Mengapa Harga Bitcoin Tak Kunjung Melejit? Data Ini Ungkap Fakta Mengejutkan

Harga Bitcoin masih kesulitan mencatat kenaikan hebat meskipun jumlah BTC yang dipegang investor jangka panjang mencapai rekor tertinggi.

Temuan terbaru dari analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant menunjukkan bahwa masalah utama pasar saat ini bukan berasal dari tekanan jual, melainkan dari lemahnya permintaan baru yang masuk ke pasar.

Dalam laporannya, XWIN Japan mengungkap bahwa pasokan Bitcoin yang dimiliki pemegang jangka panjang (LTH) kini telah mencapai sekitar 15,8 juta BTC.

Secara historis, peningkatan pasokan LTH sering dianggap sebagai sinyal bullish karena menunjukkan semakin sedikit investor yang berniat menjual asetnya. Namun kali ini, kondisi tersebut belum mampu mengangkat harga Bitcoin seperti yang terjadi pada siklus sebelumnya.

Saat Akumulasi Holder Tak Lagi Dorong Harga Bitcoin

Menurut XWIN Japan, kenaikan pasokan yang dipegang investor jangka panjang justru dapat mencerminkan kurangnya pembeli baru di pasar. Dalam bull market yang sehat, Bitcoin yang dijual oleh pemegang lama biasanya langsung diserap oleh investor baru sehingga aktivitas perpindahan aset tetap tinggi dan permintaan terus bertumbuh.

Bitcoin total supply 31 mei

Sebaliknya, data saat ini menunjukkan Bitcoin berpindah tangan lebih lambat dibandingkan periode ekspansi sebelumnya. Situasi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa minat beli baru belum cukup kuat untuk menopang kenaikan harga Bitcoin.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Kembali Panas, Kini Bidik US$85.000

Data kepemilikan juga menunjukkan perlambatan akumulasi dari kelompok investor besar. Kepemilikan whale yang menguasai 1.000 hingga 10.000 BTC dilaporkan tidak lagi bertumbuh dan mulai kembali mendekati pertumbuhan tahunan negatif.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Sementara itu, kelompok dolphin yang memiliki 100 hingga 1.000 BTC, termasuk entitas yang mewakili permintaan ETF dan perusahaan, juga mengalami perlambatan sejak akhir 2025.

XWIN Japan menjelaskan bahwa sebagian peningkatan pasokan LTH saat ini juga berasal dari Bitcoin lama yang tersimpan di Coinbase dan secara otomatis masuk kategori investor jangka panjang seiring bertambahnya usia kepemilikan. Dengan demikian, peningkatan pasokan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan masuknya modal baru ke pasar.

Selain itu, sejumlah indikator lain turut memperkuat pandangan tersebut. Arus dana Bitcoin ETF dilaporkan melemah dalam beberapa pekan terakhir, Coinbase Premium cenderung berada di area negatif, jumlah alamat aktif terus menurun, dan permintaan on-chain menunjukkan perlambatan.

“Bitcoin saat ini tidak memiliki masalah penjual. Bitcoin memiliki masalah pembeli,” ujar XWIN Japan.

Menurut mereka, harga Bitcoin kemungkinan masih akan bergerak dalam fase pemulihan permintaan hingga arus masuk ETF kembali menguat, akumulasi whale meningkat dan aktivitas jaringan kembali pulih.

BACA JUGA:  Tether Gandeng Pemerintah Negara Ini, Stablecoin Nasional Siap Diluncurkan

Sinyal Bahaya Muncul, Bitcoin Terancam Kehilangan Momentum

Pandangan yang relatif serupa juga terlihat dari data yang dirilis Santiment. Firma analitik tersebut mencatat bahwa Bitcoin ETF telah mengalami total arus keluar lebih dari US$4,01 miliar sejak 7 Mei. Santiment menilai ETF kini menjadi salah satu indikator paling jelas untuk mengukur sentimen investor arus utama terhadap harga Bitcoin.

BTC santiment 31 mei

Menurut Santiment, lonjakan arus masuk ETF biasanya mencerminkan optimisme dan peningkatan permintaan, sedangkan arus keluar besar sering menunjukkan meningkatnya ketakutan investor.

Meski demikian, perusahaan tersebut melihat bahwa arus keluar lebih dari US$4 miliar selama tiga pekan terakhir juga dapat menjadi tanda bahwa banyak investor telah lebih dulu mengurangi eksposurnya. Kondisi itu berpotensi menandakan pasar mulai mendekati titik dasar lokal yang selama ini ditunggu sebagian investor jangka panjang.

Sementara itu, analis teknikal CryptoZ melihat harga Bitcoin berisiko melanjutkan pelemahan apabila gagal merebut kembali area penting di sekitar US$79.000.

Ia menilai pergerakan terbaru semakin menyerupai skenario false breakout setelah harga kembali masuk ke dalam rentang perdagangan sebelumnya usai sempat menembus puncak lama.

BACA JUGA:  Platform Kripto Ini Diserang Hacker, Rp129 Miliar Raib Seketika

BTC 31 mei

Menurut CryptoZ, harga Bitcoin masih berpotensi menguji area support jangka pendek di kisaran US$75.000 hingga US$76.000. Bahkan, apabila tekanan berlanjut, area US$70.000 dapat menjadi target pengujian berikutnya dalam beberapa waktu mendatang.

Ia menekankan bahwa kubu bullish perlu mengembalikan posisi harga di atas US$79.000 untuk memulihkan momentum kenaikan.

CryptoZ juga mengamati potensi koreksi pada indeks saham S&P 500 tahun ini. Jika skenario tersebut terjadi, tekanan tambahan terhadap aset berisiko, termasuk harga Bitcoin, berpotensi muncul dan memperlambat proses pemulihan pasar kripto secara keseluruhan.

Dengan kombinasi melemahnya permintaan on-chain, perlambatan akumulasi investor besar, serta arus keluar ETF yang masih dominan, pergerakan harga Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa pasar masih mencari sumber permintaan baru yang cukup kuat untuk memulai fase kenaikan berikutnya.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait