Monero (XMR) saat ini dikenal sebagai privacy coin terbesar. Monero menggunakan teknologi ring signatures dan RingCT untuk menyembunyikan identitas pengirim, penerima, dan jumlah transfer.
Fitur privasi ini membuat Monero digemari pengguna yang mengutamakan kerahasiaan finansial. Namun, di sisi lain kemampuannya tersebut memicu kekhawatiran regulator dan lembaga keuangan.
Kenapa Bursa Kripto Ramai-ramai Kucilkan Monero?
Di Indonesia, Monero dan koin privasi sudah tidak punya tempat di bursa kripto resmi. Bappebti menetapkan kripto yang legal, dan XMR tidak termasuk. Aturan ini membuat exchange berizin seperti Indodax atau Tokocrypto, tak bisa menawarkan XMR ke pengguna lokal.
Fenomena serupa juga terjadi di level global. Binance menghapus Monero sejak Februari 2024. Tak lama kemudian, Poloniex menutup perdagangan XMR karena tekanan dari regulator AS. Langkah ini diikuti bursa Kraken di Kanada, serta beberapa exchange besar lain.
Alasannya sederhana: regulasi. Monero dirancang dengan sistem privasi tinggi yang membuat transaksi hampir mustahil dilacak. Fitur ini memang jadi nilai jual utama bagi pengguna yang ingin menjaga anonimitas, tapi di mata regulator, hal itu justru berbahaya.
Desain Monero yang untraceable bertentangan dengan prinsip Anti-Pencucian Uang (AML) dan FATF Travel Rule yang menuntut transparansi transaksi. Karena itulah, bursa yang tunduk pada aturan keuangan tak bisa sembarangan memperdagangkan koin seperti XMR.
Bagi crypto exchange, keputusan mencoret Monero bukan soal tidak mendukung privasi, melainkan strategi bertahan. Mereka lebih memilih patuh regulasi dan menjaga izin operasional daripada mengambil risiko berhadapan dengan otoritas keuangan.
Peran XMR Sebagai Alat Transaksi di Pasar Gelap
Monero sudah lama dikaitkan dengan aktivitas ilegal di dunia maya. Koin ini populer di kalangan pengguna darknet yang ingin bertransaksi tanpa jejak digital. Privasi yang jadi keunggulan XMR justru membuatnya rentan disalahgunakan.
Salah satu contohnya adalah Alphabay. Platform darknet tersebut menerima Monero untuk transaksi barang terlarang seperti kartu kredit curian hingga senjata. Penggunaan XMR di situs semacam ini semakin memperkuat citranya sebagai “mata uang dunia bawah.”
Bahkan, pendiri Monero sendiri pernah mengakui bahwa koin ini mungkin tetap digunakan dalam aktivitas seperti ransomware, perjudian online, dan industri pornografi. Alasannya jelas: anonimitas total yang sulit ditandingi oleh aset kripto lain.
“Kenaikan penggunaan di kalangan orang-orang yang benar-benar membutuhkan privasi itu menarik. Kalau itu cukup baik untuk seorang pengedar narkoba, berarti juga cukup baik untuk semua orang,” ujar Riccardo Spagni kepada Wired pada 2017 silam.
Akibatnya, banyak bursa menjauh dari Monero. Bukan hanya untuk menjaga reputasi, tapi juga demi memastikan kepatuhan terhadap hukum dan regulasi internasional. XMR pun semakin tersudut, meski menjadi pilihan utama bagi mereka yang mengejar privasi.
Saat Desentralisasi Berbenturan dengan Regulasi
Meski dibatasi di berbagai pasar, Monero tetap memiliki komunitas pengguna yang solid dan setia. Mereka melihat nilai utama XMR bukan sekadar pada harga, tapi pada prinsip kebebasan finansial yang ditawarkannya.
Bagi sebagian pengguna, fitur privasi ekstrem Monero dianggap sebagai bentuk perlindungan hak individu di tengah era digital yang semakin transparan dan mudah dilacak. Setiap transaksi yang tak dapat ditelusuri dipandang sebagai benteng terhadap pelanggaran privasi data.
Pandangan ini membuat Monero bukan hanya sekadar mata uang kripto, tetapi juga simbol perlawanan terhadap pengawasan berlebihan oleh negara maupun lembaga tertentu. Di mata komunitasnya, XMR adalah representasi nyata dari semangat desentralisasi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



