Mengenal “Emas Digital” Berbasis Blockchain, Sebagai Alternatif Investasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Ketika saham dan minyak mentah anjlok, harga emas malah melejit. Emas fisik masih jadi idaman manusia. Tapi bagaimana dengan emas digital berbasis teknologi blockchain? Apa saja kelebihan dan prospeknya?

OLEH: Haris Munandar
Marketing Communication Executive di Tokocrypto.com

Hampir seluruh bursa saham di dunia mengalami penurunan, sebagai dampak dari ketidakpastian ekonomi global, termasuk indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tercatat sejak awal tahun telah mengalami penurunan sebanyak 12,40 persen.

Beberapa bursa yang mengalami penurunan cukup dalam pada perdagangan 4 Maret 2020 adalah Nasdaq yang mengalami penurunan sebesar -2,99 persen. Sedangkan Dow Jones sebanyak -2.99 persen, dan disusul oleh S&P 500 sebesar -2,81 persen.

Emas Mengilau
Namun tren penurunan tersebut ternyata berbanding terbalik dengan sektor komoditas, terutama emas yang pada perdagangan kemarin 3 Maret lalu telah mencatatkan pada level tertingginya.

Harga emas mengalami kenaikan 3,24 persen hanya dalam satu hari perdagangan. Sebagai gambaran, saat ini harga emas Antam per gram dijual di kisaran Rp827 ribu, ini merupakan rekor tertinggi setelah harga emas Antam menembus Rp819 ribu pada 24 Februari 2020 lalu.

Naiknya harga emas Antam itu mengekor harga emas di pasar spot global yang naik seiring dengan dampak isu global seperti penyebaran virus Corona ke beberapa negara di dunia.

Pergerakan harga emas tahun 2015-2020.

Dalam dalam kondisi seperti ini, emas bisa dijadikan alternatif investasi yang dapat diunggulkan. Meskipun banyak orang beranggapan bahwa investasi emas adalah cara kuno, namun fakta membuktikan bahwa investasi emas secara konsisten dapat memberi return yang positif, melampui inflasi rupiah per tahun.

“Emas Digital”
Peningkatan harga emas ini juga sejalan dengan peningkatan kemudahan dalam berinvestasi emas. Jika dulu kita direpotkan dengan cara yang tidak praktis, semisal kita harus pergi ke toko emas dan menyimpannya di bank ataupun membeli emas dalam perhiasan. Itu tentu memiliki resiko tinggi.

Nah, kini terdapat beberapa layanan yang dapat mempermudah para investor untuk membeli emas, contohnya adalah Pegadaian, di mana kita bisa menabung emas dan menyimpannya dengan biaya murah. Atau bisa juga membeli emas di situs e-commerce seperti Tokopedia.

Namun, ada yang lebih praktis, yakni membeli “emas digital” berbasis teknologi blockchain. Salah satunya tersedia yakni Digix (DGX) yang bisa di beli di Tokocrypto.

Secara prinsip DGX adalah “token digital” yang merepresentasikan nilai emas fisik asli. Dalam hal ini emas disimpan dan dikelola oleh perusahaan Digix Global di Singapura. Harga 1 unit DGX setara dengan harga 1 gram emas asli.

Jadi, dengan membeli, menjual dan mengirimkan DGX, sama halnya Anda membeli, menjual dan mengirimkan emas tersebut. Bahkan DGX yang Anda simpan bisa di-redeem/recast menjadi emas batangan sungguhan di Kanada dan Singapura.

Seperti Anda, saya pun berharap pihak Digix Global bisa bekerjasama dengan Antam di Indonesia, agar pengguna DGX bisa me-redeem-nya di gerai Antam terdekat.

Kelebihan dari investasi emas digital ini adalah dapat menghemat waktu dan memberi rasa aman, karena tidak perlu menyediakan tempat penyimpanan, serta tidak memerlukan biaya penyimpanan.

Karena emas fisik direpresentasikan secara digital di blockchain, maka setiap pengguna dan Anda sendiri bukan pengguna DGX, bisa memastikan bahwa DGX itu memang benar-benar ditransaksikan. Lihatlah contoh transaksi DGX di tautan ini, di Ethereum Blockchain Explorer, Etherscan.

Akhirul kata, emas terlindungi dari inflasi dan harganya cenderung naik dalam jangka panjang, sehingga cocok untuk tabungan masa depan atau menghindari dampak negatif ketidakpastian ekonomi global. [***]

Terkini

Warta Korporat

Terkait