Ketegangan geopolitik kembali memanas. Setelah negosiasi yang berlangsung hampir 20 jam, Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan dan dampaknya langsung terasa. bukan hanya di jalur pelayaran global, tetapi juga di pasar keuangan yang kembali bergejolak.
Negosiasi Panjang Iran-AS Berakhir Buntu
Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran sempat menunjukkan titik terang. Sejumlah poin penting dalam perundingan berhasil disepakati oleh kedua pihak.
Namun, satu isu krusial menjadi pengganjal utama negosiasi tersebut, yakni program nuklir Iran. Topik ini kembali menjadi titik buntu yang sulit dijembatani.
Mengutip pernyataan Donald Trump di akun Truth Social miliknya pada Minggu (12/04/2026), ia mengungkapkan bahwa hampir seluruh poin telah disetujui, kecuali isu nuklir.
“Jadi, begitulah adanya, pertemuan berjalan dengan baik, sebagian besar poin telah disepakati, tetapi satu-satunya hal yang benar-benar penting, yaitu nuklir, tidak tercapai,” tulis Trump.

Negosiasi yang dimediasi di Islamabad itu juga melibatkan sejumlah tokoh, termasuk Wakil Presiden AS, JD Vance, dan utusan khusus, Steve Witkoff. Bahkan, suasana sempat mencair dengan interaksi yang disebut “ramah dan penuh hormat”.
Trump Umumkan Blokade Selat Hormuz
Tak butuh waktu lama setelah negosiasi gagal, Donald Trump langsung mengambil langkah drastis. Ia memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memulai proses blokade di Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global.
“Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat… akan memulai proses memblokade setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulisnya.
Trump juga menuding Iran menciptakan ancaman melalui ranjau laut yang memicu ketakutan di kalangan pelayaran internasional. Bahkan, ia menginstruksikan agar kapal yang membayar “biaya kripto” kepada Iran dilacak dan diintersepsi.
Kripto Jadi Senjata Iran di Selat Hormuz, Tapi Risiko Baru Mengintai
Langkah ini langsung memicu kekhawatiran. Pasalnya, Selat Hormuz merupakan jalur yang dilindungi oleh berbagai konvensi hukum laut internasional. Menurut analis maritim Rockford Weitz, kebijakan ini berada di “wilayah abu-abu” hukum internasional.
Weitz menambahkan bahwa baik Iran maupun AS sama-sama mengklaim tidak melanggar aturan, meski praktik di lapangan menunjukkan sebaliknya. Ia menilai langkah Trump sebagai sinyal yang sangat tegas.
“Biasanya, blokade merupakan deklarasi perang,” ujarnya, dikutip dari laporan Al Jazeera, Senin (13/04/2026).
Pasar Bergejolak, Bitcoin dan Minyak Terguncang
Ketidakpastian geopolitik ini langsung tercermin di pasar global. Aset kripto seperti Bitcoin terpantau turun ke kisaran US$71.000 setelah sebelumnya diperdagangkan di rentang US$73.000.
Penurunan ini menunjukkan respons cepat investor terhadap risiko global yang meningkat. Ketika konflik memanas, volatilitas menjadi tak terhindari, bahkan untuk aset yang kerap dianggap lindung nilai.

Tak hanya kripto, pasar energi juga ikut terguncang. Harga minyak mentah WTI dilaporkan turun sekitar 2,1 persen ke level US$96,5, mencerminkan kekhawatiran terhadap gangguan distribusi dan permintaan.
Dengan blokade yang mulai dijalankan dan ketegangan yang belum mereda, pasar kini berada dalam posisi siaga. Satu hal yang pasti: konflik Iran dengan AS belum selesai, dan dampaknya bisa meluas jauh melampaui Selat Hormuz.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



