Pasar Kripto Ambruk Gegara Drama Tarif, Ini yang Perlu Kamu Tahu

Pasar global kembali bergejolak setelah ketegangan antara AS dan Tiongkok memanas akibat kebijakan tarif yang kian agresif. Sentimen negatif tak hanya menyelimuti pasar saham, tetapi juga menghantam pasar kripto yang belakangan ini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Dalam sebuah video, analis kripto Lark Davis menyampaikan bahwa situasi ini bahkan menyerupai kekacauan pasar saat pandemi COVID-19, yang kala itu melumpuhkan ekonomi dunia.

Volatilitas Pasar Kripto Mencapai Titik Kritis

Di sisi lain, indeks volatilitas (VIX) melonjak tajam ke angka 45, sebuah angka yang biasanya hanya terlihat saat terjadi krisis besar.

“Ini bisa jadi sinyal bahwa kita makin dekat ke momen pembentukan dasar pasar,” ujar Davis.

Meski belum menyentuh puncak kepanikan seperti saat Maret 2020, lonjakan ini mencerminkan rasa takut yang begitu kuat di kalangan pelaku pasar.

Tiongkok Membalas dengan Tarif Tambahan

Lebih lanjut lagi, imbas dari pengumuman tarif balasan dari Tiongkok, yang mencakup kenaikan tarif hingga 34 persen untuk produk AS dan pembatasan ekspor mineral langka, semakin memperkeruh suasana.

Davis menilai langkah ini sebagai bentuk permainan keras dari Tiongkok. Ia menekankan bahwa negara tersebut tidak akan begitu saja mengalah karena risiko kehilangan muka terlalu besar di hadapan publik internasional.

Bitcoin Menunjukkan Ketahanan, Altcoin Belum Bisa Mengimbangi

Beralih ke pasar kripto, Bitcoin sempat menunjukkan ketahanan yang mengejutkan, sempat naik hingga US$84.500 sebelum akhirnya terkoreksi setelah pengumuman dari Tiongkok.

Menariknya, banyak altcoin justru tidak mampu mengikuti kekuatan Bitcoin. Beberapa kripto besar seperti Solana dan XRP bahkan menunjukkan pola grafik yang cenderung melemah.

“XRP sempat memantul dari EMA 200 hari, tapi kalau jebol, kekacauan bisa terjadi dengan cepat,” ungkap Davis.

Harapan pada Mei dan Juni, Tapi Risiko Masih Besar

Di tengah badai ini, beberapa analis tetap optimistis. Tom Lee, misalnya, masih memprediksi akan terjadi pemulihan berbentuk huruf “V” dalam waktu dekat. Namun demikian, Lark Davis mengingatkan bahwa jalan menuju pemulihan penuh masih sangat bergelombang.

Ia menyebut April 9 sebagai tanggal penting, ketika seluruh tarif timbal balik mulai berlaku dan pasar mungkin mulai menemukan arah baru.

“Kalau benar skenario ini terjadi, bisa jadi kita melihat semacam reli kelegaan di bulan Mei atau Juni,” tambahnya.

Negosiasi Global Mulai Bergerak, Tapi Belum Ada Kepastian

Sementara itu, beberapa langkah diplomatik mulai terlihat. Argentina, misalnya, dikabarkan sedang dalam tahap akhir negosiasi untuk menjadi negara pertama yang diberi perlakuan nol tarif oleh AS.

Ini menunjukkan bahwa tidak semua negara memilih jalur perlawanan seperti Tiongkok atau Uni Eropa. Namun, belum jelas apakah langkah ini akan menjadi preseden bagi negara lain.

Meski suasana kelam menyelimuti pasar, Davis mengingatkan bahwa volatilitas juga membuka peluang. Ia menyarankan para pelaku pasar untuk tetap realistis dan tidak memaksakan masuk terlalu cepat.

“Kita nggak perlu menebak dasar pasar. Tunggu saja tanda pembalikan yang jelas, itu lebih aman,” ujarnya.

Dalam konteks yang lebih luas, Davis menyoroti bahwa seluruh paradigma pasar bisa saja berubah. Pola siklus empat tahunan yang selama ini dipercaya dalam dunia kripto bisa jadi tak lagi relevan di era penuh ketidakpastian ini.

“Mungkin semua indikator on-chain yang dulu kita andalkan sudah nggak berlaku. Ini zaman baru dengan aturan baru,” tutupnya. [st]

Terkini

Warta Korporat

Terkait