Misteri Prayer Wars: Saat Bitcoin Jadi Medan Perang Doa dan Troll

Blockchain Bitcoin ternyata tidak hanya menyimpan transaksi, saldo, dan perpindahan BTC. Jauh sebelum Ordinals populer, seseorang pernah mengubah jaringan tersebut menjadi tempat menaruh rangkaian doa keagamaan.

Namun, doa itu tidak dibiarkan begitu saja. Pengguna lain mulai menyisipkan pesan tandingan, lelucon absurd, hingga protes kasar, menciptakan fenomena aneh yang dikenal sebagai Prayer Wars.

Misteri Prayer Wars Bitcoin Dimulai dari Sebuah Doa

Kisahnya bermula pada Agustus 2011, ketika Bitcoin berusia sekitar dua tahun. Pengembang Bitcoin Luke Dashjr mulai menyisipkan doa melalui coinbase message milik mining pool Eligius.

Jejak awalnya dapat ditemukan pada blok 139.690 yang ditambang pada 5 Agustus 2011. Di sana muncul potongan doa berbahasa Latin yang berasal dari tradisi Katolik.

“Benedictus Deus. Benedictum Nomen Sanctum eius,” demikian bagian pertama pesan yang tercatat dalam blok tersebut. Kalimat itu kurang lebih berarti “Terpujilah Tuhan. Terpujilah nama-Nya yang kudus.”

Potongan Doa Pemicu Prayer Wars di Bitcoin - Blockchain
Potongan Doa Pemicu Prayer Wars di Bitcoin – Blockchain

Pesan tersebut ternyata bukan kejadian sekali lewat. Blok 139.717 kembali membawa kalimat serupa, kemudian potongan doa lainnya terus bermunculan pada sejumlah blok berikutnya yang terkait dengan Eligius.

Dokumentasi Bitcoin Graffiti menunjukkan rangkaiannya mencakup Divine Praises, formula Trinitarian, Act of Contrition, hingga doa lainnya. Fenomena tersebut berlangsung kurang lebih dari 5 Agustus sampai 3 September 2011.

BACA JUGA:  Investor Kripto Tahan Nafas, Ini Kalender Ekonomi Terbaru dan Prediksi Dampaknya!

Jika hanya berhenti sampai sana, kisahnya mungkin sekadar menjadi catatan tentang seorang penambang yang memasukkan keyakinan pribadinya ke blockchain. Namun, pengguna Bitcoin lain rupanya mulai memperhatikan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Prayer Wars Memanas, Troll Menyerbu Blockchain BTC

Ketika rangkaian doa terus muncul, pesan-pesan aneh mulai menyela. Salah satu contoh paling absurd ditemukan hanya sehari setelah doa pertama, tepatnya pada blok Bitcoin 139.838.

Sebuah transaksi yang masuk ke blok membawa tiga kata sederhana yang sama sekali tidak berhubungan dengan doa sebelumnya. Pesannya singkat, tetapi justru menjadi salah satu bagian paling ikonik.

“Aku suka kura-kura,” demikian teks yang disisipkan ke blockchain Bitcoin pada 6 Agustus 2011.

Pesan Troll yang Sudah Dipecahkan - I Like Turtles
Pesan Troll yang Sudah Dipecahkan – I Like Turtles

Tidak lama kemudian, gangguan lain muncul pada blok 139.954. Kali ini pesannya berbunyi, “P-P-P-PEMUTUS KOMBO,” ungkapan yang biasa digunakan ketika seseorang sengaja memutus rangkaian atau pola berulang.

Pola tersebut membuat rangkaian blockchain terlihat seperti percakapan aneh. Satu sisi terus meninggalkan potongan doa, sedangkan pengguna lain menyelipkan lelucon dan pesan yang seolah sengaja memotongnya.

Situasinya kemudian memanas. Pada blok 141.460, muncul pesan kasar yang menyerang Luke secara pribadi, mempertanyakan keberadaan Tuhan, sekaligus meminta agar blockchain tidak digunakan untuk menyimpan pesan semacam itu.

“Berhentilah mengotori blockchain dengan omong kosongmu,” demikian salah satu bagian pesan tersebut.

BACA JUGA:  Bitcoin Anjlok ke US$83.000, Mimpi Uptober Mulai Pupus?

Dari sinilah sebutan Prayer Wars terasa cukup masuk akal. Blockchain yang dirancang sebagai buku besar transaksi justru berubah sementara menjadi papan pesan terbuka antara doa, protes, troll, dan budaya internet.

Pesan Lengkap Prayer Wars - Bitcoin Graffiti
Pesan Lengkap Prayer Wars – Bitcoin Graffiti

Bagaimana Doa Bisa Masuk ke Blockchain Bitcoin?

Mekanismenya berbeda dengan OP_RETURN yang banyak dikenal sekarang. Salah satu jalur utama dalam Prayer Wars memanfaatkan data di dalam transaksi khusus bernama coinbase transaction.

Setiap blok blockchain memiliki coinbase transaction sebagai transaksi pertamanya. Transaksi inilah yang dibuat penambang untuk mengambil block reward serta biaya transaksi setelah berhasil menghasilkan blok baru.

Pada bagian coinbase, penambang juga memiliki ruang untuk memasukkan data arbitrer dalam batas tertentu. Dokumentasi Bitcoin menjelaskan ruang tersebut dapat memuat hingga 100 byte, meski sebagian kini digunakan untuk informasi lain.

Ruang kecil itulah yang memungkinkan mining pool meninggalkan identitas, angka tambahan untuk proses mining, atau pada kasus tertentu, sebuah pesan yang kemudian ikut tercatat bersama blok.

Namun, tidak semua interupsi dalam Prayer Wars berasal dari coinbase message. Beberapa troll justru ditempatkan melalui data pada transaksi biasa, lalu muncul berdampingan dengan rangkaian doa ketika blockchain dibaca sebagai teks.

Hal tersebut penting karena Prayer Wars bukan berarti dua kelompok penambang BTC mengisi setiap blok. Fenomenanya lebih mirip percakapan liar menggunakan berbagai celah data yang tersedia di Bitcoin.

BACA JUGA:  Bukan ETF, Saylor Ungkap Mesin Baru Pendorong Harga Bitcoin

Luke sendiri kemudian menjelaskan bahwa Eligius juga memiliki sistem yang memungkinkan kontributor mengajukan teks tertentu. Karena itu, tidak setiap pesan aneh yang muncul belakangan otomatis berasal dari pihak luar.

Doa Berakhir, Jejak Prayer Wars Tetap Hidup

Pada akhirnya, Prayer Wars menjadi salah satu artefak paling aneh dari masa awal Bitcoin. Blockchain yang dirancang untuk mencatat transaksi sempat berubah menjadi ruang terbuka bagi doa, troll, dan protes.

Misteri Blok Bitcoin 666.666, Ada Pesan Alkitab Tersembunyi di Dalamnya

Yang membuat kisahnya semakin menarik, jejak tersebut tidak hilang begitu saja. Pesan-pesan itu masih dapat ditelusuri melalui blok Bitcoin lebih dari satu dekade setelah pertama kali disisipkan.

Prayer Wars sekaligus memperlihatkan bahwa sejak awal, Bitcoin bukan hanya soal uang digital. Jaringannya juga menjadi tempat eksperimen, budaya internet, dan ekspresi manusia bertemu dalam bentuk yang tidak biasa.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait