NFP AS Melonjak 165 Ribu, Bitcoin Tertekan! Kekalahan Kubu Trump Jadi Beban Baru?

Kabar baik dari pasar tenaga kerja AS ternyata belum tentu menjadi kabar baik bagi Bitcoin. Ketika ekonomi AS menunjukkan kekuatan yang jauh melampaui perkiraan, pasar kripto justru harus menghadapi ancaman suku bunga yang semakin tinggi.

Situasi semakin rumit karena tekanan tersebut datang hanya beberapa hari setelah Partai Demokrat memenangkan pemilu paruh waktu AS, sekaligus merebut kendali kedua kamar Kongres dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.

Kombinasi tekanan makroekonomi, ketidakpastian regulasi dan keluarnya dana dari ETF Bitcoin membuat prospek pemulihan pasar kripto dalam waktu dekat menjadi semakin menantang.

NFP AS Jauh Melampaui Perkiraan, Bitcoin Sulit Bangkit

Berdasarkan laporan resmi Bureau of Labor Statistics (BLS) yang dirilis Jumat (6/11/2026) pukul 20.30 WIB, ekonomi AS menciptakan 165.000 lapangan pekerjaan baru sepanjang Oktober.

Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar sekitar 65.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran juga turun dari 4,2 persen menjadi 4,1 persen, sementara rata-rata upah per jam meningkat 0,4 persen secara bulanan dan 3,1 persen secara tahunan.

Menariknya, BLS turut merevisi penambahan pekerjaan Agustus dan September dengan kenaikan gabungan sebesar 84.000 pekerjaan.

Ada satu angka lain yang memperjelas besarnya kejutan tersebut. Dalam 12 bulan sebelumnya, pertumbuhan lapangan kerja AS rata-rata hanya 48.000 pekerjaan per bulan. Dengan demikian, hasil Oktober mencapai sekitar 3,4 kali lipat rata-rata tersebut.

Bagi perekonomian AS, perkembangan ini menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih tangguh daripada perkiraan. Namun, bagi Bitcoin dan aset berisiko lainnya, data tersebut menghadirkan persoalan berbeda.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Pasar tenaga kerja yang kuat memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan kembali menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi belum mereda.

Kondisi ini berpotensi membatasi likuiditas yang biasanya mendukung investasi pada aset berisiko, termasuk kripto.

Menurut data CME FedWatch, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Desember kembali menguat setelah laporan pekerjaan tersebut.

Sementara itu, data resmi Departemen Keuangan AS memperlihatkan yield obligasi AS tenor dua tahun meningkat dari 4,46 persen pada 5 November menjadi 4,51 persen sehari kemudian. Yield tenor sepuluh tahun juga naik dari 4,84 persen menjadi 4,86 persen.

BACA JUGA:  AI Agent Makin Aktif di Blockchain, Chainalysis Catat 138 Juta Transaksi

Kenaikan yield menambah daya tarik instrumen berbunga, sehingga menjadi tantangan bagi aset seperti Bitcoin yang tidak memberikan imbal hasil bunga secara langsung.

Bitcoin sendiri sempat tergelincir ke sekitar US$74.888 dalam perdagangan Jumat, sebelum berupaya menstabilkan pergerakannya di sekitar US$75.000.

Namun, penting dicatat bahwa tekanan terbesar pekan ini telah berlangsung bahkan sebelum data NFP dirilis.

Bitcoin ETF Kehilangan US$1,51 Miliar, Tekanan Sudah Datang Lebih Awal

Data terbaru dari Farside Investors memperlihatkan bahwa Bitcoin ETF spot AS mencatat arus keluar bersih sebesar US$430,2 juta pada Kamis (5/11/2026).

Fidelity FBTC menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan penarikan hampir US$200 juta, disusul BlackRock IBIT sekitar US$105 juta.

Jika dihitung sepanjang lima sesi perdagangan hingga 5 November, arus keluar bersih Bitcoin ETF telah mencapai sekitar US$1,51 miliar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa investor institusional sudah mengurangi eksposur sebelum kejutan NFP terjadi.

Pada saat bersamaan, pasar saham teknologi AS mengalami koreksi besar. Nasdaq Composite anjlok sekitar 5,5 persen pada Kamis, sementara Bitcoin kehilangan lebih dari 5 persen nilainya.

Koreksi saham teknologi, terutama perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) dan pusat data, memicu pengurangan risiko secara luas di pasar keuangan.

Dengan demikian, NFP bukanlah satu-satunya penyebab pelemahan Bitcoin. Data tenaga kerja yang kuat justru menambah tekanan terhadap pasar yang sebelumnya sudah menghadapi penjualan besar-besaran.

Pakar Kripto Soroti Ancaman The Fed dan Dampak Kemenangan Demokrat

James Butterfill, Head of Research CoinShares, menilai laporan NFP terbaru memperkuat kecenderungan kebijakan moneter ketat The Fed.

Dalam analisis resminya pada 6 November, Butterfill menjelaskan bahwa pertumbuhan lapangan kerja yang jauh lebih kuat dari ekspektasi membuat bank sentral AS memiliki lebih sedikit alasan untuk mengkhawatirkan perlambatan ekonomi.

Sebaliknya, The Fed memperoleh keleluasaan lebih besar untuk memprioritaskan pengendalian inflasi.

Menurut Butterfill, tekanan Bitcoin kali ini juga perlu dibaca sebagai bagian dari aksi pengurangan risiko di sektor teknologi, bukan sekadar akibat perubahan fundamental industri kripto itu sendiri.

Ia turut menyoroti hasil pemilu paruh waktu AS yang dimenangkan Demokrat.

Berdasarkan penghitungan dan keputusan proyeksi hasil pemilu oleh Associated Press, Demokrat berhasil merebut kendali Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam pemilu 3 November 2026.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Siap Ngegas? 84 Persen Analis Kini Kompak Bullish

Hasil ini menjadi kemunduran politik bagi kubu Trump, yang sebelumnya mengandalkan dukungan Republik di Kongres untuk mendorong sejumlah agenda kebijakan.

Bagi industri kripto, perubahan komposisi Kongres berpotensi memengaruhi pembahasan regulasi, khususnya CLARITY Act yang bertujuan memberikan kepastian struktur pasar aset digital.

Namun, Butterfill mengingatkan bahwa kemenangan Demokrat tidak otomatis menghentikan perkembangan regulasi kripto.

Undang-undang stablecoin GENIUS Act telah berlaku, sementara SEC dan CFTC masih mempunyai ruang untuk mengembangkan kerangka pengawasan melalui kewenangan masing-masing.

Artinya, dampak politik kemungkinan tidak merata. Bitcoin relatif lebih terlindungi dari ketidakpastian klasifikasi regulasi, sedangkan penerbit token, platform DeFi dan perusahaan kripto yang membutuhkan persetujuan baru dapat menghadapi tantangan lebih besar.

Bagi Butterfill, arah suku bunga riil, likuiditas dolar AS dan arus dana produk investasi kripto tetap menjadi faktor yang lebih menentukan bagi Bitcoin dibandingkan komposisi Kongres semata.

Sementara itu, analis kripto Ted Pillows dalam laporan pasar yang diterbitkannya pada 6 November menyoroti kegagalan Bitcoin mengikuti pemulihan saham teknologi setelah rilis NFP.

Ia mencatat bahwa BTC telah menguji area US$74.888 dan menghadapi hambatan teknikal di sekitar US$76.543, yang saat analisisnya dibuat merupakan posisi exponential moving average (EMA) 200 hari.

Menurut pengamatannya, pemulihan di atas area tersebut menjadi penting untuk memperbaiki struktur harga. Sebaliknya, pelemahan berkelanjutan berisiko membawa Bitcoin kembali menguji rentang US$73.720–US$73.515.

Kedua pandangan tersebut menggambarkan persoalan yang sedang dihadapi pasar kripto: tekanan moneter belum sepenuhnya mereda, sementara struktur harga Bitcoin masih membutuhkan pemulihan yang meyakinkan.

Ada Data yang Memberikan Harapan bagi Kripto?

Meski NFP meningkatkan kekhawatiran tentang inflasi dan suku bunga, data fundamental AS lainnya menunjukkan gambaran yang tidak sepenuhnya negatif.

Dalam laporan produktivitas yang diterbitkan BLS pada 5 November, produktivitas tenaga kerja sektor bisnis nonpertanian meningkat 3,6 persen secara tahunan yang disetahunkan pada kuartal III 2026.

Pada periode yang sama, biaya tenaga kerja per unit justru turun 0,7 persen secara tahunan yang disetahunkan.

Perkembangan ini penting karena peningkatan produktivitas dapat membantu perusahaan menekan biaya produksi, meskipun upah pekerja meningkat.

BACA JUGA:  INDODAX Delisting 27 Kripto Pekan Depan, Nasib Kripto Ini Jadi Sorotan

Dengan kata lain, kenaikan upah tidak selalu harus diterjemahkan menjadi tekanan inflasi yang lebih tinggi apabila produktivitas turut membaik.

Namun, data tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa inflasi akan kembali melandai. Tekanan harga dari energi, permintaan konsumen dan sektor jasa masih perlu diperhatikan.

Karena itu, laporan inflasi AS berikutnya berpotensi menjadi penentu penting apakah penguatan NFP benar-benar akan mendorong The Fed menaikkan suku bunga pada Desember.

Prospek Bitcoin: Pemulihan atau Penurunan Lanjutan?

Setelah rangkaian gejolak sepanjang pekan ini, ada beberapa faktor yang akan menentukan arah Bitcoin dan pasar kripto dalam waktu dekat.

Skenario pertama adalah tekanan berlanjut. Jika inflasi tetap tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat, dan dana terus keluar dari ETF, Bitcoin berisiko kembali menguji area support di bawah US$75.000.

Rentang US$73.500–US$73.700 menjadi salah satu area teknikal yang perlu diperhatikan berdasarkan analisis Ted Pillows. Namun, level tersebut bukan kepastian target harga.

Skenario kedua adalah pemulihan bertahap. Apabila data inflasi berikutnya lebih rendah dari ekspektasi, yield obligasi AS mereda, dan arus ETF mulai membaik, Bitcoin berpeluang kembali menguji area US$76.500, kemudian US$77.800.

Meski begitu, kestabilan pasar saham teknologi AS juga akan menjadi faktor penting, mengingat koreksi pekan ini memperlihatkan bagaimana tekanan pada sektor tersebut dapat menjalar ke pasar kripto.

Menurut jadwal resmi BLS, indeks harga konsumen (CPI) AS berikutnya akan dirilis pada Selasa (10/11/2026), disusul indeks harga produsen (PPI) pada Jumat (13/11/2026).

Kedua data tersebut akan menjadi ujian penting sebelum pertemuan kebijakan moneter The Fed pada 8–9 Desember 2026.

Pada akhirnya, kemenangan Demokrat mengubah peta politik Washington, sedangkan NFP memperkuat tekanan kebijakan moneter. Tetapi arah Bitcoin berikutnya kemungkinan lebih banyak ditentukan oleh apakah tekanan tersebut terus menguras likuiditas, atau justru mulai diimbangi oleh membaiknya inflasi dan kembalinya permintaan investor institusional.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait