OJK Genjot Bursa Karbon, Blockchain Jadi Bagian Transformasi

Dorongan besar mulai terlihat di pasar karbon Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan revisi aturan yang diyakini bisa mengubah wajah bursa karbon, bukan hanya dari sisi regulasi tetapi juga lewat sentuhan teknologi seperti blockchain.

Revisi Aturan Jadi Katalis Pertumbuhan Pasar Karbon

Mengacu pada laporan Liputan6 pada Kamis (21/05/2026), OJK menilai revisi aturan bursa karbon akan mendorong peningkatan aktivitas pasar. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyebut bahwa potensi pasar karbon Indonesia sangat besar.

Saat ini, nilai transaksi bursa karbon Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan pasar global seperti Uni Eropa dan China. Namun, justru di situlah ruang pertumbuhannya terbuka lebar, dan hal ini tengah digenjot OJK melalui berbagai perbaikan.

“Terkait dengan bursa kenapa saat ini masih kecil ya, masih Rp98,7 miliar angkanya perdagangan, justru dengan adanya revisi ini harapannya ini nanti angkanya bisa semakin besar ya dengan perbaikan yang dilakukan supaya ini bisa semakin rame gitu ya,” ujar Friderica dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI.

BACA JUGA:  OJK: Anak Muda Boleh Main Kripto, Tapi Jangan Nekat

Dengan kata lain, revisi aturan ini bukan sekadar penyesuaian teknis. OJK ingin menciptakan ekosistem yang lebih hidup, likuid, dan menarik bagi investor, baik domestik maupun global.

Blockchain Jadi Bagian Transformasi 

Menariknya, salah satu poin penting dalam revisi ini adalah penguatan sistem registry karbon berbasis teknologi desentralisasi, termasuk blockchain. Teknologi ini dinilai mampu membawa transparansi ke level berikutnya.

Belajar Teknologi Blockchain untuk Pemula, Begini Penjelasannya!

Melalui inovasi blockchain, data transaksi dan pencatatan unit karbon bisa diakses secara real-time. Hal ini berarti risiko manipulasi data atau pencatatan ganda dapat diminimalisir, sementara kepercayaan pasar berpotensi meningkat.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

OJK bersama kementerian dan lembaga terkait juga tengah membangun Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) yang terhubung dengan platform perdagangan seperti IDXCarbon. Integrasi ini diharapkan dapat mempercepat proses transaksi sekaligus meningkatkan likuiditas.

BACA JUGA:  OJK: Industri Kripto Perlu Perkuat SDM dan Keamanan Siber

“Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) ini akan terhubung di dalam bursa karbon ini, sehingga memudahkan dan harapannya ini menjadi untuk mengakselerasi perdagangan karbon supaya menjadi seperti yang kita harapkan, ukuran pasar menjadi semakin besar,” jelasnya.

Masuknya teknologi blockchain ke dalam bursa karbon bukan sekadar adopsi biasa. Ini adalah langkah strategis untuk membangun fondasi pasar yang lebih kredibel dan efisien, mirip dengan standar yang sudah diterapkan di bursa efek.

Jika implementasi ini berjalan mulus, blockchain berpotensi menjadi game changer. Proses verifikasi kredit karbon bisa lebih cepat, biaya transaksi ditekan, dan akses pasar menjadi lebih luas.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait