Pasar kripto kembali menarik setelah kapitalisasi totalnya mendekati US$3,7 triliun, melonjak dibandingkan tahun lalu. Peningkatan ini membuat banyak investor optimistis terhadap prospek jangka panjang aset digital. Namun, di balik kenaikan tersebut, tersimpan sinyal yang justru perlu diwaspadai.
Kapitalisasi Naik, Volume Perdagangan Justru Turun
Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis Matrixport pada Rabu (12/11/2025) bertajuk “Silent Liquidity Risk: Crypto Market Cap Surged, Trading Volumes Didn’t”, pasar kripto dalam 12 bulan terakhir menunjukkan fenomena yang mengkhawatirkan: kapitalisasi meningkat, namun volume perdagangan menurun.
Data mencatat, kapitalisasi pasar kripto melonjak dari US$2,4 triliun menjadi US$3,7 triliun. Di sisi lain, volume perdagangan harian anjlok hampir 50 persen, dari US$352 miliar menjadi US$178 miliar, menciptakan kondisi yang disebut silent liquidity risk atau risiko likuiditas senyap.
“Perbedaan ini mungkin menunjukkan partisipasi saat ini yang lebih terbatas dan momentum yang melemah, sehingga perlu diwaspadai jika kondisi ini terus berlanjut,” tulis Matrixport dalam laporannya.

Situasi ini dinilai bisa menjadi indikasi awal fase mini-bear bagi Bitcoin maupun pasar kripto secara keseluruhan. Dalam kondisi likuiditas rendah, tekanan jual kecil saja dapat memicu koreksi tajam, terutama bila sentimen pasar tidak segera pulih.
Matrixport turut menyoroti bahwa aktivitas on-chain dan pendapatan biaya di crypto exchange masih lesu, menandakan partisipasi ritel belum pulih. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa fundamental belum terlalu kuat, meskipun kapitalisasi meningkat di permukaan.
Puncak Bitcoin Bisa Jadi Sudah Terbentuk
Sinyal serupa juga muncul dari analisis on-chain yang dirilis oleh Ali Martinez. Grafik bertajuk “Bitcoin: Price Performance Since Cycle Low” memperlihatkan perbandingan performa Bitcoin terhadap beberapa siklus sebelumnya: 2015–2018, 2018–2022, dan siklus berjalan 2022+.
Mengingat Bitcoin kerap menjadi tolak ukur utama kondisi pasar kripto, arah dan tren pergerakan aset digital lain umumnya akan mencerminkan pola yang sama dengan performa harga BTC.
Dalam grafik tersebut, performa Bitcoin pada siklus saat ini (garis hitam) mulai mendatar dan membentuk pola yang menyerupai puncak, sebagaimana yang terjadi pada dua siklus sebelumnya.

Pola historis menunjukkan bahwa puncak pasar biasanya terbentuk sekitar dua tahun setelah fase dasar (bottom), sebelum memasuki tren penurunan jangka menengah hingga panjang.
Jika pola tersebut kembali berulang, maka puncak harga Bitcoin kemungkinan besar telah tercapai pada akhir Oktober 2025. Setelah periode itu, BTC secara historis cenderung bergerak ke fase konsolidasi atau bahkan awal bear market.
“Puncaknya terjadi pada 26 Oktober, dan tren turun makro saat ini kemungkinan besar sudah dimulai,” tulis Ali Martinez dalam analisanya.
Waspadai Fase Transisi Pasar
Kombinasi antara likuiditas yang melemah dan pola historis yang mirip dengan siklus sebelumnya membuat banyak pihak lebih waspada. Pasar kripto saat ini tampak solid, tetapi partisipasi sebenarnya masih lemah.
Selama pasar crypto belum mencatat kenaikan volume perdagangan yang berarti, risiko koreksi makro tetap tinggi. Dengan ketidakpastian global, akhir 2025 bisa menjadi titik penentu arah pasar berikutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



