Pasar Bitcoin (BTC) saat ini menunjukkan tanda-tanda stabilitas di tengah tekanan jual yang menurun, namun sejumlah indikator on-chain memperingatkan potensi koreksi besar jika level harga tertentu ditembus.
Berdasarkan analisis terbaru dari Arab Chain di CryptoQuant, BTC tengah diperdagangkan di kisaran US$105.000, berada di bawah indikator moving average (MA) yang tercatat di level US$112.245. Kondisi ini mencerminkan adanya perlambatan momentum kenaikan harga setelah reli singkat dalam beberapa pekan terakhir.
Indikator unrealized loss atau kerugian yang belum direalisasi berada pada level 0,06, tergolong rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil trader yang memegang Bitcoin dalam posisi rugi, sementara mayoritas investor memiliki basis harga beli di sekitar atau di bawah harga saat ini.
“Pasar belum memasuki fase kerugian besar atau tekanan jual masif, melainkan masih berada dalam fase konsolidasi,” jelas Arab Chain.
Faktor yang Dapat Menjadi Pemicu Koreksi BTC
Di sisi lain, analis on-chain Ali Martinez melalui data Glassnode memberikan pandangan tambahan tentang struktur pasar BTC berdasarkan indikator UTXO Realized Price Distribution (URPD).
Grafik URPD menggambarkan di mana sebagian besar pemegang Bitcoin melakukan pembelian, sehingga membantu mengidentifikasi zona support dan resistance di pasar.
Martinez mencatat bahwa area di bawah US$104.800 menunjukkan support yang kian menipis, menandakan volume transaksi atau kepemilikan di bawah harga tersebut sangat kecil.
Kondisi ini dinilai berisiko karena jika harga BTC menembus di bawah level tersebut, zona akumulasi yang minim dapat mempercepat tekanan jual. Dengan kata lain, hanya sedikit pembeli yang siap menahan penurunan harga di area tersebut.
Sebaliknya, di atas US$104.800 terdapat konsentrasi kepemilikan yang lebih kuat, menjadikan kisaran ini sebagai benteng pertahanan utama jangka pendek bagi pasar Bitcoin.
Dalam konteks historis, Martinez mengingatkan bahwa pola serupa pernah terjadi pada 2022 dan 2023.
Saat itu, lonjakan pada rasio kerugian yang belum direalisasi sering kali menandai terbentuknya titik dasar harga (price bottom) yang kuat dan menjadi peluang beli menarik.
Namun saat ini, rendahnya rasio kerugian justru mengindikasikan pasar yang seimbang namun rentan terhadap pergerakan mendadak, tergantung pada arah katalis berikutnya.
Investor Jangka Panjang Masih Tenang, Tapi Risiko Meningkat
Meskipun harga berada di bawah moving average, rendahnya tingkat kerugian belum direalisasi menunjukkan bahwa investor jangka panjang belum menunjukkan tanda-tanda panik. Mereka tampaknya masih menahan posisi, menunggu sinyal teknikal yang lebih jelas.
Namun, jika harga jatuh di bawah ambang psikologis US$100.000, Arab Chain memperingatkan bahwa hal tersebut dapat memicu peningkatan mendadak pada indikator kerugian dan menandai awal dari koreksi pasar yang lebih luas.
Analis tersebut menilai dinamika ini menggambarkan fase pasar Bitcoin yang tenang namun penuh potensi pergeseran arah. Selama harga belum mampu menembus kembali di atas rata-rata pergerakan utama, potensi pemulihan tampak terbatas.
Sebaliknya, pelemahan di bawah zona support kunci berpotensi membuka ruang bagi volatilitas baru, terutama jika dipicu oleh tekanan makroekonomi atau aksi jual besar dari institusi.
Secara keseluruhan, pasar BTC tengah memasuki periode ketidakpastian terukur, di mana optimisme jangka panjang masih terjaga tetapi rentan terhadap gejolak jangka pendek.
Dengan tingkat akumulasi yang relatif rendah di bawah area US$104.800 dan minimnya tekanan jual dari pemegang lama, banyak pelaku pasar kini menunggu arah berikutnya, apakah menuju pemulihan stabil atau koreksi tajam yang bisa mengubah lanskap harga dalam waktu dekat. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



