Kondisi pasar crypto kembali menjadi bahan perbincangan setelah mengalami tekanan tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam video terbarunya, kanal YouTube Altcoin Buzz membahas secara terbuka situasi yang dinilai “tidak nyaman” bagi banyak investor. Penurunan harga yang beruntun, volume transaksi yang melemah, serta meningkatnya likuidasi membuat banyak pihak bertanya-tanya, apakah pasar crypto sedang memasuki fase kritis, atau hanya melewati badai sementara?
Host Altcoin Buzz, Maddie, menegaskan bahwa kondisi saat ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Menurutnya, ada beberapa faktor besar yang saling berkaitan dan memengaruhi arah pasar crypto dalam jangka pendek.
Likuiditas Rendah dan Dampak Carry Trade Jepang
Salah satu benang merah utama yang disorot adalah masalah likuiditas. Dalam beberapa bulan terakhir, aliran dana ke aset berisiko, termasuk crypto, terpantau menyusut. Uang tidak lagi mengalir bebas seperti pada periode euforia sebelumnya.
Di sisi lain, Maddie menyinggung peran carry trade Jepang. Selama lebih dari satu dekade, Jepang mempertahankan suku bunga mendekati nol persen. Kondisi ini membuat banyak institusi meminjam yen murah, mengonversinya ke dolar AS, lalu menginvestasikannya ke berbagai aset berisiko, termasuk saham dan crypto.
Namun demikian, ketika suku bunga Jepang mulai naik, strategi ini menjadi kurang menguntungkan. Banyak pelaku besar mulai “menggulung tikar” atau menutup posisi mereka. Proses ini memicu penarikan dana besar-besaran dari berbagai pasar, termasuk pasar crypto.
Situasinya bisa dianalogikan seperti pom bensin yang mulai kehabisan stok. Ketika pasokan menipis, antrean panjang terbentuk, dan kendaraan yang datang belakangan harus rela menunggu lebih lama. Dalam konteks ini, likuiditas adalah “bahan bakar” utama pasar crypto.
Dugaan Margin Call dan Likuidasi Pemain Besar
Lebih lanjut lagi, Altcoin Buzz membahas kemungkinan terjadinya margin call pada pemain institusional. Margin call terjadi ketika nilai aset jaminan turun drastis, sehingga investor dipaksa menjual asetnya untuk menutup kerugian.
Ada indikasi bahwa satu atau beberapa pihak besar mengalami tekanan serius. Posisi mereka di berbagai instrumen, mulai dari crypto, emas, hingga perak, kemungkinan harus dilepas secara paksa.
Akibatnya, tekanan jual terjadi secara bersamaan di banyak sektor. Bitcoin, misalnya, tercatat turun lebih dari 25 persen dalam satu bulan dan sempat mendekati level US$60.000. Pola lower high dan lower low terus terbentuk, memperlihatkan lemahnya momentum beli di pasar crypto.
Dalam kondisi seperti ini, investor ritel sering kali menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka melihat harga terus turun, lalu panik, tanpa menyadari bahwa tekanan utama justru berasal dari likuidasi pemain besar.
Peran Whale dan Bitcoin ETF
Selain likuiditas, teori lain yang beredar adalah keterlibatan whale dan produk Bitcoin ETF. Maddie menyebut bahwa beberapa dana besar, termasuk dari Hong Kong, diduga menempatkan dana mereka pada Bitcoin ETF milik BlackRock, yaitu IBIT.
Dana-dana ini juga menggunakan strategi lindung nilai melalui opsi dan leverage. Ketika pasar bergejolak dan volatilitas menurun, posisi mereka menjadi rentan. Jika terjadi kerugian di aset lain, penjualan Bitcoin pun menjadi pilihan cepat.
Di sisi lain, ETF kini memegang peran besar dalam pembentukan volume transaksi. CEO Bitwise, Hunter Mosley, pernah menyoroti fenomena ini.
“Volume ETF tinggi dan penjualan paksa mengalir ke tangan institusional,” ujar Mosley.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa ketika investor kecil terpaksa menjual, institusi justru memanfaatkan situasi tersebut untuk mengakumulasi aset. Secara perlahan, kontrol volume di pasar crypto berpindah ke tangan profesional.
Integrasi Crypto dan Pasar Keuangan Tradisional
Namun demikian, dominasi ETF juga membawa konsekuensi lain. Pasar crypto kini semakin terhubung dengan sistem keuangan tradisional. Guncangan di sektor saham, obligasi, atau komoditas bisa langsung berdampak pada aset digital.
Jika sebelumnya crypto dikenal “bergerak sendiri,” kini korelasinya makin terasa. Ketika leverage di Wall Street bermasalah, efeknya bisa menjalar hingga ke Bitcoin dan altcoin.
Kondisi ini membuat pasar crypto menjadi lebih matang, tetapi juga lebih sensitif terhadap gejolak global. Ibaratnya, crypto tidak lagi bermain di “lapangan sendiri,” melainkan ikut bertanding di stadion besar bersama aset lain.
Sentimen Ekstrem dan Peluang di Tengah Ketakutan
Lebih lanjut lagi, Altcoin Buzz menyoroti indeks fear and greed yang sempat jatuh ke level 5, mencerminkan ketakutan ekstrem. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan beberapa fase bearish sebelumnya.
Dalam sejarah pasar crypto, fase ketakutan ekstrem sering kali muncul menjelang titik balik. Saat mayoritas orang pesimistis, sebagian investor justru mulai bersiap mengambil posisi.
Maddie menekankan bahwa banyak aset utama diperdagangkan dengan diskon besar. Ethereum berada di bawah US$2.000, BNB di sekitar US$600, dan Solana di kisaran US$80. Penurunan 30 hingga 50 persen ini membuat sebagian pelaku melihat peluang, bukan hanya risiko.
Namun demikian, keputusan tetap bergantung pada kondisi masing-masing individu. Tidak semua orang memiliki “dry powder” atau dana cadangan untuk memanfaatkan momen ini di pasar crypto.
Strategi Bertahan di Tengah Tekanan
Menjelang akhir videonya, Maddie memberikan pandangan pribadi terkait strategi menghadapi kondisi sulit. Ia menyarankan agar investor tidak terburu-buru melakukan panic selling, terutama jika memegang proyek berkualitas.
Menurutnya, fase koreksi adalah bagian alami dari siklus pasar crypto. Seperti ombak di laut, ada masa tenang, ada pula masa badai. Yang terpenting adalah memahami posisi sendiri sebelum mengambil keputusan.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan agar tidak mempertahankan aset yang fundamentalnya lemah. Dalam situasi tekanan tinggi, proyek tanpa utilitas jelas biasanya paling cepat terpuruk.
Bagi sebagian orang, bertahan dan menunggu mungkin menjadi pilihan terbaik. Bagi yang lain, menata ulang portofolio bisa menjadi langkah realistis.
Apakah Pasar Crypto Akan Mati?
Berdasarkan paparan Altcoin Buzz, tekanan saat ini lebih mencerminkan fase penyesuaian daripada tanda kehancuran permanen. Likuiditas rendah, unwinding posisi besar, serta dominasi ETF memang membuat pasar crypto terasa berat.
Namun demikian, sejarah menunjukkan bahwa crypto berkali-kali bangkit setelah periode sulit. Dari krisis 2018, pandemi 2020, hingga berbagai regulasi ketat, industri ini terus beradaptasi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



