Microsoft mengungkap modus baru yang memanfaatkan BNB Chain sebagai bagian dari rantai serangan malware. Alih-alih sekadar menyusup lewat situs berbahaya, pelaku memakai blockchain untuk menyimpan instruksi yang lebih sulit diturunkan.
BNB Chain Dipakai untuk Mengirim Instruksi Malware
Dalam utas di X pada Kamis (06/08/2026), Microsoft Threat Intelligence menemukan sejumlah situs yang diretas dan menampilkan umpan ClickFix, sekaligus memakai teknik EtherHiding yang sebelumnya dikaitkan dengan kampanye ClearFake.
Pada situs ini, JavaScript yang disusupi dan disamarkan dalam format Base64 akan terhubung ke gateway RPC BNB Smart Chain untuk mengakses kontrak pintar yang menyimpan instruksi serangan tahap berikutnya.
Penggunaan smart-contract tersebut membuat proses penanganan serangan menjadi lebih rumit. Pasalnya, infrastruktur berbasis blockchain tidak dapat diturunkan dengan cara yang sama seperti server atau situs konvensional.
“Konten yang disimpan dalam smart-contract lebih sulit diturunkan atau dialihkan melalui metode sinkholing konvensional karena hanya pemilik wallet kripto yang menerbitkannya yang dapat melakukan perubahan,” jelas mereka.

Dengan mekanisme ini, pelaku memanfaatkan karakteristik blockchain yang sulit diubah untuk mempertahankan infrastruktur serangan. Pola ini sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi on-chain dapat disalahgunakan sebagai lapisan distribusi malware.
Microsoft menambahkan, smart-contract dalam rangkaian serangan tersebut sebelumnya telah dilaporkan berkaitan dengan ClearFake, kampanye yang memanfaatkan situs terkompromi untuk mengarahkan korban menuju eksekusi kode berbahaya.
CAPTCHA Palsu Jadi Pintu Masuk Serangan
Setelah mengakses situs yang terinfeksi, korban akan melihat CAPTCHA palsu yang meminta mereka membuka Windows Run, menempelkan isi clipboard, lalu menekan Enter seolah sedang menyelesaikan proses verifikasi biasa.
Padahal, prompt yang ditempel berasal dari penyerang. Begitu dijalankan, perintah tersebut dapat memanggil berbagai utilitas bawaan Windows untuk mengeksekusi kode tanpa perlu menginstal alat khusus terlebih dahulu.
Microsoft menemukan penyalahgunaan conhost, cmd, PowerShell, pcalua, mshta, rundll32, msiexec, curl, WMI, WebDAV, hingga scheduled tasks. Pelaku juga menggunakan berbagai teknik penyamaran agar aktivitas tersebut lebih sulit terdeteksi.
“Tanda caret digunakan untuk memecah kata kunci, environment variable menyembunyikan interpreter, sementara jendela Windows dijalankan tanpa tampilan atau dalam kondisi diminimalkan. Umpan TerminalFix menggunakan teknik serupa,” jelas mereka.
Pola tersebut kemudian berlanjut melalui TerminalFix yang menggunakan mekanisme serupa. Bedanya, korban diarahkan ke Windows Terminal atau PowerShell, bukan melalui kotak dialog Run seperti pada skenario ClickFix.

Dari Infostealer hingga Risiko Ransomware
Menurut Microsoft, ClickFix dan TerminalFix kini menjadi teknik initial access dengan volume cukup tinggi. Kampanye peretasan semacam ini menargetkan ribuan perangkat perusahaan dan konsumen di berbagai negara setiap hari.
Sebagian rantai malvertising bahkan dapat mengalihkan pengunjung ke halaman penipuan. Berbagai kelompok memanfaatkan teknik tersebut untuk menyebarkan Lumma Stealer, Xworm, AsyncRAT, MintsLoader, serta sejumlah remote management tools.
Risikonya tidak berhenti pada pencurian data. Satu eksekusi yang berhasil dapat membuka akses ke kredensial, membangun persistence, memudahkan lateral movement, hingga membuka jalan menuju ransomware dan kompromi domain perusahaan.
Karena itu, Microsoft mengingatkan pengguna agar tidak pernah menempelkan perintah dari CAPTCHA, pesan error browser, email, iklan, atau halaman dukungan mencurigakan ke Run, Terminal, PowerShell, maupun Command Prompt.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


