besar pada aset digital. Dalam video analisa yang diunggah analis on-chain, Maartun, pada Sabtu (18/10/2025), ia menyoroti bagaimana strategi “all-in” yang dulu dianggap berani kini mulai goyah di tengah tekanan.

Strategy Mulai Kehilangan Nafas

Sebagai pionir dalam strategi DAT, Strategy menjadi contoh perusahaan yang mempertaruhkan masa depan pada Bitcoin. Di bawah kepemimpinan Michael Saylor, perusahaan ini dikenal sebagai pelopor yang menulis “buku panduan” tentang bagaimana menjadikan Bitcoin sebagai inti dari model bisnis korporasi modern.

Berdasarkan data dari Saylor Tracker, Strategy kini memiliki 640.250 BTC dengan pembelian mencapai US$47 miliar. Pada puncak pasar, langkah ini terlihat jenius. Unrealized profit mereka bahkan sempat menembus US$32,47 miliar — angka yang mengesankan di dunia keuangan.

Investasi Bitcoin Strategy - Saylor Tracker
Investasi Bitcoin Strategy – Saylor Tracker

Namun, kejayaan itu tidak bertahan lama. Dalam sepuluh hari terakhir, keuntungan tersebut menyusut drastis menjadi US$21,9 miliar, yang berarti lebih dari US$10 miliar menguap begitu saja. Penurunan ini menunjukkan betapa rapuhnya strategi “all-in” terhadap fluktuasi ekstrem.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Kini, Strategy tampaknya lebih fokus menjaga stabilitas keuangan di tengah tekanan pasar yang semakin kuat, ketimbang mencari suntikan dana baru untuk memperluas portofolio Bitcoin-nya. 

BACA JUGA:  Epstein Files Ungkap Sisi Lain Michael Saylor

“Setelah periode pembelian yang sangat agresif, aktivitas pembelian mereka kini benar-benar melambat. Tampaknya, mengumpulkan dana baru untuk terus membeli lebih banyak Bitcoin menjadi jauh lebih sulit di situasi pasar yang baru ini,” jelas Maartun.

Strategy akan Jual Bitcoin? 2026 Jadi Tahun Penentu

Bitmine Bertaruh di Tengah Tekanan Pasar

Berbeda dari Strategy, perusahaan lain seperti Bitmine justru memilih menekan pedal gas lebih dalam di tengah gejolak pasar kripto. Alih-alih menahan diri, Bitmine melakukan pembelian besar-besaran senilai US$700 juta untuk menambah 177.000 Ethereum (ETH).

Perusahaan pengelola investasi aset digital (DAT) besutan Tom Lee itu kini tercatat memiliki lebih dari 3 juta ETH, menjadikannya salah satu institusi dengan eksposur Ethereum terbesar. Langkah ini menunjukkan keyakinan kuat Bitmine terhadap potensi jangka panjang ETH, meski kondisi pasar tengah tidak bersahabat.

Namun, strategi agresif itu tidak datang tanpa risiko. Dengan harga rata-rata pembelian di atas US$4.000 per ETH, posisi Bitmine kini berada “di bawah air” — artinya nilai aset mereka lebih rendah dari harga beli. Kerugian belum terealisasi (unrealized loss) perusahaan DAT itu kini menembus ratusan juta dolar.

BACA JUGA:  Pasar Crypto Terpuruk, Apakah Aroma Bullish Sudah Lenyap?

“Pada puncaknya, mereka sempat mencatat keuntungan lebih dari US$1,5 miliar. Namun kini, mereka menghadapi unrealized loss sebesar US$323 juta. Ini merupakan langkah yang sangat berani, tetapi untuk saat ini langkah tersebut justru membuat mereka menanggung kerugian besar,” ungkap Maartun.

Bitmine DAT Unrealized PnL - CryptoQuant (Maartun)
Bitmine Unrealized PnL – CryptoQuant (Maartun)

Kepercayaan Investor Metaplanet yang Mulai Terkikis

Metaplanet, perusahaan digital asset treasury (DAT) Bitcoin terbesar kedua di dunia korporasi, menghadapi tantangan yang berbeda. Jika Strategy dan Bitmine bergulat dengan volatilitas, Metaplanet justru berhadapan dengan krisis kepercayaan dari para investornya.

Secara fundamental, investasi BTC Metaplanet masih stabil. Nilai kepemilikan mereka berada di titik impas, menandakan bahwa perusahaan belum mengalami kerugian secara langsung dari pergerakan harga Bitcoin. Namun, kondisi pasar tampaknya berbicara lain.

Saham Metaplanet anjlok hingga 77 persen dari puncaknya, mencerminkan kekhawatiran yang jauh lebih dalam dibanding fluktuasi. Investor tampak mencemaskan adanya faktor tersembunyi seperti utang yang tidak diungkapkan atau risiko sistemik yang bisa menyeret perusahaan ke situasi lebih sulit.

BACA JUGA:  Changpeng Zhao: Tokenisasi RWA dan Pasar Prediksi Jadi Tren Baru

Kini, perusahaan DAT asal Jepang itu bukan hanya berjuang menjaga kinerja portofolionya, tetapi juga berusaha keras memulihkan kembali kepercayaan. Krisis ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia kripto, stabilitas harga bukan satu-satunya faktor penentu — persepsi dan kepercayaan investor juga berpengaruh besar.

Perusahaan DAT Masuki Fase Ujian Ketahanan

Era “easy money” dalam dunia digital asset treasury (DAT) tampaknya telah berakhir. Narasi yang dulu berfokus pada siapa yang paling cepat menimbun Bitcoin kini bergeser menjadi perusahaan investasi kripto mana yang mampu bertahan paling lama di tengah tekanan pasar.

“Seluruh narasi telah berubah. Ini bukan lagi perlombaan untuk melihat siapa yang bisa membeli paling banyak dan paling cepat. Sekarang, ini adalah ujian berat untuk melihat siapa yang mampu bertahan,” ujar Maartun.

Memahami Istilah Digital Asset Treasury (DAT) yang Lagi Hits

Strategy stagnan, Bitmine berharap pada rebound, Metaplanet berjuang mempertahankan kepercayaan investor. Masa depan ketiganya akan menjadi tolak ukur apakah strategi menaruh harta korporasi di aset kripto masih bisa disebut “visioner” — atau berubah menjadi perjudian berisiko tinggi. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia