Michael Saylor vs Tom Lee: Siapa yang Paling Boncos Pada 2026 Ini?

Sepanjang 2026, dua raksasa treasury kripto, Strategy milik Michael Saylor dengan Bitcoin-nya dan Bitmine milik Tom Lee dengan Ethereum-nya  sama-sama mencatat kerugian besar di atas kertas, meski keduanya tetap agresif menambah kepemilikan hingga hari ini. Setelah setengah tahun pasar yang berat, siapa yang paling boncos dalam pertarungan Michael Saylor vs Tom Lee? Berikut adalah ulasannya!

BACA JUGA: Begini Cara Michael Saylor Beli Bitcoin Cuma Modal Dengkul!

Dua Strategi Berbeda, Satu Pasar yang Sama-Sama Berat

Michael Saylor adalah chairman eksekutif Strategy (Nasdaq: MSTR), perusahaan yang sudah sejak 2020 menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan utamanya.

Sementara itu, Tom Lee adalah co-founder Fundstrat dan chairman Bitmine Immersion Technologies (NYSE: BMNR), yang pivot dari bisnis penambangan Bitcoin menjadi perusahaan treasury Ethereum sejak pertengahan 2025.

Keduanya meyakini bahwa menumpuk aset kripto dalam jumlah besar di neraca perusahaan adalah strategi bisnis jangka panjang yang menguntungkan, tapi hasilnya di 2026 ini belum seindah yang diharapkan.

BACA JUGA:  Siapa Raja Bitcoin 2026? Ini Perbandingan Performa MSTR, BlackRock hingga Metaplanet!

Saylor Tetap Beli, Tapi Sekarang Juga Mulai Jual

Melansir laman The Block, Strategy memulai 2026 dengan kepemilikan 673.783 BTC senilai sekitar US$63 miliar. Pembelian terus dilakukan setiap minggu, bahkan sempat mencapai 24.869 BTC senilai US$2,01 miliar hanya dalam satu minggu pada Mei 2026.

Per akhir Juni 2026, Strategy memegang sekitar 847.363 BTC dengan total investasi sekitar US$64 miliar dan harga rata-rata pembelian US$75.651 per koin, setara dengan sekitar 3,9 persen dari seluruh pasokan Bitcoin.

Namun ada perubahan signifikan yang terjadi di penghujung Juni 2026 ini. Melansir laman Strategy, mereka mengumumkan “Kerangka Kredit Digital”, sebuah kebijakan baru yang secara resmi memungkinkan perusahaan menjual Bitcoin untuk tiga keperluan, yaitu membayar dividen saham preferen, melakukan buyback sekuritas kredit digital hingga US$1 miliar, dan memperkuat cadangan kas.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Penjualan BTC sebesar US$1,25 miliar direncanakan untuk mendorong cadangan kas dari US$2,55 miliar menjadi US$3,80 miliar. Saylor menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap Bitcoin tidak berubah, namun ini tetap menjadi sinyal penting bahwa strategi “never sell” era lalu kini sudah resmi direvisi.

BACA JUGA: 10 Aplikasi Beli Bitcoin di Indonesia Terbaik & Terpercaya 2026

Lee Hampir Capai Target, Tapi ETH Justru Makin Murah

Sementara itu, Tom Lee mengejar “alchemy of 5 %”, sebuah ambisi memiliki 5 persen dari seluruh pasokan ETH yang beredar.

Melansir laman The Block, per 28 Juni 2026, Bitmine menambah 27.084 ETH dalam seminggu terakhir dan kini menggenggam 5,70 juta ETH atau 4,7 persen dari total pasokan Ethereum, sudah 94 persen dari target. Sebuah pencapaian akumulasi yang luar biasa, meski ETH justru turun 8 persen hanya dalam minggu terakhir.

Lee menyebut pekan itu sebagai “minggu yang berat” dan mengaitkan tekanan harga dengan aksi window dressing akhir kuartal. Ia tetap optimis, menyebut kripto masih berada di fase awal “crypto spring.”

Kabar baiknya, per 26 Juni 2026, Bitmine resmi masuk ke indeks Russell 1000 Large-cap,  sebuah milestone penting yang diperkirakan akan menarik ratusan hingga ribuan investor institusional baru ke saham BMNR secara otomatis.

Yang membedakan Bitmine dari Strategy adalah pendapatan staking. Sekitar 4,88 juta ETH atau 86 persen dari seluruh kepemilikan Bitmine sudah di-stake melalui platform MAVAN (Made in America Validator Network), menghasilkan proyeksi pendapatan staking tahunan sekitar US$211 juta. Ini memberi Bitmine arus kas aktual yang tidak dimiliki Strategy dari Bitcoin-nya.

BACA JUGA: 10 Kripto Berbasis Ethereum yang Layak Dilirik Juni 2026

Angka-Angka yang Bikin Dompet Sesak Napas

Inilah gambaran kerugian kedua pihak berdasarkan data Dropstab:

Performa Portofolio Strategy (Ytd)
Performa Portofolio Strategy (Ytd).

Strategy mencatat nilai portofolio saat ini sekitar US$51 miliar dari total investasi US$64,1 miliar, menyusut sekitar US$22,6 miliar atau 30,71 persen dari puncaknya secara year-to-date 2026.

Performa Portofolio Bitmine (Ytd)
Performa Portofolio Bitmine (Ytd).

Ga kalah bikin sesak nafas, Bitmine juga mencatat penurunan nilai portofolio menjadi sekitar US$9,19 miliar dari total investasi US$19,3 miliar, menyusut US$6,83 miliar atau 42,64 persen dari puncaknya.

Performa investasi Michael Saylor dan Tom Lee sebenarnya tidak begitu mengejutkan, mengingat harga BTC di akhir Juni 2026 berada di kisaran US$59.000–US$60.000, jauh di bawah harga rata-rata pembelian Strategy. Ethereum bahkan lebih parah, diperdagangkan di kisaran US$1.560–US$1.620, anjlok lebih dari 60 persen dari rekor tertingginya di US$4.953 pada Agustus 2025.

Secara persentase, Bitmine yang paling boncos. Secara nominal dolar, Strategy jelas menanggung kerugian unrealized lebih besar karena skala investasinya jauh lebih raksasa.

Siapakah yang Sesungguhnya Lebih Berisiko ke Depan?

Strategy dan Bitmine punya tekanan berbeda. Strategy kini menanggung kewajiban dividen tahunan sekitar US$1,5 miliar dan baru saja meresmikan kebijakan yang memungkinkan penjualan Bitcoin untuk menutupinya.

Langkah ini secara struktural mengubah profil risiko Strategy dari perusahaan “akumulator murni” menjadi perusahaan yang harus menyeimbangkan antara akumulasi dan kewajiban keuangan.

Bitmine, di sisi lain, memiliki penyangga berupa pendapatan staking. Selama Ethereum bisa di-stake dan menghasilkan yield, arus kas Bitmine lebih terlindungi dari tekanan pasar jangka pendek.

Namun, Bitmine juga punya risiko tersendiri, eksposur penuh pada satu aset yang volatilitasnya lebih tinggi dari Bitcoin, ditambah kewajiban dividen saham preferen 9,5 persen per tahun yang harus terus dipenuhi.

Masih Layakkah Mengikuti Jejak Mereka?

Kisah Michael Saylor vs Tom Lee di 2026 adalah pelajaran berharga tentang keyakinan versus kenyataan pasar. Keduanya membangun strategi di atas aset yang mereka yakini akan jauh lebih bernilai di masa depan dan keduanya sedang menanggung kerugian besar sambil tetap membeli lebih banyak.

Apakah keduanya pada akhirnya akan terbukti benar bergantung pada kemana Bitcoin dan Ethereum bergerak di sisa 2026 dan tahun-tahun berikutnya. Yang pasti, sebelum mengikuti jejak mereka, kamu perlu memahami bahwa investasi semacam ini memerlukan keyakinan yang kuat, toleransi risiko yang tinggi, dan waktu yang panjang.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait