Makalah Terbaru Blackrock Prediksi Hubungan AI dengan Crypto Makin Erat, Begini Penjelasannya!

Makalah terbaru BlackRock memprediksi bahwa hubungan AI dengan crypto akan semakin erat karena AI membutuhkan infrastruktur pembayaran dan aset yang dirancang khusus untuk mesin, dan blockchain bisa menyediakannya.

Kecerdasan buatan (AI) dan aset digital selama ini sering dianggap sebagai dua tren teknologi yang berjalan sendiri-sendiri. Namun, hubungan AI dengan crypto ternyata mulai menyatu. Melansir laman BlackRock dalam makalah berjudul “The Machine-Native Economy“, AI adalah kecerdasan yang dirancang untuk mesin, sedangkan aset digital adalah uang yang dirancang untuk mesin. Karena berangkat dari fondasi yang sama, keduanya dinilai bisa saling melengkapi. Yuk, kita bahas satu per satu supaya kamu paham gambaran besarnya.

BACA JUGA: Michael Saylor Sebut Masa Depan Ada di Kripto dan AI, Ini Alasannya

Mengapa Hubungan AI dengan Crypto Makin Erat?

Menurut makalah BlackRock, pemicu utamanya adalah kemunculan agentic AI. Ini adalah sistem AI yang bisa merencanakan dan menjalankan tugas bertahap untuk mencapai tujuan tertentu dengan campur tangan manusia yang minim. AI seperti ini tidak hanya menghasilkan teks, tetapi juga bisa bertindak di dunia nyata, misalnya membeli sesuatu atau memulai transaksi keuangan.

Di titik inilah blockchain berperan. BlackRock menyebut blockchain sebagai infrastruktur terprogram yang menghubungkan kecerdasan dengan aktivitas ekonomi. Sederhananya, AI yang menafsirkan informasi dan mengarahkan tindakan membutuhkan jalur yang bisa dipakai untuk membayar dan menyelesaikan transaksi, dan blockchain menyediakan jalur itu.

BACA JUGA:  Membedah Fitur Scan Binance di Cryptoiz, Cara Menyaring Kripto Sebelum Trading

Kesamaan Tokenisasi yang Menjembatani Hubungan AI dengan Crypto

Salah satu temuan menarik dalam makalah ini adalah kemiripan cara kerja model bahasa besar (LLM) dan blockchain. Melansir laman BlackRock, LLM memecah teks menjadi potongan kecil yang disebut token, lalu mengubahnya menjadi angka agar bisa diproses komputer. Blockchain melakukan hal serupa untuk nilai ekonomi, yaitu mengubah aset seperti uang tunai, unit reksa dana, atau surat berharga menjadi token digital yang tercatat di buku besar terdistribusi.

Fungsinya memang berbeda, tetapi keduanya sama-sama menerjemahkan hal di dunia nyata menjadi format yang bisa dipahami mesin. Karena itu, agen AI bisa berinteraksi dengan data blockchain secara lebih langsung dibandingkan dengan banyak sistem keuangan lama yang terpecah-pecah. Agen AI juga bisa memeriksa saldo dan aturan sebelum menjalankan transaksi yang diizinkan, lalu memastikan penyelesaiannya.

BlackRock juga mengutip riset Bitcoin Policy Institute. Melansir laman lembaga tersebut, simulasi terkontrol menunjukkan model AI cenderung memilih stablecoin untuk pembayaran sehari-hari dan bitcoin untuk menyimpan nilai jangka panjang. BlackRock menegaskan bahwa hasil ini berasal dari simulasi, bukan perilaku agen AI yang sebenarnya diamati.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Peran Blockchain dan Stablecoin dalam Pembayaran Agen AI

Bagian ini menjelaskan peran crypto dan blockchain dalam pengembangan AI yang paling nyata. Melansir laman BlackRock, jaringan pembayaran lama seperti ACH dan kartu kurang cocok untuk transaksi AI yang bernilai sangat kecil, berjalan nonstop, dan sangat sering.

Alasannya, proses pembukaan akun dan otorisasinya kerap melibatkan manusia, biaya penerimaan pedagang bisa membuat transaksi kecil tidak ekonomis, dan ada batasan penyelesaian serta skalabilitas.

Sebagai solusi, muncul protokol pembayaran baru. Salah satunya x402, protokol terbuka buatan Coinbase yang memanfaatkan kode HTTP 402 “Payment Required“. BlackRock menjelaskan bahwa x402 memungkinkan pembayaran otomatis dengan stablecoin seperti USDC, dan data atau layanan langsung diberikan begitu pembayaran terkonfirmasi.

Ada juga protokol lain, seperti Machine Payments Protocol dari Stripe dan Tempo, Agentic Commerce Protocol dari Stripe dan OpenAI, Agents Payment Protocol dari Google, serta Trusted Agents Protocol dari Visa. Semuanya berjalan di atas standar dasar seperti MCP dari Anthropic dan A2A dari Google.

Stablecoin diprediksi memimpin penggunaan transaksional ini. Melansir data yang dikutip BlackRock, kapitalisasi pasar stablecoin melampaui 300 miliar dolar AS per September 2026. Volume transaksi stablecoin yang sudah disesuaikan melampaui 11 triliun dolar AS pada 2025, sebanding dengan volume tahunan Visa dan Mastercard.

Data volume transaksi stablecoin dibanding jaringan Visa dan Mastercard
Data volume transaksi stablecoin dibanding jaringan Visa dan Mastercard. Foto: Blackrock

Memang masih di bawah 93 triliun dolar AS yang ditransfer lewat ACH, tetapi pertumbuhannya 80 persen per tahun sejak 2020 hingga 2025, jauh di atas ACH yang sekitar 8,5 persen.

Bagi aset kripto lain, dampaknya bersifat tidak langsung. BlackRock menyebut bahwa pada jaringan permissionless seperti Ethereum, makin ramainya aktivitas stablecoin dapat meningkatkan permintaan ruang blok dan layanan validator. Seberapa besar nilai yang ditangkap aset native seperti ETH bergantung pada desain biaya, staking, dan gas di tiap jaringan.

BACA JUGA: Michael Saylor Comeback? Transaksi Bitcoinnya Kembali Jadi Sorotan!

Kebutuhan Komputasi Membuka Peluang Baru dalam Hubungan AI dengan Crypto

Area ketiga adalah komputasi, yaitu daya olah yang dibutuhkan untuk melatih dan menjalankan AI. Melansir laman BlackRock, sejumlah estimasi menempatkan belanja modal AI kumulatif di atas US$5 triliun sepanjang 2025 hingga 2030.

Selain itu, estimasi konsensus untuk AWS, Microsoft Intelligent Cloud, dan Google Cloud menunjukkan pendapatan gabungan sekitar US$1,1 triliun pada 2030, dengan pertumbuhan 29 persen per tahun dari level 2025.

Dengan skala sebesar itu, BlackRock menilai komputasi bisa menjadi sumber daya ekonomi yang investable dan mendorong lahirnya kelas aset digital baru. Bayangkan klaim atas kapasitas komputasi yang distandarkan, lalu dapat diperdagangkan, dijadikan jaminan, dan diselesaikan lewat infrastruktur terprogram.

Agen AI pun bisa mencari kapasitas terbaik dari sisi harga, kecepatan, dan lokasi, lalu membayarnya per pemakaian lewat x402.

Sinyal awalnya sudah terlihat. Melansir laman Stripe, pada Agustus 2026 perusahaan itu sepakat mengakuisisi OpenRouter, platform yang mendistribusikan beban kerja ke lebih dari 400 model dari lebih dari 80 penyedia. BlackRock membaca langkah ini sebagai tanda bahwa pengadaan komputasi, penagihan berbasis penggunaan, dan penyelesaian terprogram mulai menyatu.

BACA JUGA:  Mau Berburu Meme Coin di Arc? Coba 3 Launchpad Kripto Ini

Dampak Hubungan AI dengan Crypto bagi Industri

Jika prediksi ini terwujud, blockchain dan aset digital bisa menjadi infrastruktur inti bagi ekonomi digital yang makin otonom. Permintaan atas jaringan blockchain, stablecoin, dan aset dunia nyata yang ditokenisasi berpotensi meningkat seiring makin banyaknya transaksi mesin ke mesin. Di sisi lain, AI berpotensi menjadi sumber permintaan yang selama ini kurang disadari pasar.

Namun, kamu perlu tetap realistis. BlackRock sendiri menegaskan bahwa ekosistemnya masih baru, dengan aktivitas pembayaran agen AI dan likuiditas pasar komputasi yang masih terbatas.

Makalah itu juga menyebut tantangan desain kontrak, seperti perbedaan produktivitas chip dan biaya energi antarwilayah. BlackRock menegaskan pula bahwa makalah ini bukan nasihat investasi maupun rekomendasi membeli atau menjual aset tertentu. Jadi, anggap isinya sebagai bahan belajar dan sudut pandang, bukan jaminan.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait