Keputusan Strategy menjual sebagian kecil kepemilikan Bitcoin sempat memicu tanda tanya di kalangan investor. Langkah tersebut terlihat bertolak belakang dengan slogan “never sell your Bitcoin” yang selama ini identik dengan Michael Saylor.
Namun, di balik keputusan itu ternyata tersimpan strategi yang lebih besar. Penjualan Bitcoin disebut menjadi bagian penting dari upaya Strategy memperluas bisnis kredit digital dan mengembangkan ekosistem keuangan berbasis Bitcoin.
Michael Saylor Ungkap Alasan Strategy Menjual BTC
Michael Saylor akhirnya buka suara terkait penjualan 32 Bitcoin yang dilakukan Strategy dan dilaporkan kepada SEC pada 1 Juni lalu. Penjualan itu menjadi yang pertama dilakukan oleh perusahaan tersebut sejak 2022.
Banyak pihak menilai langkah tersebut bertentangan dengan prinsip yang digaungkan Saylor. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai salah satu tokoh kripto yang vokal mendorong investor untuk tidak menjual Bitcoin.
Strategy Siap Gelontorkan Rp745 Triliun untuk Borong Bitcoin
Namun, dalam wawancaranya di konferensi BTC Prague bersama Cointelegraph pada Jumat (13/06/2026), Saylor menegaskan bahwa perusahaan harus memiliki fleksibilitas untuk menjual Bitcoin demi menopang bisnis kredit digital yang sedang dibangun.
Menurutnya, kemampuan menjual aset justru menjadi fondasi agar instrumen kredit berbasis Bitcoin memiliki nilai ekonomi dan menjadi modal utama yang mendukung berbagai produk keuangan Strategy.
“Jika kebijakan perusahaan adalah tidak akan pernah menjual BTC, maka instrumen kredit tidak akan memiliki nilai dan ekuitasnya juga tidak akan memiliki nilai. Perusahaan bergerak di bisnis penjualan digital credit. Kredit tersebut didukung modal, dan Bitcoin adalah modal itu,” tuturnya.
Masa Depan Digital Credit Ada di Bitcoin
Michael Saylor menjelaskan bahwa produk seperti saham STRC merupakan digital credit yang memanfaatkan cadangan Bitcoin milik Strategy sebagai aset pendukung kewajiban kredit. Instrumen tersebut juga menjadi salah satu sumber pendanaan perusahaan.
Dana yang diperoleh dari penerbitan produk tersebut kemudian digunakan Strategy untuk menambah akumulasi BTC. Dengan cara ini, perusahaan dapat menghimpun modal tanpa harus bergantung pada skema pendanaan konvensional.
Menurut Saylor, pasar digital credit berbasis Bitcoin berpotensi menjadi peluang baru bernilai triliunan dolar. Ia menilai instrumen ini dapat menghadirkan produk keuangan digital dengan imbal hasil yang lebih kompetitif dibandingkan layanan TradFi.
“Saya melihat Bitcoin sebagai transformasi digital dari modal, sementara STRC merupakan transformasi digital dari kredit,” ujar Saylor. Menurutnya, produk digital credit berpotensi menawarkan imbal hasil hingga 8 persen.
Dividen Saham Cair 2 Kali Sebulan? Strategy Punya Proposal Baru
Ia juga percaya perkembangan sektor ini dapat mengubah cara masyarakat memandang pasar kredit sekaligus membawa miliaran dolar modal baru ke dalam Bitcoin.
Secara keseluruhan, Saylor meyakini digital credit berbasis Bitcoin akan menjadi salah satu pendorong utama evolusi industri keuangan, sekaligus membuka peluang baru bagi adopsi aset digital di masa depan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


