Menakar Ancaman Quantum Computing bagi Keamanan Bitcoin

Perkembangan quantum computing kembali memicu kekhawatiran: apakah teknologi ini suatu hari bisa merobohkan fondasi keamanan Bitcoin. Isu ini dibingkai secara sensasional, seolah menjadi ancaman yang mendesak. Namun, riset yang dipublikasikan CoinShares pada Jumat (06/02/2026) justru menghadirkan perspektif yang jauh dari narasi kiamat Bitcoin.

Kerangka Keamanan Bitcoin dan Titik Lemah Teoretis

Keamanan Bitcoin bertumpu pada dua pilar kriptografi. Pilar pertama adalah algoritma tanda tangan digital berbasis elliptic curve, yakni ECDSA dan Schnorr pada kurva secp256k1, yang berfungsi mengotorisasi setiap transaksi di jaringan.

Pilar kedua adalah fungsi hash seperti SHA-256. Mekanisme ini melindungi alamat BTC dan menjadi fondasi proses mining Bitcoin, sehingga transaksi dan blok baru hanya bisa diverifikasi melalui kerja komputasi yang mahal.

Quantum computing memperkenalkan algoritma yang secara teoretis relevan terhadap struktur ini. Shor’s algorithm bisa memecahkan logaritma yang menjadi dasar public key, sementara Grover’s algorithm dapat menurunkan tingkat keamanan hash.

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  Strawmap Jadi Strategi Vitalik Perkuat Ethereum di Era Quantum
Algoritma yang Rentan Terhadap Quantum Computing - CoinShares
Algoritma yang Rentan Terhadap Quantum Computing – CoinShares

Meski demikian, komputasi kuantum tidak meruntuhkan Bitcoin secara keseluruhan. Teknologi ini tidak dapat mengubah batas suplai BTC, tidak bisa melewati mekanisme Proof-of-Work, dan tidak memungkinkan pembobolan seluruh alamat Bitcoin secara serentak.

“Ini tetap membuat serangan brute force tidak praktis karena kebutuhan komputasi yang sangat besar, sehingga alamat yang dilindungi oleh hash tetap aman,” sebagaimana tercantum pada riset tersebut.

Seberapa Besar Ancaman Quantum Computing?

CoinShares menggarisbawahi bahwa eksposur serangan quantum terhadap Bitcoin sangat terbatas. Hanya alamat legacy Pay-to-Public-Key (P2PK) yang benar-benar rentan terhadap serangan semacam ini.

“Eksposurnya terbatas pada alamat-alamat yang kunci publiknya terlihat, terutama output legacy Pay-to-Public-Key (P2PK), yang menampung sekitar 1,6 juta BTC atau sekitar 8 persen dari total suplai,” jelas CoinShares.

Namun, dari jumlah tersebut, hanya sekitar 10.200 BTC yang berada dalam UTXO berukuran besar dan berpotensi menimbulkan gangguan pasar jika diretas oleh quantum computing secara tiba-tiba.

BACA JUGA:  Analisis Kripto ASTER, BTC, XRP, DOGE dan HYPE Terbaru
Jumlah Bitcoin yang Rentan Terhadap Komputer Kuantum - CoinShares
Jumlah Bitcoin yang Rentan Terhadap Komputer Kuantum – CoinShares

Sisanya tersebar di alamat kecil. Secara realistis, dompet Bitcoin ini membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk dieksploitasi, bahkan dengan asumsi lompatan teknologi komputasi kuantum yang sangat optimistis.

Sementara itu, alamat seperti P2PKH dan P2SH tetap aman karena kunci publik baru terekspos saat dibelanjakan. Klaim bahwa 25 persen Bitcoin “rentan” dinilai berlebihan, karena sering memasukkan risiko yang sebenarnya bisa dikurangi dengan menghindari reuse alamat.

Timeline Quantum Computing dan Kesiapan Bitcoin

Dari sisi waktu, CoinShares menilai ancaman quantum computing masih sangat jauh. Untuk memecahkan secp256k1 dalam hitungan jam atau hari, dibutuhkan jutaan logical qubits dengan tingkat koreksi kesalahan yang saat ini belum mendekati realitas. 

“Serangan jangka panjang dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan secara baru layak dalam satu dekade. Selain itu itu, serangan jangka pendek seperti mempool attack memerlukan komputasi kurang dari 10 menit, sesuatu realistis dalam waktu puluhan tahun,” ungkap mereka.

BACA JUGA:  Kripto LUNC Bangkit dari Kubur Pasca Gugatan Jane Street

Dalam konteks ini, respons berlebihan seperti hard fork agresif atau pembakaran koin legacy justru dinilai berisiko. Langkah semacam itu berpotensi merusak prinsip netralitas, hak kepemilikan, dan imutabilitas Bitcoin.

Sebaliknya, pendekatan evolusi bertahap dinilai lebih rasional. Bitcoin memiliki fondasi untuk mengadopsi tanda tangan post-quantum lewat soft fork, sementara pemilik aset dapat bermigrasi secara sukarela seiring perkembangan teknologi.

Grayscale: Komputer Kuantum Belum Ganggu Bitcoin di 2026

Bagi investor, kesimpulannya jelas: serangan kuantum bukan krisis mendesak bagi Bitcoin, melainkan risiko jangka panjang yang terukur dan dapat diantisipasi. Fokus pada fundamental, bukan ketakutan berlebihan, tetap menjadi sikap paling masuk akal.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait