Kemarin, 11 November 2020, perubahan pada kode inti blockchain Ethereum dilakukan “secara senyap” oleh sejumlah developer, mengakibatkan terjadinya hard fork. Secara teknis Ethereum pun jadi bercabang alias splitted, memunculkan satu versi chain baru. Developer beralasan, perbaikan “consensus bug” itu sangat penting demi menghindari kondisi lebih buruk.

“Secara efektif blockchain Ethereum pun splitted (bercabang), di mana sejumlah simpul jaringan meng-upgrade perubahan itu dan sebagian lagi tidak. Tentu saja ini adalah masalah besar bagi pengguna Ethereum, sekaligus memberikan pelajaran, bahwa tidak semua blockchain dibuat sama, khususnya membandingkan dengan blockchain Bitcoin,” sebut Christian Keroles, Redaktur di Bitcoin Magazine, melalui surel, kemarin.

Bahkan Péter Szilágyi, anggota tim inti pengembang blockchain Ethereum mengakui itu sebagai “unannounced hard fork“.

“Secara teknis ini Anda benar bahwa itu adalah “unannounced hard fork’. Meskipun demikian, memperbaiki bug yang tidak aktif selama lebih dari 2 tahun secara diam-diam memiliki peluang yang jauh lebih rendah untuk menyebabkan gangguan daripada meningkatkan kesadaran akan bug tersebut. Kami berusaha untuk meminimalkan potensi kerusakan,” katanya di Twitter, menanggapi komentar Nikita Zhavoronkov dari Blockhair.
Keterangan resmi pihak developer bisa dibaca selengkapnya di sini.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

BERITA TERKAIT  Pengguna DANA Kini Bisa Beli Bitcoin di Triv

Menurut Keroles, Pertama, beberapa pengembang Ethereum membuat perubahan pada inti Ethereum yang mengakibatkan blockchain bercabang, yang dimulai dari block ke-11.234.873 (pukul 07:08 UTC).

Kedua, pihak-pihak yang belum meng-upgrade, seperti Blockchair, Infura, sejumlah penambang dan banyak lagi, terjebak di ‘minority chain‘. Secara teknis itu adalah hard fork yang tidak diumumkan kepada publik, kata Keroles.

“Menurut saya konsensus blockchain Ethereum saat ini telah gagal dan tidak tidak dapat dianggap remeh. Bahkan harus dianggap sebagai masalah serius, sejak kasus DAO 4 tahun lalu, yang juga mengakibatkan bercabangnya Ethereum, yakni satu menjadi Ethereum Classic. Penyelidikan harus segera digelar,” tuntut Keroles.

Menurutnya, “gerakan senyap” itu membawa dampak buruk terhadap ekosistem Ethereum. Sejumlah bursa aset kripto besar, seperti Binance dan Bithumb sempat menghentikan penarikan aset kripto Ether (ETH) dan token ERC-20.

Yang lebih parah adalah Infura, penyedia layanan simpul Ethereum yang memiliki banyak klien kelas wahid. Mereka gagal menghadapi perubahan itu. Tak heran wallet popular MetaMask pun tak akhirnya lumpuh.

“Saya rasa ini adalah kecerobohan oleh pengembang Ethereum, sehingga banyak pihak merasakan dampak buruknya,” kata Keroles.

Dilansir dari blog Infura kemarin, pihaknya mengakui bahwa perubahan besar itu memang tidak diberitahu oleh pihak pengembang Ethereum, sehingga melumpuhkan layanan Infura.

BERITA TERKAIT  Bitcoin Bisa Gantikan Emas sebagai Aset Safe Haven

Consensus bug yang memengaruhi versi Geth (v.1.9.9) dan (v1.9.13) yang digunakan untuk beberapa sistem internal menyebabkan sinkronisasi block terhenti di beberapa subsistem tersebut… Karena kekhawatiran adanya stabilitas, kompatibilitas dan rumitnya proses, kami merasa harus berhati-hati saat memperbarui node kami. Jika sebelumnya kami tahu ada consensus bug, kami tentu saja akan segera memperbarui. Namun, dalam hal ini, kami tidak mengetahui adanya masalah consensus pada Geth v1.9.9 dan v1.9.13,” sebut Infura menjelaskan duduk perkaranya.

Terpantau petang ini, layanan Infura kembali normal, menandakan mereka sudah meng-upgrade ke versi terbaru Ethereum.

Menurut Keroles, sedikit di komunitas Ethereum yang memahami, pembaruan kode itu adalah pembaruan biasa. Lagipula banyak yang menemukan versi baru itu tidak stabil. Itulah sebabnya beberapa penyedia, seperti Infura tidak meng-upgrade-nya.

“Karena upgrade itu tidak diumumkan sebagai ‘hard fork‘, pengguna merasa mereka memiliki lebih banyak pilihan untuk meningkatkan atau tetap menggunakan versi yang lebih lama dan bahwa jikalau pun tidak meng-upgrade, tidak akan mengakibatkan pencabangan,” sebut Keroles.

Bitcoin versus Ethereum
Keroles tampak sangat kritis terkait peristiwa itu. Katanya, tidak seperti Bitcoin, komunitas Ethereum dan pengembangnya sering berkoordinasi soal hard fork yang tidak kompatibel.

“Ini adalah praktik yang menekankan kontrol terpusat mereka terhadap jaringan dan meminimalkan peran masing-masing, termasuk pengeloal node. Hal lainnya, hal itu dipandang oleh banyak ‘Bitcoiner’ sebagai kompromi utama terhadap integritas jaringan,” jelasnya.

Keroles pun mengajukan pertanyaan ini: Apa yang akan terjadi pada Ethereum jika tim pengembang disusupi dan merilis kode yang dapat merusak jaringan? Adakah yang akan mengauditnya? Jika itu menyebabkan blockchain bercabang, versi manakah yang merupakan Ethereum asli, jaringan lama atau yang baru?

Berupaya membandingkan, sebut Keroles, pengembang protokol Bitcoin Core mengambil setiap tindakan pencegahan yang diperlukan untuk tidak pernah mengenalkan critical bug dan semua perangkat lunak dirancang khusus agar kompatibel untuk versi sebelumnya.

“Ada banyak contoh bug kecil ini sepanjang sejarah Bitcoin, namun, budayanya lebih ketat untuk meminimalkan masalah ini dengan peninjauan kode yang lebih teliti,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT  Huobi Tawarkan Keunggulan Teknologi kepada Pengguna Indonesia

Bitcoin sendiri pernah mengalami hal serupa pada 7 tahun silam, di mana terdapat bug yang memungkinkan adanya double spending BTC di Bitcoin Core.

Namun, “operasi senyap” langsung dilakukan untuk memperbaiki itu, yang dipimpin oleh Gavin Andresen. [red]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO