Di tengah meningkatnya kepanikan pasar akibat gejolak politik dan ekonomi global, data on-chain Bitcoin (BTC) justru menampilkan gambaran yang kontras.
Menurut analis XWIN Research Japan di platform CryptoQuant, sinyal fundamental jaringan BTC tetap kuat, meski tekanan sentimen investor terus meningkat di pasar tradisional.
Berdasarkan laporan terbarunya, sekitar 25 persen pasokan BTC saat ini berada dalam kondisi rugi.

Angka tersebut biasanya menandai fase kapitulasi, yakni titik di mana investor jangka pendek menyerah dan mulai menyerahkan aset mereka ke tangan investor jangka panjang. Secara historis, fase ini kerap menjadi awal dari periode akumulasi baru dalam siklus pasar Bitcoin.
“Indikator ini menggambarkan bahwa koin sedang berpindah dari tangan lemah ke tangan kuat. Itu tanda rotasi alami, bukan tanda kehancuran,” ujar analis XWIN Research Japan.
Aktivitas Dana Institusional Justru Meningkat
Selain peningkatan jumlah pasokan BTC yang mengalami kerugian, volume transaksi terkait dana investasi dan ETF juga meningkat tajam.
Data ini menandakan meningkatnya aktivitas dari kalangan institusional, yang diyakini tengah melakukan penyeimbangan portofolio atau bahkan akumulasi posisi baru di tengah koreksi pasar.

Fenomena tersebut sering kali terlihat mendekati fase bawah pasar (market bottom), ketika investor besar memanfaatkan kepanikan ritel untuk memperkuat posisi mereka. XWIN menilai hal ini sebagai sinyal positif yang menunjukkan ketahanan BTC secara struktural, meski tekanan jangka pendek masih terasa.
Secara keseluruhan, aktivitas di jaringan menggambarkan proses rotation phase, di mana aset berpindah dari pemegang jangka pendek yang emosional menuju investor jangka panjang dengan keyakinan kuat terhadap prospek Bitcoin. Tidak ditemukan indikasi likuidasi massal atau tekanan sistemik di jaringan.
“Fundamental Bitcoin masih kokoh. Tidak ada tanda-tanda kerusakan struktural di level on-chain,” lanjut XWIN dalam analisisnya.
Ketegangan Politik dan Ekonomi Perburuk Sentimen Pasar BTC
Namun demikian, kekuatan fundamental di ranah blockchain berlawanan dengan kondisi makroekonomi yang kian rapuh.
Menurut laporan yang sama, sentimen investor di AS melemah tajam akibat meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi. Kerusuhan di New York City, kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan lokal, dan berlarutnya government shutdown telah memperburuk kecemasan pelaku pasar.
Selain itu, kenaikan tingkat popularitas Donald Trump serta meningkatnya ketegangan diplomatik antara Washington dan Beijing turut memperdalam aversi risiko global.
Dampaknya terlihat pada Coinbase Premium Index yang mencatatkan nilai negatif selama beberapa hari berturut-turut, menandakan adanya tekanan jual dari investor berbasis AS.
Situasi ini menciptakan kontras mencolok antara kekuatan on-chain dan psikologi pasar yang rapuh. Di satu sisi, data BTC menampilkan tanda-tanda akumulasi dan stabilitas jangka panjang; di sisi lain, kondisi makro memperlihatkan reaksi berlebihan dan ketakutan yang masih mendominasi.
XWIN Research Japan menilai ketidakseimbangan ini sebagai fase alami dalam transisi pasar kripto. Selama ketidakpastian geopolitik dan kebijakan fiskal belum mereda, dinamika antara fundamental BTC yang kuat dan sentimen pasar yang goyah kemungkinan akan terus bertahan.
Sementara investor ritel cenderung terpengaruh oleh tekanan eksternal, para pemain besar tampaknya memanfaatkan momentum untuk memperkuat eksposur terhadap BTC.
Dengan tidak adanya tanda-tanda stres sistemik di jaringan, banyak analis percaya bahwa pasar saat ini sedang membangun fondasi baru untuk siklus kenaikan berikutnya.
Pada akhirnya, meski volatilitas jangka pendek masih tinggi, data yang dijabarkan di atas mengindikasikan bahwa pondasi on-chain Bitcoin tetap solid.
Selama faktor eksternal seperti kebijakan politik AS dan ketegangan global belum stabil, pasar kripto akan tetap berada dalam fase “badai sentimen” yang sensitif, di mana BTC berdiri sebagai indikator utama antara ketahanan fundamental dan ketakutan investor. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



