Dalam beberapa hari terakhir, pergerakan harga Bitcoin terlihat sulit ditebak. Sejak akhir pekan lalu, BTC cenderung bergerak sideways di kisaran US$85.000 hingga US$89.000, dengan tekanan yang membuatnya belum mampu menembus kembali resistance di US$90.000.
Situasi ini memicu tanda tanya di pasar. Dengan 2025 yang tinggal menghitung hari, apakah masih ada ruang bagi Bitcoin untuk kembali reli dan bergerak di atas US$90.000 sebelum pergantian tahun?
Bitcoin Kian Langka, Tekanan Opsi Berakhir
Berdasarkan data on-chain yang dibagikan Crypto Rover pada Jumat (26/12/2025), cadangan Bitcoin di exchange kembali menurun. Grafik Exchange Reserve (MoM) memperlihatkan arus keluar BTC lebih dominan dibanding arus masuk, menandakan pasokan semakin menipis.
“Bitcoin saat ini semakin langka. Pada akhirnya, guncangan pasokan (supply shock) tidak akan terelakkan,” tulis Crypto Rover di X. Kondisi ini memperkuat narasi kelangkaan Bitcoin yang kian nyata.

Saat semakin sedikit BTC tersedia untuk diperjualbelikan, tekanan jual struktural ikut melemah, sebuah pola yang dalam siklus sebelumnya sering menjadi fase akumulasi sebelum pergerakan harga BTC yang lebih agresif.
Tekanan pasar juga mulai mereda dari sisi derivatif. Analis ternama Quinten mengungkapkan bahwa sekitar US$23,8 miliar opsi Bitcoin berakhir pada Sabtu lalu, setara lebih dari 1 persen kapitalisasi pasar BTC, sekaligus menjadi expiry terbesar dalam sejarah.
Menurutnya, berakhirnya kontrak ini berpotensi mengurangi tekanan pada harga Bitcoin dan membuka ruang bagi pergerakan naik yang lebih alami.
“Selama berminggu-minggu, posisi-posisi ini memaksa market maker untuk membeli dan menjual Bitcoin, sehingga menahan harga di sekitar US$90.000. Tekanan buatan tersebut kini menghilang,” jelas Quinten.

Kombinasi penurunan cadangan Bitcoin di crypto exchange dan meredanya tekanan mengindikasikan peluang bagi BTC untuk menembus level US$90.000 sebelum akhir tahun, sekaligus membuka ruang kenaikan yang lebih besar pada 2026.
Peralihan Siklus Bitcoin, Bersiap Menyambut 2026
Di tengah sinyal kelangkaan Bitcoin dan meredanya tekanan jangka pendek, perhatian pasar kripto mulai bergeser dari spekulasi sesaat menuju gambaran yang lebih struktural. Fokus tidak lagi semata pada volatilitas, melainkan pada perubahan fundamental.
Dalam CNBC Crypto World pada Sabtu (27/12/2025), CIO Bitwise Matt Hougan dan CIO ReserveOne Sebastian Bea membahas kinerja Bitcoin serta menyoroti pertanyaan utama: apakah lonjakan adopsi institusional sepanjang 2025 telah mengakhiri siklus empat tahunan.
Hougan menilai relevansi siklus empat tahunan semakin memudar. Menurutnya, pasar Bitcoin kini digerakkan oleh kekuatan struktural baru seperti ETF, kemajuan regulasi, serta pertumbuhan stablecoin dan tokenisasi.
“Saya pikir kekuatan-kekuatan tersebut lebih besar dan lebih kuat dibandingkan faktor-faktor yang secara historis memicu siklus empat tahunan. Karena itu, saya memperkirakan pasar akan mengalami kenaikan tahun depan,” tegasnya.
Meski demikian, Hougan mengakui siklus lama belum sepenuhnya hilang dari psikologi pasar. Narasi empat tahunan masih memengaruhi perilaku investor ritel dan dinilai menjadi salah satu faktor yang menahan pergerakan harga dalam jangka pendek.
Sebastian Bea mengambil pandangan yang lebih berhati-hati. Ia menekankan bahwa pasar tetap digerakkan oleh manusia yang “predictably irrational”. Meski secara fundamental siklus empat tahunan bisa diperdebatkan, Bea menilai pola tersebut masih dapat berulang.
“Saya pikir sulit untuk memastikan bahwa siklus empat tahunan sudah mati. Kita juga perlu melihat fakta bahwa sejauh ini siklus kali ini belum terlalu bagus. Jadi, jika ada kekhawatiran, pola tersebut setidaknya masih bisa terulang meski hanya sebagian,” tuturnya.
Keduanya sepakat bahwa pergeseran dominasi investor menjadi perubahan utama. Masuknya institusi dengan pola transaksi yang berlawanan dengan ritel dinilai menekan volatilitas dan membentuk struktur pasar Bitcoin yang lebih stabil menjelang 2026.
US$90.000 sebagai Fase Transisi Bitcoin
Pada akhirnya, peluang Bitcoin menembus US$90.000 di sisa 2025 tidak berdiri sendiri sebagai isu teknikal jangka pendek. Penurunan pasokan di exchange membuat likuiditas semakin ketat dan mengurangi tekanan jual struktural.
Di saat yang sama, meredanya tekanan derivatif membuka ruang bagi pergerakan harga Bitcoin yang lebih alami. Kondisi ini memperkuat fondasi pasar di tengah perubahan struktur yang semakin dipengaruhi oleh masuknya investor institusional.
Jika US$90.000 ditembus, pergerakan tersebut berpotensi menjadi lebih dari sekadar kenaikan akhir tahun. Momentum ini menandai fase transisi BTC menuju 2026, di mana arah pasar Bitcoin tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh siklus empat tahunan, melainkan oleh struktur baru.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



