Mantan PM Inggris Sebut Bitcoin Mirip Skema Ponzi

Komentar kontroversial datang dari mantan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson. Dalam sebuah artikel, ia menyebut Bitcoin “mirip skema Ponzi” dan bahkan membandingkannya dengan kartu Pokémon yang menurutnya lebih mudah dipahami sebagai aset koleksi.

Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan di komunitas kripto. Sejumlah tokoh industri pun menanggapi dengan membantah pandangan Johnson serta menjelaskan kembali bagaimana sebenarnya mekanisme Bitcoin bekerja.

Bitcoin Tak Lebih Baik dari Kartu Pokémon

Dalam artikel opininya yang diterbitkan oleh Daily Mail pada Jumat (13/03/2026), Boris Johnson memulai tulisannya dengan kisah tentang seorang temannya yang menjadi korban penipuan investasi kripto.

Menurut Johnson, temannya memberikan 500 pounds kepada seseorang yang berjanji dapat menggandakan uang tersebut melalui investasi Bitcoin. Namun, alih-alih memperoleh keuntungan, ia justru terus diminta membayar berbagai “biaya tambahan”.

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  Bitcoin Dapat Sinyal Bullish Baru, Data Arus Bursa Mulai Berubah

Selama lebih dari tiga setengah tahun, korban mengirimkan dana hingga totalnya mencapai sekitar 20.000 pounds. Meski begitu, dana tersebut tidak pernah berhasil ditarik kembali dan akhirnya menimbulkan kesulitan finansial bagi korban.

“Dia kesulitan membayar tagihan. Dia bukan satu-satunya. Orang lain di lingkungan itu juga mengalami mimpi buruk yang sama,” tulis Johnson.

Berangkat dari kisah tersebut, Johnson menyimpulkan bahwa Bitcoin memiliki karakteristik yang menyerupai skema Ponzi. Ia bahkan menilai kartu Pokémon justru memiliki nilai koleksi yang lebih jelas.

“Makhluk kartun Jepang kecil yang aneh ini tampaknya masih memiliki daya tarik yang sama seperti 30 tahun lalu. Anak-anak mengaguminya, membanggakannya, bahkan memperdebatkannya,” tulis Johnson.

10 Tips Investasi Bitcoin untuk Pemula yang Harus Kamu Tahu!

Pelaku Industri Balas Kritik Johnson

Tak butuh waktu lama, komentar mantan Perdana Menteri Inggris tersebut langsung memicu berbagai respons dari pelaku industri.

BACA JUGA:  Bitcoin Keluar Massal dari Bursa, Smart Money Lagi Gerak?

Salah satu tanggapan datang dari Michael Saylor, tokoh yang dikenal sebagai pendukung kuat Bitcoin. Ia menegaskan bahwa menyebut Bitcoin sebagai Ponzi merupakan kesalahpahaman mendasar tentang cara kerja aset tersebut.

“Bitcoin bukan skema Ponzi. Skema Ponzi membutuhkan operator pusat yang menjanjikan keuntungan dan membayar investor lama dengan dana dari investor baru,” ujar Saylor di X, Sabtu (14/03/2026).

Ia menambahkan Bitcoin tidak memiliki penerbit, promotor, maupun pihak yang menjanjikan imbal hasil. Menurutnya, Bitcoin hanyalah jaringan moneter terbuka dan terdesentralisasi yang berjalan berdasarkan kode serta permintaan pasar.

Perdebatan yang muncul dari pernyataan Johnson kembali menunjukkan bahwa hingga kini Bitcoin masih menjadi topik yang memicu pandangan yang sangat beragam.

Sebagian pihak melihat Bitcoin sebagai inovasi besar dalam sistem keuangan digital. Namun, di sisi lain, tidak sedikit orang yang masih memandang aset kripto tersebut dengan skeptis.

BACA JUGA:  Ray Dalio: Bitcoin Belum Bisa Gantikan Emas Saat Krisis

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait