Referensi kripto kembali menyusup ke budaya pop. Kali ini datang dari Drake lewat album terbarunya Iceman. Bukan sekadar selipan lirik, penyebutan Bitcoin semakin terang-terangan, dan memicu satu pertanyaan klasik: ini cuma gaya, atau ada sinyal yang lebih dalam?
Bitcoin Kembali Muncul di Lirik Drake
Album Iceman yang dirilis pada Jumat (15/05/2026) langsung menyita perhatian publik. Salah satu track berjudul “Dust” memuat baris yang cukup mencolok, Drake menyebut dirinya sebagai “A BTC crypto big-timer.”
Kalimat ini memang sederhana, tapi efeknya besar. Bitcoin kembali masuk ke arus utama lewat figur pop, bukan lewat grafik harga, tapi lewat lirik yang mudah dicerna oleh banyak orang.
Bagi sebagian pihak, ini bukan kebetulan. Penyebutan BTC kerap muncul di fase ketika minat ritel mulai bangkit lagi, terutama saat pasar mulai terasa “hidup” meski belum terjadi euforia.
Meski harga BTC masih berada jauh di bawah puncak Oktober 2025, referensi budaya seperti ini sering jadi pemantik perhatian baru. Efeknya tidak selalu instan, tapi cukup untuk membangun narasi.
Menariknya, ini bukan kali pertama Drake memainkan narasi kripto dalam musiknya. Ia tidak sekadar ikut tren, tapi menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari identitas, simbol status, dan cara menunjukkan keberanian dalam mengambil risiko.
Saat Bitcoin Berubah dari Metafora Jadi Status
Referensi Bitcoin dalam karya Drake sebenarnya mengalami evolusi. Pada lagu “What Did I Miss?” (2025), BTC digunakan sebagai metafora kehidupan, naik turun, tidak pasti, dan penuh kejutan. Saat itu, Bitcoin menjadi cermin emosi, bukan alat pamer.
Namun di “Dust,” pendekatannya berubah. Tidak lagi reflektif, melainkan lebih agresif dan penuh percaya diri. Drake menempatkan dirinya sebagai “big-timer,” seolah ingin menegaskan posisi di puncak, baik di industri musik maupun dari sisi finansial.
Bitcoin Jadi Cerminan Hidup Drake dalam Lagu ‘What Did I Miss?’
Perubahan ini mencerminkan bagaimana Bitcoin sendiri dipersepsikan publik. Dari sekadar aset spekulatif, kini ia telah menjadi simbol yang lebih luas, kekayaan, pengaruh, bahkan keberanian menghadapi volatilitas pasar.
Di sisi lain, pendekatan ini juga menunjukkan bagaimana budaya pop bekerja. Simbol yang awalnya teknis dan kompleks bisa disederhanakan menjadi bahasa yang mudah dicerna, lalu diterima secara massal.
Saat Drake Sentil FTX dan Sisi Gelap Kripto
Tidak berhenti di Bitcoin, Drake juga menyentil salah satu skandal di dunia kripto. Dalam lirik yang sama, ia menyebut Sam Bankman-Fried, mantan CEO FTX yang jatuh akibat kasus besar pada 2022.
“An FTX penthouse high-riser… Samuel Bankman, free all my guys up,” rap Drake dalam verse-nya. Baris ini langsung mengundang reaksi, mengingat SBF divonis bersalah dan kini menjalani hukuman 25 tahun penjara setelah US$8 miliar dana pengguna hilang.
Referensi ini terasa tajam, bahkan provokatif. Di tengah spekulasi soal pengampunan presiden yang sempat beredar di komunitas kripto, lirik tersebut seperti bermain di wilayah abu-abu antara sindiran dan solidaritas.
Namun, di situlah daya tariknya. Drake tidak hanya menyebut BTC sebagai simbol kesuksesan, tetapi juga mengaitkannya dengan sisi gelap industri kripto. Ini menjadi pengingat bahwa di balik kilau aset digital, ada sejarah kegagalan yang belum sepenuhnya dilupakan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


