Narasi Bearish Tak Mempan, Bitcoin Kalahkan Performa Emas dan Saham

Dalam beberapa bulan terakhir, pasar kembali memberi kejutan. Di tengah sentimen negatif, Bitcoin justru menunjukkan ketahanan. Data terbaru memperlihatkan aset kripto ini mampu melampaui kinerja saham dan emas, sekaligus menantang narasi bearish.

Bitcoin Melaju di Tengah Ketidakpastian Global

Berdasarkan data yang dibagikan oleh Santiment pada Kamis (14/05/2026), dalam tiga bulan terakhir Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 20 persen. Kinerja ini jauh melampaui indeks S&P 500 yang naik 8 persen, sementara emas justru terkoreksi 6 persen.

Performa ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah tekanan global yang belum mereda. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian regulasi seperti CLARITY Act, hingga kondisi makro ekonomi tidak mampu membendung laju Bitcoin.

Perbandingan Performa Bitcoin, Emas dan Saham - Santiment
Perbandingan Performa Bitcoin, Emas dan Saham – Santiment

Jika menoleh ke belakang, harga BTC sempat mengalami koreksi cukup dalam setelah mencapai ATH pada 2025. Namun, alih-alih melemah lebih jauh, aset ini justru menunjukkan pemulihan yang solid dalam beberapa bulan terakhir.

BACA JUGA:  Bitcoin ETF Baru Morgan Stanley Bikin Heboh Wall Street, Hampir US$200 Juta Mengalir Masuk

“Meskipun BTC mengalami koreksi setelah mencapai ATH di kisaran US$126.000 pada Oktober lalu, aset kripto dengan kapitalisasi terbesar ini berhasil bangkit di tengah ketegangan Timur Tengah dan ketidakpastian regulasi seperti CLARITY Act,” jelas mereka.

Ketahanan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap Bitcoin sebagai penyimpan nilai. Di tengah ketidakpastian, investor mulai melirik aset yang tidak terikat langsung dengan sistem keuangan tradisional.

Dengan fundamental yang tetap kuat dan sentimen yang mulai membaik, banyak pihak melihat peluang berlanjutnya tren bullish menuju 2026. Posisi BTC sebagai aset kripto terbesar pun menjadikannya indikator utama arah pasar ke depan.

Efek Likuiditas Global dan Peran AI

Narasi ini semakin kuat jika dikaitkan dengan pandangan Arthur Hayes yang memprediksi Bitcoin berpotensi kembali ke level US$126.000. Ia menilai, pendorong utamanya bukan lagi ETF atau suku bunga, melainkan perkembangan pesat teknologi AI.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  NYSE Dorong Trading Saham Tokenisasi, Sistem Trading Akan Berubah?

Menurut Hayes, dunia kini memasuki fase baru di mana AI menjadi bagian dari geopolitik. Amerika Serikat dan China disebut tengah berlomba mendominasi sektor ini, yang pada akhirnya memicu ekspansi likuiditas dalam skala besar.

Dampaknya, bank sentral dan pemerintah diperkirakan mengalirkan dana untuk pengembangan AI. Kondisi ini meningkatkan jumlah uang beredar dan mendorong investor mencari aset lindung nilai, termasuk Bitcoin.

“Dengan dorongan likuiditas triliunan dolar serta yuan yang masih akan tercipta, kenaikan harga Bitcoin menuju level US$126.000 dinilai hampir pasti terjadi,” ujarnya.

Arthur Hayes Sebut AI Bisa Dorong Harga Bitcoin ke US$126.000

Jika dikaitkan dengan performa tiga bulan terakhir yang melampaui emas dan saham, prediksi ini mulai menemukan pijakan. Bitcoin tidak hanya bertahan, tetapi menunjukkan keunggulan dibanding aset tradisional.

Pada akhirnya, kombinasi antara data pasar yang solid dan dorongan makro seperti AI serta likuiditas berpotensi menjadi katalis fase bullish BTC berikutnya. Narasi bearish mungkin masih ada, tetapi data berbicara sebaliknya.

BACA JUGA:  Arthur Hayes Sebut AI Bisa Dorong Harga Bitcoin ke US$126.000

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait