NYSE Dorong Trading Saham Tokenisasi, Sistem Trading Akan Berubah?

New York Stock Exchange (NYSE) mulai membuka jalur baru bagi perdagangan aset digital dengan mendorong model tokenisasi saham di pasar modal AS.

Langkah ini muncul setelah bursa terbesar di dunia itu mengajukan perubahan mekanisme perdagangan untuk memungkinkan versi digital dari saham dan exchange-traded fund (ETF) diperdagangkan dalam sistem yang sama dengan aset biasa.

Skema ini menandai fase baru integrasi teknologi blockchain ke jantung pasar keuangan tradisional atau Wall Street.

Rencana tersebut akan berjalan melalui program percontohan tokenisasi selama tiga tahun yang difasilitasi Depository Trust Company. Dalam skema itu, sekuritas yang memenuhi syarat akan memiliki karakteristik identik dengan versi tradisionalnya, termasuk ticker, kode identifikasi CUSIP, serta hak ekonomi seperti dividen dan hak suara.

Dengan begitu, investor yang memegang versi digital tetap memiliki kepemilikan yang setara dengan pemegang aset fisik.

BACA JUGA:  Bitcoin Hari Ini Jadi Sorotan saat Saham dan Obligasi Kian Seirama

Langkah ini menjadi penting karena memperlihatkan bagaimana teknologi blockchain mulai diintegrasikan ke infrastruktur pasar modal tanpa mengubah mekanisme inti perdagangan.

Perdagangan versi digital dan versi biasa akan masuk ke order book yang sama, mendapatkan prioritas eksekusi yang sama, dan tetap mengikuti alur transaksi pasar yang berlaku saat ini.

Model Hybrid Jadi Jalur Baru Bursa Modern

Dalam implementasinya, versi tokenisasi dan fisik ditempatkan dalam satu ekosistem perdagangan yang sama agar likuiditas tidak terpecah ke pasar terpisah. Ini menjadi pembeda utama dibanding model tokenisasi di sektor aset digital sebelumnya yang kerap membentuk pool likuiditas baru di luar bursa utama.

Sistem penyelesaian transaksi juga masih menggunakan jalur tradisional melalui Depository Trust Company dengan skema T+1. Artinya, blockchain hanya berfungsi sebagai lapisan representasi aset, bukan sebagai sistem pengganti clearing dan settlement.

Model hybrid ini dinilai menjadi pendekatan paling realistis dalam transisi pasar keuangan menuju digitalisasi. Infrastruktur lama tetap dipertahankan untuk menjaga kepastian operasional, sementara teknologi baru mulai dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi administrasi aset dan proses perdagangan.

BACA JUGA:  Efek Cuitan Elon Musk, Kripto ASTEROID Naik 356 Persen Hari Ini

“Versi token dan versi tradisional akan diperdagangkan dalam order book yang sama dengan prioritas eksekusi yang sama,” demikian penjelasan dalam dokumen program percontohan tersebut.

Tokenisasi Aset Bisa Meluas ke Instrumen Lain

Dorongan perdagangan tokenisasi saham ini juga dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi ekspansi aset digital berbasis dunia nyata (RWA). Setelah saham dan ETF, model serupa berpotensi diterapkan pada obligasi, unit reksa dana, hingga produk investasi institusional lainnya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Wall Street mulai memandang blockchain bukan lagi sebagai eksperimen teknologi, tetapi sebagai infrastruktur pendukung untuk sistem keuangan modern.

Dalam konteks lebih luas, adopsi tokenisasi dapat mempercepat distribusi aset, meningkatkan transparansi pencatatan, dan membuka efisiensi baru dalam pengelolaan instrumen investasi.

Jika program ini berjalan sesuai rencana dalam tiga tahun ke depan, pasar modal global berpotensi memasuki fase transformasi baru, di mana aset tradisional dan aset digital tidak lagi berjalan terpisah, tetapi berdampingan dalam satu sistem perdagangan yang sama.

BACA JUGA:  OCBC Jajaki RWA, Emas Kini Masuk Blockchain Lewat GOLDX

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait