Mirae Asset Luncurkan Tokenisasi Obligasi, Mungkinkah Ini Tersedia di Indonesia?

Kabar bahwa Mirae Asset luncurkan tokenisasi obligasi lewat kemitraan strategis di Hong Kong menunjukkan bahwa integrasi instrumen pendapatan tetap ke jaringan blockchain sudah memasuki fase komersial. Produk serupa sangat mungkin hadir di Indonesia, karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meluluskan model bisnis tokenisasi surat berharga di regulatory sandbox dan sedang merampungkan payung hukum resminya.

Blockchain kini tidak lagi sebatas perdagangan aset kripto yang volatil, tetapi merambah pasar modal tradisional lewat tokenisasi aset dunia nyata (Real World Assets/RWA). Saat Mirae Asset luncurkan tokenisasi obligasi dan surat utang pendanaan bersama mitra on-chain, batas antara keuangan tradisional (TradFi) dan keuangan terdesentralisasi (DeFi) semakin menipis. Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

BACA JUGA: OJK Gandeng Kemenkeu Garap Tokenisasi Sukuk, Blockchain Masuk Instrumen Keuangan RI

Mengenal Konsep Dasar Tokenisasi Obligasi

Obligasi adalah surat utang jangka menengah atau panjang yang diterbitkan pemerintah atau korporasi dengan imbalan kupon rutin hingga jatuh tempo. Proses tradisionalnya melibatkan banyak perantara (kliring, kustodian, pialang), butuh beberapa hari kerja untuk penyelesaian, dan membutuhkan modal awal besar.

Dalam tokenisasi obligasi, hak ekonomi dan bukti kepemilikan surat utang diubah menjadi token digital di Distributed Ledger Technology (DLT) atau blockchain. Setiap token merepresentasikan nilai pokok dan hak atas imbal hasil aset dasar yang disimpan di kustodian resmi. Smart contract mengotomatiskan perhitungan kupon, pencatatan kepemilikan, dan penyelesaian transaksi secara instan, tanpa terikat jam operasional bursa.

Cara Kerja Tokenisasi Obligasi
Cara Kerja Tokenisasi Obligasi.

Melansir Citi Institute dalam laporan Tokenization 2030, nilai aset keuangan tertokenisasi global saat ini sekitar US$17 miliar. Angka ini diproyeksikan mencapai US$5,5 triliun pada skenario dasar 2030, bahkan US$8,2 triliun pada skenario optimistis. Pertumbuhan dipimpin surat utang pemerintah dan obligasi publik, dengan dukungan stablecoin yang diperkirakan mencapai US$1,9 triliun pada akhir dekade.

Skenario Valuasi Pasar Global hingga Tahun 2030
Skenario Valuasi Pasar Global hingga Tahun 2030. Data: Citi Institute
BACA JUGA:  OKXICE Ditolak 33 Perusahaan, Bagaimana Nasib Tokenisasi Saham di US?

Strategi Mirae Asset luncurkan tokenisasi obligasi Bersama GRVT

Melansir Crypto Briefing, Mirae Asset Securities (HK) Limited, anak perusahaan Hong Kong dari firma sekuritas terbesar Korea Selatan, mengatur penerbitan tokenised funding notes pada 27 Oktober 2026 di bawah program surat utang terstruktur entitas afiliasinya. Mirae Asset Financial Group mengelola aset klien global lebih dari US$1 triliun per September 2026.

Dalam transaksi perdana ini, bursa hibrida on-chain GRVT menjadi pihak yang melakukan subscription. Melansir Business Insider dan TokenPost, GRVT berencana memasukkan eksposur imbal hasil surat utang itu ke produk Grvt Earn bagi pengguna yang memenuhi syarat di yurisdiksi yang diizinkan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Sejak beroperasi pada 2024, GRVT telah melayani lebih dari 198.000 dompet kripto dengan Total Value Locked (TVL) puncak US$109 juta pada 22 Maret 2026. Platform ini didukung ZKsync, 500 Global, Hack VC, Ondo Finance, Aave, dan Morpho.

Kelly Sohn, Head of Digital Assets Mirae Asset Securities (HK), menyebut tokenisasi sebagai area krusial untuk membawa produk terstruktur ke pasar on-chain. CEO GRVT, Hong Yea, menambahkan bahwa kedua perusahaan akan menjajaki produk tertokenisasi lain secara bertahap, yaitu tokenised Treasuries, obligasi korporasi, dan ETF, setelah mendapat persetujuan regulasi.

Peta Jalan Aset Digital Mirae Asset

Keputusan saat Mirae Asset luncurkan tokenisasi obligasi bersama GRVT bukanlah langkah yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian ekspansi agresif perusahaan sepanjang tahun 2026. Melansir laman HTX News dan Crypto Briefing, Mirae Asset Securities (HK) Limited telah mencetak sejarah pada Januari 2026 sebagai perusahaan sekuritas Korea Selatan pertama yang menerbitkan obligasi digital di Hong Kong.

Selanjutnya pada April 2026, perusahaan ini menjadi pialang milik Korea pertama yang mengantongi izin resmi dari Securities and Futures Commission (SFC) Hong Kong untuk menyediakan layanan perdagangan aset digital bagi investor ritel, yang kemudian diikuti oleh peluncuran aplikasi terpadu bernama MAPS pada Juli 2026 untuk menggabungkan investasi aset tradisional dan aset digital dalam satu genggaman.

Lebih jauh lagi, melansir laman Bloomingbit yang mengutip laporan Korea Economic Daily pada 28 Oktober 2026, Mirae Asset Securities juga baru saja menerbitkan obligasi digital berdenominasi dolar AS senilai US$12,5 juta menggunakan sistem tokenisasi internal (in-house tokenization system) miliknya sendiri.

Pergeseran dari ketergantungan pada platform eksternal menuju pengoperasian sistem mandiri ini menandakan keseriusan perusahaan pasca mengakuisisi Digital X untuk menguasai pasar Security Token Offering (STO), RWA, dan stablecoin sebelum kerangka regulasi STO Korea Selatan resmi berlaku pada Februari 2027 mendatang.

Bahkan, Mirae Asset telah menargetkan peluncuran produk pasar uang privat (private MMFs) dan obligasi tertokenisasi lanjutan pada kuartal pertama tahun 2027.

BACA JUGA: MUI Sosialisasikan Fatwa Emas Digital, Bagaimana Nasib Tokenisasi Emas RI?

Keuntungan bagi Investor Pemula dan Global

Ketika institusi sebesar Mirae Asset luncurkan Tokenisasi Obligasi, dampak positif yang paling terasa adalah terbukanya akses investasi bagi masyarakat luas. Berikut empat keuntungan utamanya.

1. Akses Investasi Lebih Terjangkau lewat Fraksionalisasi

Selama puluhan tahun, surat utang terstruktur, obligasi korporasi kelas institusi, dan surat utang negara asing memiliki hambatan masuk (barrier to entry) yang tinggi bagi investor pemula bermodal terbatas. Melalui fraksionalisasi di jaringan blockchain, satu unit surat utang bernilai besar dapat dipecah menjadi token digital yang jauh lebih terjangkau, tanpa mengurangi hak proporsional kamu atas imbal hasil kuponnya.

2. Transparansi dan Kendali Penuh atas Aset (Self-Custody)

Melansir laman Crypto Economy, integrasi instrumen pendapatan tetap ke platform seperti GRVT memungkinkan pengguna berdagang, berinvestasi, dan memperoleh potensi imbal hasil dari satu akun terpadu. Akun tersebut hanya dapat digerakkan oleh kunci kriptografi pribadi (private key) milik pengguna sendiri, sehingga kendali atas aset sepenuhnya ada di tangan kamu.

BACA JUGA:  OJK Gandeng Kemenkeu Garap Tokenisasi Sukuk, Blockchain Masuk Instrumen Keuangan RI

3. Penyelesaian Transaksi Jauh Lebih Cepat

Waktu penyelesaian (settlement) pada bursa konvensional biasanya memakan waktu dua hingga tiga hari kerja (T+2). Lewat tokenisasi obligasi, proses ini dapat dipangkas menjadi hitungan detik melalui mekanisme atomic Delivery-versus-Payment (DvP) di jaringan blockchain yang beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

4. Diversifikasi Portofolio Kripto yang Lebih Stabil

Bagi kamu yang aktif mengelola aset kripto, tokenisasi obligasi menjadi instrumen diversifikasi yang krusial untuk menjaga stabilitas modal. Saat pasar kripto berfluktuasi tajam, kamu tidak perlu mencairkan dana ke rekening bank dan menanggung biaya konversi fiat. Cukup alokasikan saldo on-chain ke surat utang tertokenisasi yang memiliki profil risiko terukur dari aset riil di dunia nyata.

Peluang Tokenisasi Obligasi di Indonesia

Skala Pasar Eksekusi Institusional & Regulasi (2026)
Skala Pasar Eksekusi Institusional & Regulasi (2026).

Melihat langkah agresif Mirae Asset luncurkan tokenisasi obligasi di tingkat regional, kamu tentu bertanya-tanya apakah inovasi serupa dapat segera dinikmati secara resmi di tanah air. Jawabannya sangat optimistis karena regulator dan pelaku industri di Indonesia ternyata telah bergerak cepat membangun fondasi ekosistem Real World Assets (RWA) nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas IAKD OJK, Adi Budiarso, menyebut potensi pasar tokenisasi aset di Indonesia dapat mencapai Rp250 triliun hingga Rp260 triliun dalam lima tahun. Minat investor domestik juga tinggi, Indodax telah menyediakan lebih dari 20 aset bertema RWA, termasuk tokenisasi saham Apple, Amazon, Alphabet, NVIDIA, dan Tesla.

Kemajuan Regulatory sandbox OJK dan Rancangan Aturan RWA Nasional

Bukti paling konkret bahwa produk seperti yang diluncurkan saat Mirae Asset luncurkan tokenisasi obligasi akan hadir di Indonesia ada di regulatory sandbox OJK (POJK No. 3 Tahun 2024). Hingga akhir September 2026, OJK menerima 39 permohonan peserta sandbox, dengan 4 peserta dalam pengujian aktif dan 7 peserta dinyatakan lulus.

Salah satu model bisnis yang lulus adalah tokenisasi surat berharga dan Surat Utang Negara (SUN), yang melibatkan manajer investasi dan bank kustodian melalui skema Kontrak Pengelolaan Dana (KPD).

Model lain yang lulus mencakup tokenisasi properti dan emas fisik. Contohnya PT Indonesia Blockchain Persada (Blocktogo) dengan token GOIDR di Polygon, yang setiap tokennya didukung satu gram emas Galeri24 di Safe Deposit Box PT Pegadaian Cabang Senen dengan cadangan 3.503 gram.

Melansir Hukumonline, OJK sedang merampungkan Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) tentang Penawaran Aset Di-tokenisasi atau Tokenisasi RWA, bagian dari Roadmap IAKD OJK 2026–2031.

Aturan ini akan mengatur lima aspek, yaitu kriteria aset dasar, tata cara penawaran publik, perizinan penyelenggara, pelindungan konsumen, serta kewajiban pencatatan dan pelaporan penerbit token. OJK juga mengingatkan investor pemula untuk menerapkan prinsip Legal dan Logis (2L), riset mandiri, dan menghindari FOMO.

BACA JUGA:  Google Masuk Industri Kripto, Layanan Barunya Meluncur 2027!

Siapkah Kamu Menyambut Era Baru Investasi Aset Digital?

Langkah Mirae Asset luncurkan tokenisasi obligasi bersama GRVT, ditambah obligasi digital US$12,5 juta lewat sistem mandiri, menunjukkan pasar modal dunia bergerak cepat menuju integrasi blockchain yang lebih efisien, transparan, dan mudah diakses.

Di Indonesia, peluangnya sudah di depan mata berkat tujuh proyek lulus sandbox OJK, potensi pasar hingga Rp260 triliun, dan RPOJK Tokenisasi RWA yang segera memberi kepastian hukum.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait