Mantan Napi Pencuri Crypto Ungkap Penyebab Binance Dibobol Rp114 Triliun

Peretasan Binance yang menyebabkan pencurian aset kripto senilai sekitar US$6,3 miliar atau setara Rp114 triliun mendapat sorotan dari Ilya Lichtenstein, mantan narapidana yang pernah membobol bursa kripto Bitfinex dan mencuri lebih dari 100.000 BTC.

Dalam wawancara bersama jurnalis CNN Jon Sarlin, Lichtenstein mengungkap bahwa kelemahan terbesar sistem keamanan bursa kripto tidak selalu terletak pada teknologi utamanya, melainkan pada orang-orang yang memiliki akses ke dalam sistem tersebut.

Menurutnya, pola serangan terhadap Binance memiliki kemiripan dengan metode yang selama ini digunakan kelompok peretas Korea Utara (Korut). Alih-alih menyerang situs utama yang memiliki perlindungan ketat, pelaku kemungkinan mencari celah melalui karyawan atau perangkat kerja yang lebih rentan.

Lichtenstein sendiri bukan sosok asing dalam kejahatan kripto. Berdasarkan dokumen Departemen Kehakiman AS, ia mencuri 119.754 BTC dari Bitfinex pada 2016 dan kemudian berupaya menyamarkan aliran dana tersebut bersama istrinya, Heather Morgan.

Ia mengaku bersalah dalam perkara konspirasi pencucian uang pada 2023 dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara pada November 2024. Setelah dibebaskan lebih awal pada Januari 2026, Lichtenstein mengaku beralih menjadi peretas white hat yang membantu pekerjaan keamanan siber.

Celah Keamanan Karyawan Jadi Sorotan

Lichtenstein menilai kelompok peretas berpengalaman biasanya tidak menghabiskan sumber daya untuk menyerang bagian sistem yang paling kuat. Mereka justru mencari titik masuk yang perlindungannya lebih lemah.

BACA JUGA:  Hacker Jenius Bobol Binance, Ini Modusnya!

Salah satu kemungkinannya adalah serangan phishing terhadap karyawan, yang dapat membuat korban tanpa sadar mengunduh perangkat lunak berbahaya atau memberikan akses kepada penyerang.

Ia menekankan bahwa melindungi situs utama saja tidak cukup apabila jalur akses lainnya masih dapat dimanfaatkan untuk menyusup ke infrastruktur internal perusahaan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Penjelasan tersebut sejalan dengan sebagian temuan awal Binance. Dalam pembaruan investigasi resminya, bursa itu mengungkap kemungkinan keterlibatan laptop seorang teknisi DevOps yang telah disusupi.

Akses tersebut diduga memungkinkan pelaku menjangkau layanan internal dan mengirimkan transaksi penarikan tanpa izin. Namun, penyelidikan berikutnya menemukan adanya titik pelanggaran keamanan tambahan.

Binance juga menyatakan belum menemukan bukti kebocoran private key dompetnya. Dengan demikian, penyebab teknis lengkap peretasan masih belum dapat dipastikan.

Sementara itu, perusahaan analitik blockchain TRM Labs menemukan bahwa sekitar US$6,36 miliar dipindahkan dari dompet Binance melalui sepuluh jaringan blockchain. Sebagian besar perpindahan tersebut berlangsung hanya dalam waktu sekitar 20 menit.

Mencuri Miliaran Dolar Ternyata Bukan Bagian Tersulit

Menariknya, Lichtenstein menilai tantangan terbesar bagi peretas justru muncul setelah mereka berhasil mengambil aset kripto.

Pasalnya, transaksi blockchain meninggalkan catatan yang dapat diperiksa secara publik. Dana curian bernilai miliaran dolar akan segera menjadi perhatian penyelidik, perusahaan analitik, dan penerbit aset digital.

BACA JUGA:  Dana Kasus Ledger Terendus Masuk Binance, Jejak 195 Transaksi Terungkap

Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti memegang kentang panas. Pelaku harus segera menemukan cara menyamarkan asal dana sebelum asetnya dibekukan atau alirannya berhasil dilacak.

Pengalaman pribadinya juga menunjukkan betapa sulitnya mengubah kripto hasil pencurian menjadi uang yang benar-benar dapat digunakan tanpa memicu pemeriksaan.

Ketika ditanya bagaimana rasanya menguasai Bitcoin bernilai miliaran dolar tetapi tidak leluasa menggunakannya, Lichtenstein mengaku pengalaman tersebut sangat menakutkan dan tidak akan merekomendasikannya kepada siapa pun.

Ia menjelaskan bahwa pelaku dapat memecah dana menjadi transaksi kecil, memindahkannya melalui beberapa jaringan blockchain, atau memanfaatkan berbagai platform untuk mempersulit pelacakan.

Namun, teknik tersebut tidak otomatis menghapus jejak kejahatan karena catatan transaksi tetap tersimpan dan kemampuan analisis blockchain terus berkembang.

AI Mempercepat Pencucian Dana, Penyelidik Berpacu dengan Waktu

Lichtenstein juga mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau AI dapat mempercepat proses penyamaran transaksi kripto hasil kejahatan.

Menurutnya, agen AI mampu mengotomatiskan perpindahan dan pemecahan dana dalam jumlah besar dengan kecepatan yang sulit diimbangi penyelidik manusia.

Ia membandingkan situasi tersebut dengan penyelidikan pembunuhan, ketika 48 jam pertama sering menjadi periode penting untuk menemukan petunjuk.

Dalam kasus pencurian kripto, kecepatan penelusuran juga menentukan peluang pihak berwenang untuk mengidentifikasi dan membekukan dana sebelum alirannya semakin rumit.

BACA JUGA:  Peretasan Binance Rp114 Triliun Jadi Alarm bagi RI, Pengamat Ingatkan Risiko Lumpuhnya Pasar Kripto Nasional

Terkait insiden Binance, FBI pada Sabtu (31/10/2026) mengidentifikasi TraderTraitor, kelompok peretas yang terkait pemerintah Korea Utara, sebagai pihak yang bertanggung jawab.

FBI mengungkap bahwa pelaku telah mengonversi aset curian terutama menjadi Ethereum dan diperkirakan akan menggunakan layanan DeFi serta pertukaran instan untuk melanjutkan pencucian dana.

Di tengah upaya pelacakan tersebut, Binance menyatakan sekitar US$3 miliar aset terdampak telah dibekukan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak di industri kripto.

Dalam pembaruan pemulihan pada 31 Oktober, Binance juga mengklaim telah mengganti sekitar 90 persen aset yang dicuri menggunakan dana perusahaan dan sejumlah dana perlindungan. Penggantian tersebut berbeda dari pemulihan langsung aset hasil pencurian.

Bagi Lichtenstein, sekalipun pelaku berhasil menghindari pelacakan untuk sementara waktu, catatan permanen blockchain tetap menjadi ancaman jangka panjang. Teknologi investigasi yang semakin maju memungkinkan penyelidik menelusuri kembali transaksi bahkan bertahun-tahun setelah pencurian berlangsung.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait