Kasus penipuan kripto di AS menghadirkan cerita yang sulit dipercaya. Setelah berhasil menguras uang investor melalui platform investasi palsu, para pelaku justru kembali menghubungi korban dengan menawarkan jasa untuk mengembalikan aset yang sebelumnya mereka curi sendiri.
Modus tidak biasa ini terungkap setelah aparat penegak hukum AS membongkar jaringan penipuan kripto internasional yang menargetkan komunitas berbahasa Rusia. Operasi tersebut menyebabkan kerugian hingga puluhan juta dolar AS, bahkan membuat sebagian korban kehilangan seluruh tabungan mereka.
Dalam pengumuman resmi Kejaksaan Distrik Brooklyn pada Rabu (14/10/2026), Jaksa Distrik Eric Gonzalez mengungkap bahwa jaringan tersebut tidak hanya menjalankan investasi kripto palsu, tetapi juga mengoperasikan penipuan berkedok pemulihan aset.
Menariknya, skema kedua tersebut justru menyasar orang-orang yang sebelumnya telah menjadi korban jaringan yang sama. Temuan ini diperoleh penyidik setelah berhasil mengakses infrastruktur digital yang digunakan komplotan tersebut.
Sudah Tipu Investor Kripto, Pelaku Malah Datang Jadi Penyelamat
Berdasarkan hasil penyelidikan, aksi penipuan kripto ini bermula dari iklan investasi berbahasa Rusia yang beredar di Facebook. Iklan tersebut dirancang untuk menarik perhatian calon investor yang tertarik mendapatkan keuntungan dari aset digital.
Ketika seseorang merespons iklan, mereka kemudian menerima panggilan dari individu yang mengaku sebagai penasihat investasi. Orang tersebut berbicara dalam bahasa Rusia untuk membangun komunikasi dengan calon korban.
Selanjutnya, penasihat palsu itu membimbing korban membuat akun pada situs platform investasi kripto yang ternyata merupakan bagian dari jaringan penipuan.
Korban kemudian diarahkan membeli aset kripto dan mentransfernya ke alamat wallet yang terhubung dengan platform tersebut. Selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, korban mengira mereka sedang menjalankan investasi sebagaimana mestinya.
Masalah baru muncul ketika investor mencoba menarik dana. Sebagian korban mendapati akun mereka terkunci, sedangkan korban lainnya diminta membayar biaya tambahan atau pajak sebelum penarikan dapat diproses.
Namun, cerita penipuan kripto ini ternyata belum selesai.
Data yang ditemukan penyidik menunjukkan bahwa beberapa minggu setelah penipuan pertama berlangsung, jaringan tersebut kembali menghubungi korban dengan tawaran yang terdengar menjanjikan, yakni membantu memulihkan aset kripto yang telah hilang.
Dengan kata lain, kelompok yang sebelumnya membuat uang investor raib kini justru tampil seolah-olah memiliki solusi untuk mengembalikannya.
Gonzalez bahkan menyoroti upaya pelaku yang kembali mengeksploitasi korban melalui janji pemulihan aset.
“Kemudian mencoba mengeksploitasi mereka lagi dengan janji-janji palsu untuk mendapatkan kembali uang mereka,” ungkap Gonzalez dalam pernyataan resminya.
Praktik tersebut dikenal sebagai recovery scam, yakni penipuan yang memanfaatkan keinginan korban untuk mendapatkan kembali uang yang hilang akibat kejahatan sebelumnya.
Meski demikian, kejaksaan belum mengungkap berapa banyak korban yang benar-benar menyerahkan dana tambahan melalui penawaran pemulihan tersebut. Besaran kerugian khusus dari skema kedua ini juga belum dipastikan.
Jaringan Penipuan Kripto Dibongkar, Ratusan Situs Dilumpuhkan
Di balik modus yang terkesan absurd tersebut, aparat menemukan operasi penipuan kripto dengan infrastruktur yang cukup besar dan tersebar di sejumlah negara.
Virtual Currency Unit (VCU), unit khusus Kejaksaan Brooklyn yang menangani kejahatan aset digital, telah menyelidiki jaringan tersebut selama sekitar tiga tahun.
Penyidik menemukan bahwa kelompok pelaku memanfaatkan infrastruktur digital dan alamat IP di Ukraina serta sejumlah negara Eropa Timur lainnya. Sementara itu, sebagian server pendukung operasinya ditempatkan pada perusahaan penyedia layanan di Eropa Timur dan AS.
Dalam operasi penindakan yang dilakukan sepekan sebelum pengumuman, VCU bekerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) untuk melaksanakan berbagai tindakan hukum yang menjangkau tiga zona waktu.
Hasilnya, sebanyak 241 domain penipuan kripto dan 112 server berhasil disita atau dilumpuhkan. Langkah tersebut sekaligus mengganggu akses pelaku terhadap informasi korban, perangkat lunak operasional, dan data yang digunakan untuk mengelola situs palsu.
Sebelum operasi terbaru, VCU sebenarnya sudah menyita atau melumpuhkan sekitar 400 domain yang berkaitan dengan penipuan investasi kripto.
Namun, penindakan terhadap situs saja belum cukup. Jaringan pelaku terus membuat situs baru untuk menggantikan domain yang telah ditutup.
Karena itulah, penyidik kali ini menargetkan server utama yang menopang operasi tersebut. Dengan memutus akses ke infrastruktur dasarnya, aparat berupaya mempersulit kelompok penipu membangun kembali situs palsu dan menghubungi korban lama.
Secara keseluruhan, kejaksaan memperkirakan kerugian akibat jaringan tersebut mencapai puluhan juta dolar AS. Namun, dari jumlah itu, dana curian yang berhasil disita sejauh ini baru sekitar US$300.000.
Kasus ini sekaligus memperlihatkan bagaimana korban penipuan kripto dapat menjadi sasaran kejahatan lanjutan ketika berusaha mencari jalan untuk memperoleh kembali aset mereka.
Dalam peringatan resmi FBI pada Juli 2026, otoritas tersebut juga menjelaskan bahwa pelaku recovery scam kerap menyamar sebagai pihak berwenang atau layanan pemulihan dana untuk mendekati orang yang sebelumnya telah mengalami kerugian.
FBI menegaskan bahwa Internet Crime Complaint Center (IC3) tidak pernah meminta pembayaran untuk mengembalikan dana yang hilang ataupun mengarahkan korban kepada perusahaan yang memungut biaya pemulihan.
Modus serupa juga telah menjadi perhatian di Indonesia. Sebagaimana diberitakan Blockchainmedia terkait penertiban pedagang kripto ilegal, penipuan berkedok pemulihan dana termasuk salah satu pola kejahatan digital yang perlu diwaspadai masyarakat.
Sementara itu, penyelidikan kasus Brooklyn masih berlanjut. Kejaksaan setempat menyatakan terus mengupayakan pengamanan dan pemulihan lebih banyak aset yang dicuri dari para korban.
Pengungkapan ini memperlihatkan sisi lain penipuan kripto yang semakin kompleks. Pelaku tidak selalu berhenti setelah berhasil mengambil uang investor, tetapi dapat kembali mendekati korban dengan menawarkan solusi atas kerugian yang justru mereka timbulkan sendiri.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


