Novel Sci-Fi Vitalik Chapter 2: Ketika Fisika Berubah Jadi Medan Perang

Setelah chapter pertama berakhir dengan pesan anonim misterius yang mengincar Gladias, novel sci-fi karya Vitalik Buterin kini beralih ke sudut pandang karakter baru bernama Zei dan Fin.

Namun alih-alih langsung melanjutkan konflik, chapter ini membawa pembaca menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat Dzego, sebuah peradaban yang hidup di bawah ancaman pengawasan, perang, dan sabotase teknologi.

Meski diawali dengan suasana yang tenang, chapter kedua perlahan mengungkap bagaimana ilmu pengetahuan, kriptografi, dan pendidikan menjadi senjata penting dalam mempertahankan kebebasan.

Seperti pada chapter pertama, pendiri Ethereum tersebut kembali menyisipkan banyak gagasan tentang teknologi dan tata kelola masyarakat ke dalam cerita tanpa terasa menggurui.

Dzego dan Kota yang Dibangun untuk Bertahan Hidup

Cerita pada novel sci-fi karya Vitalik dibuka ketika Zei dan Fin berjalan menyusuri Kin Min Street, salah satu kawasan industri dan teknologi di Pafogai Du.

Novel Sci-Fi Vitalik Buterin Chapter 1: Ketika AI Mengawasi Warga

Di sepanjang jalan, berbagai toko menjual sensor, perangkat elektronik, hingga material khusus untuk menghalangi transmisi sinyal nirkabel.

Menariknya, dua toko yang berdampingan justru menjual produk yang bertolak belakang. Satu toko menjual berbagai alat pemantauan, sementara toko di sebelahnya menjual material untuk menghindari pemantauan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Kontras tersebut menggambarkan filosofi utama Dzego yang terus muncul sepanjang chapter kedua pada novel fiksi Vitalik Buterin.

Privasi dan transparansi terus berjalan berdampingan. Pengawasan dan juga perlindungan privasi tumbuh secara bersamaan.

Di antara kedua toko itu bahkan terdapat papan bertuliskan “Underground Safe Place“, lokasi perlindungan bawah tanah yang menjadi bagian dari strategi bertahan hidup masyarakat Dzego.

BACA JUGA:  Vitalik Buterin: Teknologi AI Akan Mengubah Dunia Kripto

Vitalik menggambarkan bahwa selama puluhan tahun Dzego menerapkan prinsip “grow roots, no head” atau tumbuh dengan akar yang kuat tanpa bergantung pada satu pemimpin pusat.

Sekolah Rahasia dan Kekuatan Kriptografi

Dalam perjalanan menuju kelas, Zei menerima notifikasi berisi lokasi ruang belajar yang baru saja didekripsi oleh sistem.

Lokasi kelas ternyata tidak diumumkan jauh-jauh hari, melainkan dikirim sesaat sebelum pelajaran dimulai.

Bahkan ketika sudah tiba, ruang kelas kembali dipindahkan secara mendadak.

Awalnya hal tersebut tampak seperti prosedur keamanan yang berlebihan.

Namun pencipta Ethereum itu sengaja menanamkan petunjuk bahwa ancaman terhadap Dzego jauh lebih serius daripada yang terlihat.

Setibanya di kelas, pembaca diperkenalkan pada salah satu elemen paling menarik dalam chapter ini, yakni cara masyarakat Dzego memandang pendidikan.

Dinding ruang kelas dilapisi material anti-transmisi sinyal. Di bagian depan ruangan terpampang slogan:

“Satu orang yang belajar akan membebaskan dirinya. Sebuah bangsa yang belajar akan menjadikan bangsanya besar,” demikian bunyi motto DU.

Kalimat tersebut seolah menjadi tema utama chapter kedua.

Jika pada chapter pertama fokusnya adalah moralitas dan sistem sosial, kali ini Vitalik mengangkat ilmu pengetahuan sebagai alat pembebasan.

Vitalik Buterin Menjelaskan Entropy Lewat Cerita

Bagian terbesar chapter kedua diisi oleh pelajaran fisika tentang entropy.

Alih-alih menggunakan pendekatan rumit, Vitalik menjelaskan konsep tersebut melalui ilustrasi dua tabung gas dengan suhu berbeda.

BACA JUGA:  Novel Sci-Fi Vitalik Buterin Chapter 1: Ketika AI Mengawasi Warga

Semakin banyak informasi yang tidak diketahui tentang posisi dan pergerakan partikel, semakin tinggi entropy sistem tersebut.

Melalui diskusi di kelas, Zei bahkan berhasil menjelaskan hubungan antara entropy, teori informasi, dan kompresi data.

Di sinilah gaya khas pendiri Ethereum tersebut kembali terasa.

Konsep ilmiah yang biasanya hanya ditemukan dalam buku fisika atau kriptografi diubah menjadi dialog yang ringan dan mudah diikuti.

Bahkan pembahasan tentang hukum termodinamika kedua perlahan berubah menjadi diskusi mengenai informasi, pengetahuan, dan keterbatasan manusia dalam memahami dunia.

Secara tidak langsung, pelajaran fisika tersebut juga menjadi metafora bagi kondisi politik yang saat ini sedang dihadapi Dzego.

Ledakan Mendadak Mengubah Segalanya

Tepat ketika diskusi fisika mencapai puncaknya, situasi berubah drastis.

Suara ledakan besar tiba-tiba mengguncang bangunan.

Sebagian dinding dan lantai ruang kelas runtuh hanya dalam hitungan detik.

“Kerja bagus, Nak. Siapa namamu?”

“Zei.”

“Baiklah, Zei, kamu berhasil memaha—”

Kalimat sang instruktur terputus oleh ledakan yang menghancurkan sebagian ruangan.

Adegan tersebut menjadi momen paling menegangkan sepanjang chapter kedua.

Zei langsung menyadari bahwa seluruh prosedur keamanan yang selama ini mereka jalani ternyata bukan formalitas semata.

Vitalik Buterin Ubah Haluan, Kini Jadi Penulis Novel Sci-Fi

Perubahan lokasi kelas secara mendadak, penggunaan kriptografi, hingga lapisan anti-transmisi sinyal ternyata dibuat untuk menghadapi ancaman nyata.

Untuk pertama kalinya, konflik antara Dzego dan Arctic Empire tidak lagi terasa seperti isu politik yang jauh.

BACA JUGA:  Data Ini Ungkap Kondisi Tak Biasa pada XRP, Analis Bidik Target Reli ke US$17

Perang tersebut kini benar-benar masuk ke ruang kelas.

Ancaman Baru dari Arctic Empire

Setelah memastikan tidak ada korban serius, para siswa mulai membersihkan puing-puing yang tersisa.

Di sinilah Vitalik mengungkap inti konflik yang lebih besar pada novel karyanya.

Menurut instruktur, tujuan Arctic Empire bukan sekadar menguasai wilayah Dzego.

Mereka ingin memastikan Dzego tidak pernah kembali menjadi kekuatan teknologi yang mampu menantang dominasi mereka.

Sebagai balasannya, Dzego mengembangkan strategi yang unik.

Alih-alih membangun sistem yang bergantung pada satu pemimpin atau satu pusat industri besar, mereka menyebarkan kemampuan produksi, energi, pertanian, hingga pengambilan keputusan ke berbagai jaringan terdesentralisasi.

Kriptografi menjadi fondasi utama sistem tersebut.

Menjelang akhir chapter, instruktur bahkan mengingatkan bahwa musuh mereka kemungkinan mulai memahami strategi tersebut.

Pernyataan itu langsung mengubah suasana menjadi jauh lebih serius.

Chapter kedua ditutup dengan kalimat yang terdengar sederhana tetapi sarat makna.

“Dzego akan bangkit kembali,”.

Tidak ada cliffhanger pesan misterius seperti chapter pertama. Namun ending kali ini terasa lebih mengkhawatirkan karena pembaca kini mengetahui bahwa perang yang selama ini hanya dibicarakan ternyata benar-benar sedang berlangsung.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait