Harga Bitcoin dinilai memiliki hubungan yang sangat lemah dengan pergerakan pasar saham global. Chief Investment Officer (CIO) Bitwise Asset Management, Matt Hougan, menyebut bahwa korelasi harga Bitcoin dalam 10 tahun terakhir justru lebih dekat dengan harga alpukat dibandingkan dengan indeks saham utama.
Dalam sebuah simposium pada Desember lalu, Hougan menjelaskan bahwa korelasi rolling 30 hari Bitcoin terhadap saham hanya sekitar 0,2. Angka tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin tidak mengikuti pola pasar ekuitas secara konsisten. Sementara itu, korelasi Bitcoin dengan obligasi dan komoditas bahkan nyaris nol.
“Korelasi Bitcoin dengan saham selama satu dekade terakhir sangat rendah. Secara statistik, pergerakannya lebih mirip dengan harga alpukat daripada dengan pasar ekuitas,” ujar Hougan.
Secara data, pergerakan harga Bitcoin lebih mirip “acak” seperti jika kamu bandingkan dengan harga alpukat.
Menurutnya, anggapan bahwa Bitcoin selalu bergerak searah dengan saham muncul karena perhatian media biasanya terfokus pada periode krisis pasar. Pada saat terjadi tekanan besar di pasar keuangan, berbagai aset berisiko cenderung turun bersamaan, sehingga menciptakan kesan korelasi yang kuat.
“Media sering menyimpulkan adanya hubungan erat karena mereka melihat Bitcoin terutama saat pasar sedang anjlok. Padahal, jika dilihat dalam jangka panjang, data menunjukkan ceritanya berbeda,” tambah Hougan.
Ia menilai pergerakan harga Bitcoin lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal industri aset digital, seperti arus modal baru, sentimen investor kripto, serta perkembangan produk investasi berbasis Bitcoin.
Korelasi Rendah dalam Perspektif Data Jangka Panjang
Data historis menunjukkan bahwa Bitcoin tidak memiliki keterkaitan yang konsisten dengan kinerja saham, obligasi, maupun komoditas utama. Selama 10 tahun terakhir, korelasi rata-rata Bitcoin dengan pasar saham berada di kisaran 0,2, sementara dengan obligasi dan komoditas mendekati nol.
Kondisi ini menegaskan bahwa Bitcoin berperilaku sebagai kelas aset yang berdiri sendiri. Meski dalam periode tertentu pergerakannya tampak sejalan dengan saham, hubungan tersebut tidak bersifat struktural.
Hougan menilai bahwa fluktuasi harga Bitcoin lebih sering dipicu oleh dinamika permintaan dan penawaran dalam ekosistem kripto, bukan oleh kondisi makroekonomi yang sama dengan pasar saham.
“Bitcoin memiliki penggerak harga yang unik. Arus modal satu arah, minat investor baru, dan adopsi produk investasi berbasis Bitcoin menciptakan dinamika yang berbeda dari aset tradisional,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa lonjakan harga Bitcoin pada beberapa siklus sebelumnya lebih dipengaruhi oleh masuknya modal baru yang bersifat “asimetris,” di mana permintaan tumbuh lebih cepat dibandingkan pasokan.
Dalam konteks ini, Bitcoin tidak selalu bereaksi terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pasar saham, seperti kinerja perusahaan, suku bunga, atau laporan ekonomi. Sebaliknya, sentimen di pasar kripto dan perkembangan produk investasi menjadi faktor dominan.
Prospek Permintaan dan Dinamika Pasar Bitcoin
Selain membahas korelasi, Hougan juga menyoroti potensi perubahan dinamika harga Bitcoin ke depan. Ia menilai permintaan jangka panjang dari produk investasi berbasis Bitcoin dapat menjadi faktor penting dalam pergerakan harga.
Menurutnya, jika permintaan terus meningkat sementara pasokan BTC baru tetap terbatas, tekanan beli dapat mendorong harga naik secara signifikan. Ia membandingkan situasi ini dengan pasar emas di masa lalu, ketika permintaan institusional meningkat secara bertahap sebelum akhirnya memicu lonjakan harga.
“Ketika pembeli terus masuk dan pasokan dari penjual semakin menipis, harga bisa bergerak sangat cepat,” ujar Hougan.
Hougan menilai bahwa Bitcoin bisa bergerak parabolic (melonjak cepat) jika permintaan ETF jangka panjang terus kuat, mirip bagaimana emas naik setelah permintaan institusional besar.
Hougan juga menyebut bahwa volatilitas Bitcoin kemungkinan akan menurun seiring dengan semakin matangnya pasar dan meningkatnya partisipasi investor institusional. Penurunan volatilitas ini dapat memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset yang berdiri sendiri, bukan sekadar instrumen spekulatif yang mengikuti arah pasar saham.
“Kami memperkirakan korelasi Bitcoin dengan saham justru bisa semakin menurun, bukan meningkat,” tambah Hougan.
Dengan karakteristik pergerakan harga yang berbeda dari aset tradisional, Bitcoin dinilai semakin menunjukkan identitasnya sebagai kelas aset tersendiri. Rendahnya korelasi dengan saham, obligasi dan komoditas memperkuat pandangan bahwa Bitcoin tidak bergerak mengikuti pola pasar biasa.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



