Nasib Kripto ARB Berikutnya Usai Diprediksi Bullish Standard Chartered

Nasib kripto Arbitrum (ARB) kembali menjadi sorotan setelah Standard Chartered memasang proyeksi harga yang agresif hingga akhir dekade. Namun, setelah ramalan bullish itu muncul, perhatian berikutnya bergeser pada satu pertanyaan, seberapa kuat fundamental Arbitrum untuk menopang skenario tersebut?

Berdasarkan catatan riset Standard Chartered kepada klien yang diperoleh The Block, bank tersebut memulai cakupan terhadap ARB dengan target US$0,50 pada akhir 2026. Proyeksi kemudian naik menjadi US$1,50 pada 2027, US$3,50 pada 2028, US$6,50 pada 2029 dan US$10 pada akhir 2030.

Global Head of Digital Assets Research Standard Chartered, Geoff Kendrick, membangun narasi tersebut terutama dari potensi Arbitrum sebagai penyedia infrastruktur blockchain bagi perusahaan keuangan tradisional.

Salah satu komponen terpentingnya adalah pertumbuhan Robinhood Chain dan pendapatan yang dapat mengalir kembali ke ekosistem Arbitrum.

Standard Chartered memperkirakan, pada laju aktivitas saat ini, Robinhood Chain dapat menghasilkan sekitar US$5 juta dalam biaya Arbitrum Expansion Program (AEP) pada September. Bank itu mencatat pendapatan biaya harian Robinhood Chain rata-rata sekitar US$2,8 juta selama dua pekan pertama bulan tersebut.

BACA JUGA:  Harga XRP Naik Brutal, tapi Analis Malah Bilang Jangan Beli Dulu

“Kesuksesan awal Robinhood Chain meningkatkan kemungkinan bahwa jaringan TradFi serupa juga akan diluncurkan,” ungkap pihak bank tersebut.

Robinhood Mulai Mengubah Cerita Pendapatan Arbitrum

Prediksi tersebut bukan sepenuhnya bertumpu pada pertumbuhan yang belum terjadi. Data terbaru Arbitrum Foundation menunjukkan Arbitrum memproses 478 juta transaksi pada semester pertama 2026, membawa total transaksi sepanjang masa menjadi 2,7 miliar. Rata-rata volume transfer stablecoin bulanannya juga sudah melampaui US$70 miliar.

Pada periode yang sama, empat sumber pendapatan ArbitrumDAO, yakni biaya transaksi Arbitrum One, Timeboost, AEP dan pendapatan treasury, menghasilkan US$6,19 juta. Setelah Robinhood Chain masuk mainnet pada 1 Juli, biaya lisensi AEP mencapai US$360.000 pada Juli saja dan menyumbang sekitar 35 persen pendapatan DAO bulan tersebut.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Model tersebut penting karena berdasarkan ketentuan resmi AEP Arbitrum, chain yang menggunakan teknologi Arbitrum tetapi melakukan settlement di luar Arbitrum One atau Nova harus menyerahkan 10 persen pendapatan bersih chain. Delapan persen dialirkan ke ArbitrumDAO dan dua persen ke Developer Guild.

Robinhood sendiri melaporkan bahwa sejak Robinhood Chain diluncurkan secara global pada 1 Juli, jaringan itu telah membukukan lebih dari US$18 miliar volume perdagangan DEX dan melampaui US$840 juta total nilai terkunci (TVL).

BACA JUGA:  Kripto Hari Ini 27 Agustus 2026: ZRO, PYTH, XLM, ASTER dan LUNC Mulai Bangunkan Para Bull

Faktor lain yang menopang narasi Standard Chartered adalah tokenisasi. Dalam proyeksi resminya, Standard Chartered memperkirakan pasar aset dunia nyata (RWA) tertokenisasi di luar stablecoin dapat mencapai US$2 triliun pada 2028. Kapitalisasi stablecoin juga diperkirakan mencapai US$2 triliun pada akhir tahun yang sama.

Target US$10 Bukan Tanpa Hambatan

Meski demikian, pertumbuhan jaringan Arbitrum belum otomatis berarti pemegang ARB menerima bagian langsung dari pendapatan tersebut.

Dokumen governance Arbitrum mengenai staking ARB secara eksplisit menyebut staking diperkenalkan tanpa langsung mengaktifkan distribusi fee kepada pemegang token. Dokumen itu bahkan mengakui bahwa governance power masih menjadi sumber fundamental utama permintaan terhadap ARB.

Faktor pasokan juga belum sepenuhnya hilang. Hingga 17 Agustus 2026, sekitar 9,23 miliar ARB atau 92,3 persen dari total pasokan telah terbuka atau berada di cadangan ArbitrumDAO. Masih ada sekitar 770 juta ARB dari jadwal vesting awal yang tersisa, dengan vesting terakhir dijadwalkan pada Maret 2027.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Tinggal Selangkah Lagi dari Bull Market, Level Ini Penentunya

Persaingan juga menjadi tantangan. Infrastruktur keuangan on-chain berkembang secara multi-chain.

Mastercard, misalnya, memasukkan Arbitrum bersama Base, Canton, Ethereum, Polygon, Solana, Tempo dan XRP Ledger dalam jaringan yang mendukung penyelesaian menggunakan stablecoin. Artinya, pertumbuhan tokenisasi tidak otomatis seluruhnya bermuara ke Arbitrum.

Dengan demikian, target US$10 dari Standard Chartered tetap merupakan proyeksi analis, bukan jaminan harga.

Nasib ARB berikutnya akan sangat bergantung pada apakah aktivitas Robinhood Chain mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan AEP, adopsi tokenisasi bergerak sesuai perkiraan, dan Arbitrum akhirnya dapat membangun hubungan yang lebih kuat antara pertumbuhan ekonomi jaringannya dengan nilai yang diterima token ARB.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait