OJK: Industri Kripto Perlu Perkuat SDM dan Keamanan Siber

Industri kripto terus berkembang, didorong oleh inovasi dan adopsi yang semakin luas. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul satu tantangan besar yang tak bisa diabaikan: keamanan siber dan kesiapan sumber daya manusia.

Industri Kripto Wajib Perkuat Keamanan Siber

Melalui siaran pers yang dirilis pada Jumat (30/04/2026), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan siber industri keuangan digital nasional, termasuk sektor kripto.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menegaskan bahwa ancaman siber kini tidak lagi bisa dipandang sebagai isu teknis semata.

“Keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan prasyarat utama bagi keberlanjutan industri keuangan digital,” ujarnya dalam workshop yang digelar di Jakarta.

Ia menjelaskan, dalam ekosistem yang terhubung, satu serangan siber dapat menimbulkan dampak luas. Tidak hanya merugikan satu institusi, tetapi juga berpotensi mengguncang reputasi, kepercayaan, dan stabilitas seluruh industri, termasuk sektor kripto.

Hacker Bobol Bank Jambi, Rp19 Miliar Dana Berakhir di Kripto

Karena itu, OJK mendorong pergeseran pendekatan dari sekadar compliance menuju resilience-based security. Artinya, keamanan siber harus menjadi bagian integral dari strategi bisnis, manajemen risiko, hingga perlindungan konsumen.

BACA JUGA:  Circle Gaspol Pembayaran Stablecoin ke Asia, Bakal Ganggu Bank?

“Kepercayaan adalah mata uang utama dalam ekonomi digital. Kecepatan inovasi harus berjalan seiring dengan kekuatan pengamanan. Tanpa keamanan siber yang memadai, inovasi justru dapat berubah menjadi sumber kerentanan baru,” tambah Adi.

Peran Krusial SDM dalam Keamanan Kripto

Tak hanya teknologi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya kualitas SDM dalam menjaga keamanan industri kripto. Sistem secanggih apa pun tidak akan efektif tanpa tim yang kompeten dan siap menghadapi ancaman.

Workshop pada 27–29 April 2026 melibatkan berbagai pelaku keuangan digital, termasuk sektor kripto. Mayoritas peserta berasal dari jajaran direksi, menandakan isu ini sudah menjadi perhatian strategis.

Dalam kegiatan tersebut, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyoroti konsep human firewall. Deputinya, Slamet Aji Pamungkas, menyebut karyawan sebagai lini pertahanan pertama terhadap phishing dan malware.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini Naik Tipis, Bertahan di Rp1,13 Miliar

Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai elemen kunci. Dengan pelatihan dan kesadaran yang tepat, ancaman dapat dideteksi lebih dini sebelum berkembang menjadi insiden besar.

Selain itu, OJK mendorong kolaborasi lintas lembaga agar pengelolaan risiko siber lebih terpadu dan stabilitas sistem keuangan digital tetap terjaga.

Arah Baru Industri Kripto

Lebih jauh, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa industri kripto tidak boleh hanya fokus pada inovasi layanan. Pertumbuhan perlu diimbangi dengan ketahanan, terutama di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman siber.

Deputi Komisioner Sumber Daya Manusia OJK, Irnal Fiscallutfi, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang untuk memperkuat kapasitas industri secara menyeluruh. Fokusnya mencakup peningkatan kesadaran serta kemampuan dalam merespons dan memulihkan diri dari insiden siber.

FBI dan Polisi RI Ungkap Sindikat Phishing yang Jual 25.000 Akun

Pada akhirnya, pesan OJK cukup jelas. Masa depan industri kripto tidak hanya ditentukan oleh inovasi, tetapi juga oleh kekuatan fondasi keamanannya. Tanpa hal tersebut, kepercayaan yang menjadi “mata uang utama” dapat runtuh dalam waktu singkat.

BACA JUGA:  Andai Selat Malaka Ikuti Tarif Kripto ala Hormuz, Segini Pendapatan RI

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait