Membaca Arah Aliansi Politik BRICS Terkini

Aliansi politik BRICS semakin berkembang di antara negara anggotanya. Namun, BRICS sendiri mengalami perkembangan yang cukup panjang.

Istilah BRICS adalah akronim yang mewakili lima ekonomi berkembang utama: Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Jim O’Neill, seorang ekonom Goldman Sachs, pada 2001, yang menciptakan istilah “BRIC” untuk menyoroti potensi pertumbuhan signifikan Brazil, Rusia, India, dan Tiongkok.

Ekonomi-ekonomi ini diproyeksikan akan secara kolektif mendominasi ekonomi global pada 2050. Kemudian pada 2010, Afrika Selatan bergabung dengan grup ini, memperluas akronim menjadi BRICS.

Aliansi Politik BRICS di Kancah Internasional

Awalnya, BRICS adalah istilah yang diciptakan untuk menyoroti peluang investasi di ekonomi yang berkembang pesat ini. Konsep ini bukan merupakan organisasi antar pemerintah formal pada awalnya.

Namun, hal ini berubah pada 2009 ketika negara-negara anggota mulai melakukan pertemuan tahunan untuk mengkoordinasikan kebijakan dan membahas isu-isu multilateral.

Hal ini menandai transisi BRICS dari menjadi konsep ekonomi semata menjadi blok geopolitik yang lebih kohesif. Bahkan, terdapat aliansi politik BRICS yang tidak bisa diremehkan.

Karena, negara-negara BRICS mencakup sekitar 26,7 persen permukaan daratan dunia dan berkontribusi sekitar 41,5 persen dari populasi global.

Secara gabungan, PDB nominal mereka mencapai sekitar US$28,06 triliun, mewakili sekitar 26,6 persen dari produk bruto dunia. Selain itu, negara-negara ini memiliki perkiraan US$4,46 triliun dalam cadangan devisa gabungan.

Seiring waktu, BRICS telah berkembang menjadi entitas geopolitik yang signifikan, seringkali dilihat sebagai pesaing blok G7 dari ekonomi maju.

Aliansi politik BRICS telah mengumumkan beberapa inisiatif, termasuk New Development Bank, Contingent Reserve Arrangement, sistem pembayaran BRICS, Publikasi Statistik Bersama, dan mata uang cadangan keranjang BRICS.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh aliansi politik BRICS ini telah tumbuh lebih jauh lagi, memposisikan dirinya sebagai pelindung bagi dunia berkembang.

Khususnya, selama pandemi COVID-19, BRICS memposisikan dirinya sebagai penimbang terhadap Barat, dengan berargumen bahwa negara-negara maju belum memenuhi komitmen mereka kepada dunia berkembang.

Aliansi politik BRICS sekarang sedang mempertimbangkan untuk memperluas keanggotaannya, dengan jumlah negara yang semakin banyak menunjukkan minat untuk bergabung dengan blok ini.

Pejabat senior lebih dari selusin negara, termasuk Arab Saudi dan Iran, baru-baru ini mengadakan pembicaraan untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan negara-negara BRICS.

Langkah ini terutama didorong oleh Tiongkok dan telah mendapatkan dorongan lebih lanjut dari Rusia sejak awal perang Ukraina pada Februari 2022.

Negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuba, Republik Demokratik Kongo, Komoro, Gabon, dan Kazakhstan telah mengirimkan perwakilan untuk pembicaraan yang disebut “Teman-teman BRICS”, dikutip dari Reuters.

Sementara itu, Mesir, Argentina, Bangladesh, Guinea-Bissau, dan Indonesia berpartisipasi secara virtual.

Negara-negara ini telah mengungkapkan keinginan mereka untuk bergabung ke dalam blok yang sama, dengan beberapa menggaungkan pengecaman negara-negara BRICS terhadap kurangnya komitmen dunia maju terhadap negara-negara berkembang.

Diskusi yang sedang berlangsung berfokus pada prinsip-prinsip panduan, standar, kriteria, dan prosedur untuk aliansi politik BRICS dan bidang lain yang diperluas.

Menteri luar negeri bertujuan untuk menyelesaikan kerangka kerja untuk menerima anggota baru sebelum para pemimpin BRICS bertemu di sebuah pertemuan di Johannesburg pada Agustus mendatang.

Namun, proses perluasan ini tidak hadir tanpa adanya tantangan. Meskipun Tiongkok telah mengungkapkan keinginannya agar blok tersebut mulai menerima anggota baru, mekanisme untuk keanggotaan baru belum ditentukan.

Juga, kontroversi terkait isu-isu geopolitik, seperti kemungkinan kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin di pertemuan mendatang di tengah masalah hukum dengan Pengadilan Pidana Internasional juga ikut mempersulit situasi.

Meski demikian, potensi perluasan aliansi politik BRICS menunjukkan pengaruhnya yang semakin besar di panggung global, mencerminkan dinamika perubahan kekuatan dan kekuatan ekonomi global.

Seiring evolusi blok ini, peran dan dampaknya pada lanskap politik dan ekonomi global akan dipantau dengan cermat​. [az]

Terkini

Warta Korporat

Terkait