Pembobolan Binance yang menguras aset lebih dari US$6 miliar akhirnya mengarah pada satu nama yang sudah cukup lama menghantui industri kripto. Namanya TraderTraitor, aktor siber yang dikaitkan dengan Korea Utara.
Nama TraderTraitor sebenarnya bukan pemain baru. Jauh sebelum kasus Binance, kelompok ini telah dikaitkan dengan berbagai pencurian kripto besar dan memiliki hubungan erat dengan Lazarus Group serta operasi siber Korea Utara.
Siapa Sebenarnya TraderTraitor?
Jejak TraderTraitor setidaknya sudah dipantau sejak 2020. Namun, namanya mulai mencuat pada April 2022 setelah FBI, CISA dan Departemen Keuangan AS menerbitkan peringatan bersama mengenai ancaman terhadap perusahaan blockchain.
Tidak diketahui secara pasti kapan TraderTraitor terbentuk. Berbeda dengan hacker yang memiliki sejarah pendirian cukup jelas, istilah ini banyak digunakan untuk melacak aktivitas siber tertentu yang berhubungan dengan Korea Utara.
Dalam peringatan tersebut, pemerintah AS menyebut target mereka cukup luas, mulai dari perusahaan kripto, crypto exchange, protokol DeFi, perusahaan modal ventura hingga individu yang menyimpan aset kripto dalam jumlah besar.
7 Peretasan Kripto Sepanjang 2026, Kerugiannya Tembus Rp157 Triliun!
Menariknya, salah satu senjata TraderTraitor bukan eksploitasi blockchain, melainkan social engineering. Hacker biasanya mendekati karyawan melalui media sosial dengan menyamar sebagai perekrut, kolega atau pihak lain yang terlihat meyakinkan.
Korban kemudian diarahkan membuka aplikasi, situs atau kode yang telah disisipi malware. Setelah perangkat berhasil disusupi, penyerang mencari jalan menuju sistem perusahaan dan infrastruktur yang berkaitan dengan aset kripto.
Pola ini terlihat dalam kasus DMM Bitcoin pada 2024. Hacker menyamar sebagai perekrut di LinkedIn dan mendekati karyawan perusahaan wallet Ginco sebelum mengirim tes pekerjaan yang berisi kode Python berbahaya.
Jejak TraderTraitor dalam Peretasan Kripto
Nama TraderTraitor mulai mendapat perhatian besar setelah pencurian sekitar US$100 juta dari Harmony Horizon Bridge pada Juni 2022. FBI kemudian mengonfirmasi Lazarus Group atau APT38 sebagai pelakunya.
Menariknya, FBI juga mengungkap bahwa kampanye malware TraderTraitor digunakan oleh aktor Korea Utara dalam proses penyusupan terhadap Harmony.
Aksinya belum berhenti. Pada 2023, FBI mengaitkan aktor yang berafiliasi dengan TraderTraitor dengan sejumlah pencurian besar, termasuk sekitar US$100 juta dari Atomic Wallet, US$60 juta dari Alphapo dan US$37 juta dari CoinsPaid.
Setahun kemudian giliran DMM Bitcoin menjadi korban. Sekitar 4.502,9 BTC senilai US$308 juta dicuri setelah pelaku berhasil membobol akses karyawan dan memanipulasi permintaan transaksi yang sah.
Kasus terbesar berikutnya muncul pada Februari 2025. Bybit kehilangan sekitar US$1,5 miliar aset kripto dan FBI secara resmi menyatakan Korea Utara berada di balik pencurian tersebut.
“FBI menyebut aktivitas siber berbahaya Korea Utara ini sebagai ‘TraderTraitor’,” tulis FBI saat mengumumkan hasil atribusinya pada Februari lalu.
Polanya cukup jelas. TraderTraitor memakai beragam teknik, dari manipulasi karyawan, pencurian akses hingga pemindahan dana lintas blockchain untuk menguasai aset kripto dalam jumlah besar.
Apa Hubungannya dengan Lazarus Group dan Korea Utara?
Hubungan antara TraderTraitor dan Lazarus Group memang terasa membingungkan. Sebab, sejumlah lembaga dan perusahaan keamanan menggunakan nama berbeda untuk melacak aktivitas siber Korea Utara.
Peringatan pemerintah AS pada 2022 menyebut aktor yang menjalankan aktivitas tersebut juga banyak dilacak industri keamanan sebagai Lazarus Group, APT38, BlueNoroff dan Stardust Chollima.
FBI bahkan pernah menggunakan istilah “TraderTraitor-affiliated actors” sekaligus menyebut mereka juga dikenal sebagai Lazarus Group dan APT38 ketika melacak dana curian Korea Utara pada 2023.
Mengenal Lazarus Group: Kelompok Perampok Pyongyang dengan Jejak Peretasan Miliaran Dolar!
Artinya, TraderTraitor tidak sebaiknya dipahami sebagai satu orang misterius yang melakukan seluruh peretasan. Nama itu lebih dekat dengan label terhadap aktivitas atau aktor siber Korea Utara yang memiliki hubungan dengan ekosistem Lazarus.
Hubungannya dengan pemerintah Korut juga telah lama disorot. Departemen Keuangan AS menyebut Lazarus Group berada di bawah kendali badan intelijen utama Korea Utara.
“Lazarus Group, Bluenoroff dan Andariel berada di bawah kendali RGB, yang telah ditetapkan oleh AS dan PBB,” tulis Departemen Keuangan AS pada akhir 2019.
Lazarus sendiri telah dibentuk pemerintah Korea Utara setidaknya sejak 2007 dan berada di bawah 110th Research Center dalam struktur RGB. Kelompok tersebut kemudian dijatuhi sanksi oleh AS pada September 2019.
Dengan kata lain, TraderTraitor bisa dianggap sebagai salah satu wajah dari operasi siber Korut yang lebih luas, khususnya aktivitas yang banyak menyasar perusahaan blockchain dan aset digital.
TraderTraitor Kini Muncul dalam Peretasan Binance
Nama itu kembali muncul setelah Binance diretas pada Kamis (29/10/2026). Serangan tersebut menyebabkan aset senilai US$6,3 miliar berpindah dari wallet Binance.
Petunjuk mengenai pelakunya mulai terlihat ketika dana dari peretasan Binance dan Bitget ditemukan bercampur pada alamat Ethereum yang sama setelah melewati THORChain.
Temuan ZachXBT mengindikasikan kemungkinan kedua serangan dilakukan oleh aktor yang sama. TRM Labs kemudian turut menghubungkan peretasan Binance dengan TraderTraitor berdasarkan intelijen on-chain dan off-chain.
Dugaan tersebut memperoleh konfirmasi lebih kuat pada Sabtu (31/10/2026). FBI secara resmi menyatakan Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian lebih dari US$6 miliar dari Binance.
“FBI menyatakan bahwa Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian lebih dari US$6 miliar aset virtual dari Binance. FBI menyebut aktivitas siber berbahaya Korea Utara ini sebagai “TraderTraitor”,” tulis mereka.
Korut Dituduh Bobol Binance Rp114 Triliun, Adik Kim Jong Un Buka Suara!
FBI juga mempublikasikan ratusan alamat blockchain yang disebut pernah menampung dana curian atau berkaitan dengan operasi tersebut. Totalnya mencapai 628 entri, terdiri atas 608 alamat Ethereum, 19 Bitcoin dan satu Solana.
Rentetan tersebut membuat TraderTraitor kembali menjadi perhatian. Dari Harmony, Atomic Wallet, DMM Bitcoin, Bybit hingga Binance, nama ini terus muncul dalam sejumlah peretasan kripto besar yang dikaitkan dengan Korea Utara.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


