Keputusan pemerintah Amerika Serikat untuk melakukan operasi militer ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro berhasil mengguncang publik. Isu kartel dan kekayaan minyak yang dimiliki Venezuela dengan cepat muncul ke publik. Namun, di balik semua itu, muncul juga desas-desus Bitcoin senilai US$60 miliar yang dimiliki oleh rezim Maduro. Berikut ini adalah ulasannya!
Serangan Amerika Serikat ke Venezuela
Pada dini hari Sabtu, 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer yang dramatis di Venezuela. Melansir laman AP News, pasukan Amerika Serikat dilaporkan menyerbu Caracas dan berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro serta istrinya, Cilia Flores, dari kediaman mereka.
Penangkapan ini mengakhiri kekuasaan Maduro dan menandai intervensi militer AS paling signifikan di Amerika Latin sejak invasi Panama pada tahun 1989. Maduro segera diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan federal atas perdagangan narkoba dan senjata .
Meskipun penangkapan Maduro dirayakan sebagai kemenangan penegakan hukum dan kebijakan luar negeri AS, di kalangan intelijen, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendesak: Di mana uangnya?
Spekulasi Kepemilikan Bitcoin Senilai US$60 Miliar
Selama bertahun-tahun, rezim Maduro dituduh menjarah kekayaan Venezuela secara sistematis, termasuk miliaran dolar dari pendapatan minyak, cadangan emas, dan aset negara.
Melansir laman Whale Hunting, sumber intelijen manusia (HUMINT) mereka yang memiliki pengetahuan langsung tentang operasi tersebut, mengatakan sebagian besar kekayaan ini telah dikonversi menjadi mata uang kripto.

Pusat dari spekulasi ini adalah dugaan kepemilikan Bitcoin oleh rezim Maduro yang diperkirakan mencapai US$60 miliar. Jika angka ini terverifikasi, kekayaan tersembunyi rezim tersebut akan menjadikannya salah satu pemegang mata uang kripto terbesar di dunia, hampir setara dengan perusahaan publik seperti MicroStrategy dan bahkan berpotensi melampaui seluruh cadangan nasional El Salvador.
Klaim ini, meskipun masih bersifat spekulasi dan belum dikonfirmasi melalui analisis blockchain, didukung oleh perhitungan matematis yang provokatif berdasarkan konversi emas pada harga Bitcoin yang rendah.
Bagaimana Venezuela Diduga bisa Memiliki Bitcoin Sebanyak Itu?
Kekayaan US$60 miliar ini diduga berasal dari operasi keuangan yang berani dan terstruktur, yang dikenal sebagai “Gold-to-Crypto Pipeline“. Operasi ini bertujuan untuk mengubah cadangan emas Venezuela yang terlacak menjadi mata uang kripto yang sulit disita dan dilacak oleh penegak hukum Barat.

Proses konversi ini dimulai ketika krisis ekonomi Venezuela memburuk dan sanksi AS membatasi akses negara tersebut ke mata uang keras. Rezim Maduro, di bawah pengawasan sekutu dekatnya Tareck El Aissami, meningkatkan ekspor emas secara dramatis.
Kami mencoba meringkas operasi konversi emas ke kripto yang dilakukan oleh rezim Maduro. Tahapan operasi ini bersumber dari artikel opini di halaman ZeroHedge:
| Tahap Operasi | Deskripsi Proses | Skala dan Dampak |
| 1. Ekstraksi dan Transportasi | Emas dari Arco Minero del Orinoco dibeli oleh perusahaan negara Minerven, kemudian diterbangkan ke Turki dan Uni Emirat Arab (UEA). Pada tahun 2018 saja, OECD melaporkan bahwa Venezuela mengekspor 73,2 ton emas, senilai sekitar US$2,7 miliar pada saat itu. | Emas juga dikirim ke Iran sebagai bagian dari skema tukar-guling emas-untuk-bensin, yang diduga dikoordinasikan oleh IRGC Quds Force dan Hezbollah. |
| 2. Konversi ke Kripto | Hasil penjualan emas di Turki dan UEA dikonversi menjadi Bitcoin melalui broker Over-The-Counter (OTC) yang beroperasi di luar sistem perbankan tradisional. | Konversi ini terjadi pada periode 2018-2020, ketika harga Bitcoin berkisar antara US$3.000 hingga US$10.000. |
| 3. Penyembunyian Aset | Bitcoin yang diperoleh kemudian dipindahkan melalui mixer dan disimpan dalam cold wallets yang dirancang untuk berada di luar jangkauan pemerintah atau bursa. | Jika US$3 miliar hasil emas dikonversi pada harga rata-rata US$5.000, nilainya akan melonjak menjadi sekitar US$40 miliar pada puncak harga Bitcoin US$69.000. |
Infrastruktur kripto ini juga meluas ke sektor minyak. Skandal korupsi PDVSA-Cripto mengungkapkan bahwa mitra Saab, Álvaro Pulido, menggunakan sistem penyelesaian berbasis Tether (USDT) untuk mengalihkan miliaran dolar hasil penjualan minyak. Pada Desember 2025, laman Ainvest mengungkapkan bahwa Venezuela mengumpulkan 80 persen pendapatan minyaknya dalam USDT.
Siapa Alex Saab?

Venezuelanalysis
Alex Nain Saab Morán adalah sosok sentral dalam arsitektur keuangan bayangan Venezuela. Dalam narasi resmi Venezuela, ia adalah seorang diplomat dan patriot yang melawan sanksi AS.
Namun, di Washington, ia dikenal sebagai penghindar sanksi profesional yang membangun labirin perusahaan offshore untuk memperkaya lingkaran dalam Maduro.
Masih berasal dari sumber ZeroHedge, Saab memulai karirnya di Venezuela melalui kontrak-kontrak yang sangat menguntungkan, seperti penyediaan rumah pracetak dan program makanan bersubsidi CLAP, yang semuanya dituduh melibatkan penggelembungan harga dan korupsi. Ia kemudian diangkat sebagai Utusan Khusus pada April 2018, memberinya kekebalan diplomatik.
Peran Saab melampaui sekadar kontraktor, ia menjadi penjamin kekayaan Maduro. Seorang mantan jaksa Venezuela, Zair Mundaray, menyatakan bahwa Saab adalah orang yang memastikan kekayaan Maduro tersebar di berbagai negara dan aset konvertibel, termasuk kripto.
Yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa Saab ternyata adalah agen ganda. Dokumen pengadilan mengungkapkan bahwa Saab telah bekerja sama dengan Badan Penegakan Narkoba AS (DEA) sejak 2016, bahkan saat ia membangun kerajaan finansial Maduro.
Ia memberikan informasi tentang suap kepada pejabat tinggi Venezuela dan membayar lebih dari US$12,5 juta ke rekening yang dikontrol DEA. Pada Desember 2023, Saab dibebaskan dari tahanan AS melalui pertukaran tahanan dan kembali ke Caracas sebagai pahlawan, diangkat menjadi Menteri Industri.
Siapa yang Memegang Kunci Bitcoinnya?
Dengan Maduro di tangan AS, pertanyaan paling krusial adalah siapa yang memegang kunci akses ke aset kripto senilai US$60 miliar tersebut. Spekulasi menunjuk pada lingkaran kecil orang kepercayaan, dengan Alex Saab sebagai figur sentral.
Terdapat beberapa tokoh yang disebut dalam dugaan ini, berikut adalah ringkasan peran dan spekulasinya masih melansir dari sumber ZeroHedge:
| Tokoh Kunci | Peran yang Diduga | Status dan Spekulasi |
| Alex Saab | Arsitek keuangan dan penjamin kekayaan Maduro. Diduga memegang kunci utama dompet kripto. | Setelah dibebaskan, ia kembali menjadi pusat arsitektur kelangsungan hidup rezim. Pertanyaan besarnya adalah: Akankah ia bekerja sama lagi dengan AS?. |
| David Nicolas Rubio Gonzalez | Kurir fisik yang mengangkut emas dari Venezuela ke Turki/Dubai. Anak dari mitra Saab, Álvaro Pulido. | Disanksi oleh AS pada 2019 tetapi tidak didakwa. Spekulasi muncul bahwa ia mungkin bekerja sama dengan otoritas AS atau berada di bawah dakwaan yang disegel (sealed indictment). |
| Pengacara Swiss | Diduga mengontrol akses ke dompet kripto. | Sumber menyebutkan adanya pengacara di Swiss yang memiliki kendali atas sebagian kunci. |
Sumber-sumber intelijen menunjukkan bahwa kunci-kunci tersebut mungkin didistribusikan di antara banyak orang, yurisdiksi, dan lapisan keamanan. Strategi ini dirancang untuk memastikan aset tetap aman, bahkan jika pemimpin rezim tertangkap seperti sekarang ini.
Lalu, Apa Motif Serangan Amerika Serikat yang Sebenarnya?
Jadi, di balik berbagai motif yang bermunculan terkait langkah agresif Amerika Serikat terhadap Venezuela, pertanyaan utamanya sebenarnya sederhana: apa yang benar-benar mereka cari?
Apakah ini semata soal dakwaan perdagangan narkoba dan senjata seperti yang disampaikan secara resmi, atau ada agenda lain yang jauh lebih strategis di balik layar?
Jika benar Venezuela menguasai Bitcoin senilai sekitar US$60 miliar, maka operasi ini bukan hanya soal penegakan hukum, melainkan juga tentang memutus sumber pendanaan rezim, menekan jaringan kejahatan lintas negara, dan menegaskan dominasi geopolitik Amerika Serikat di kawasan.
Konflik yang terjadi tidak lagi terbatas pada sanksi ekonomi atau tekanan diplomatik, tetapi telah bergeser ke medan yang lebih senyap namun krusial, yaitu perebutan kendali atas aset digital di jaringan blockchain.
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



