Vitalik Buterin kini tak lagi hanya membahas blockchain lewat tulisan teknis. Pendiri Ethereum mulai masuk ke dunia fiksi ilmiah lewat novel sci-fi futuristik bertajuk Veridia yang dipublikasikan melalui blog pribadinya pada Rabu (27/05/2026).
Chapter pertama membawa pembaca ke distopia modern yang dipenuhi AI, reputasi digital, dan pengawasan sosial berbasis skor moral. Bukan perang antargalaksi, ketegangan dibangun lewat algoritma, privasi, dan kontrol sosial.
Lewat gaya yang ringan namun penuh simbol, Vitalik menggambarkan masa depan ketika musik, iklan, hingga perilaku sehari-hari dapat dinilai dan memengaruhi kehidupan ekonomi seseorang.
Veridia dan Dunia yang Menilai Semua Hal
Cerita pada chapter pertama dibuka saat karakter utama bernama Gladias memasuki konser musik menggunakan perangkat identitas digital.
“Proof verified, selamat datang,” ujar mesin penjaga gerbang sesaat sebelum Gladias masuk ke area konser.
Namun konser tersebut ternyata bukan sekadar hiburan biasa. Di dunia Veridia, musik juga bisa memengaruhi pajak dan skor sosial.
Gladias diketahui merupakan bagian dari Order of Steering, kelompok terdesentralisasi yang bertugas menentukan sistem insentif sosial di masyarakat.
Di Veridia, hampir tidak ada hal yang benar-benar dilarang. Tidak ada sensor brutal atau pembungkaman langsung. Sebagai gantinya, masyarakat dikendalikan lewat sistem pajak dan subsidi berbasis perilaku.
Konten yang dianggap mendukung pendidikan, hubungan sehat, dan tanggung jawab sosial mendapat pajak rendah. Sebaliknya, musik yang dinilai mempromosikan kekerasan atau konflik sosial akan dikenai tarif lebih tinggi.
Konsep tersebut menjadi fondasi utama dunia Veridia dalam novel sci-fi karya Vitalik Buterin. Semua keputusan moral perlahan berubah menjadi skor, algoritma, dan penilaian digital.
Saat AI Mulai Mengukur Moralitas
Di tengah konser band metal bernama Dreadknot, Gladias menjalankan tugasnya untuk menentukan apakah musik yang dimainkan berbahaya bagi masyarakat atau hanya sekadar hiburan.
Pendiri Ethereum tersebut menggambarkan lagu Dreadknot sebagai musik yang dipenuhi nuansa kekerasan dan peperangan.
“DENGAN AMARAH DI HATI, KAMI HADAPI MEREKA DAN MENGOYAK DAGINGNYA DENGAN BAJA BERKILAU DAN ANAK PANAH,” teriak vokalis Dreadknot di atas panggung.
Untuk membantu proses audit, Gladias mengaktifkan AI bernama DeepChat. Sistem tersebut mulai mendengarkan konser dan menganalisis lagu secara real-time.
Namun hasilnya tidak sepenuhnya meyakinkan. DeepChat mampu membaca pola, tetapi gagal memahami konteks emosi dan budaya di balik musik tersebut.
Di titik ini, novel mulai terasa seperti kritik halus terhadap dunia modern yang semakin bergantung pada algoritma. Teknologi AI bisa membaca data, tetapi belum tentu memahami manusia sepenuhnya.
Gladias akhirnya memilih Tier 3 atau kategori netral. Keputusan itu terlihat sederhana, tetapi justru memicu kekacauan besar.

Identitas Gladias Bocor di Tengah Konser
Situasi berubah drastis ketika seseorang di tengah kerumunan berteriak, “HEI SEMUA, ITU ANGGOTA ORDER!”
Dalam hitungan detik, konser berubah menjadi perburuan digital. Orang-orang langsung mengangkat perangkat mereka untuk merekam wajah Gladias.
Adegan ini menjadi salah satu bagian paling menegangkan di chapter pertama. Di Veridia, identitas anggota Order sangat dirahasiakan karena siapa pun yang berhasil membongkar identitas mereka akan mendapat hadiah.
Seorang pria misterius bahkan sengaja berlari sebagai umpan demi mengalihkan perhatian massa agar Gladias bisa melarikan diri.
Namun situasi belum selesai. Tepat saat hendak kabur, Gladias dihadang seseorang yang mengarahkan kamera perangkat digital ke wajahnya.
Dengan cepat, Gladias merebut perangkat tersebut lalu berkata, “Hapus semua audio, gambar, dan video dari satu jam terakhir,” tegasnya.
Beberapa detik kemudian, seluruh foto dan video wajahnya langsung terhapus. Adegan tersebut memperlihatkan betapa mahalnya privasi di dunia Veridia.
Meski novel sci-fi Vitalik mengusung tema futuristik ala cyberpunk, situasi tersebut terasa dekat dengan realitas era media sosial saat ini, ketika data digital dapat berubah menjadi alat pengawasan massal.
Ending Menggantung dan Awal Ancaman Baru
Setelah berhasil kabur, cerita berubah lebih tenang ketika Gladias pulang dan berkumpul bersama keluarganya.
Namun bahkan di rumah, dunia Veridia tetap dipenuhi sistem penilaian sosial. Gladias masih menerima voting publik untuk menilai estetika billboard kota hingga iklan minuman.
Vitalik juga menyisipkan konsep quadratic voting, sistem voting matematis yang membuat setiap suara memiliki bobot berbeda berdasarkan intensitas pilihan pengguna.
Semua hal di Veridia terasa diukur dan dinilai. Mulai dari musik, iklan, hingga perilaku sehari-hari masyarakat.
Namun ketenangan Gladias tidak berlangsung lama. Tepat sebelum chapter pertama berakhir, perangkatnya menerima pesan anonim misterius.
“Aku melihatmu di konser itu, aku tahu kamu bagian dari Order,” tulis sosok anonim dalam pesan tersebut.
Pesan tersebut langsung menjadi cliffhanger. Gladias yang sebelumnya berhasil menghapus seluruh jejak digitalnya ternyata masih diawasi seseorang.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua kembali muncul.
“Jangan khawatir, aku tidak berniat melaporkanmu demi hadiah itu. Tapi, ada satu permintaan yang ingin kusampaikan,” tambahnya.
Ending tersebut membuat chapter pertama novel sci-fi karya pendiri Ethereum itu terasa menggantung sekaligus membuka konflik baru untuk kelanjutan cerita berikutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


